
...***...
Rei berusaha mengatur napasnya. Perlahan ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berusaha mencaritahu dimana dia berada.
Sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangannya terang dan Rei bisa melihat dengan jelas setiap benda yang ada di dalam ruangannya.
Ada lebih dari satu meja di dekatnya, dan di atas meja itu ada begitu banyak benda-benda aneh yang sebagian di antaranya terpasang pada tubuhnya. Detik berikutnya, Rei baru sadar bahwa dirinya terbaring di atas meja operasi.
Ceklek!
Pintu terbuka, membuat atensi Rei beralih ke arah datangnya suara. Di ambang pintu, tampak seorang lelaki tua mengenakan jas dokter berwarna putih. Lelaki itu mengenakan kacamata yang cukup tebal di wajahnya.
Lelaki itu perlahan melangkah masuk ke dalam ruangan yang ditempatinya.
"Ternyata kau sudah sadar," ujar lelaki itu seraya membenahi posisi kacamata yang disangga hidung bangirnya. Seulas senyum terbit di antara kerutan wajahnya.
Rei terdiam menatap penuh selidik pada lelaki yang kini berdiri dihadapannya.
"S-siapa kau? Kenapa aku di sini? Lepaskan aku!" teriak Rei sambil memberontak, berusaha membebaskan diri.
"Kau tidak perlu cemas. Kau berada di tempat yang aman, dan aku pasti akan melepaskanmu ketika kau benar-benar sudah siap."
"Apa yang sudah kau lakukan padaku?"
"Haha, melihat dari reaksimu…, pasti kau berpikir aku akan mengoperasimu lalu mengambil salah satu organ tubuhmu untuk di jual kan? Tenang saja. Aku hanya melakukan sedikit perubahan kecil pada tubuhmu. Selebihnya…, organ tubuhmu lengkap."
"A-apa maksudmu? Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Rei kembali memberontak, sementara lelaki itu hanya diam sambil mengulum senyum. Ia terus menatap Rei dari balik kacamatanya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, pria itu berbalik dan melangkah pergi dari ruangan Rei.
"Hey! Jangan pergi! Lepaskan aku?!" Rei berteriak kencang padanya.
Pintu tertutup rapat. Tapi tak selang beberapa saat kemudian kembali terbuka dan Rei melihat lelaki tadi melangkah masuk ke dalam sana.
"Lepaskan aku!" teriak Rei lagi sambil menatap lelaki itu.
Pria itu tampak tenang. Ia menghampiri Rei dengan sebuah jarum suntik dalam genggamannya yang tidak Rei sadari.
Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke arah Rei, membisikan sesuatu di telinganya.
"Tenangkan dirimu!" bisiknya.
Jleb!
Jarum itu menusuk tepat ke arah tangannya yang terikat.
"ARGHH!!" Rei berteriak kesakitan saat benda itu menusuk ke dalam tubuhnya. Terlebih cairan yang masuk ke dalamnya benar-benar terasa panas seolah-olah membakar tubuhnya.
Lelaki itu menarik jarum suntik tersebut. Ia melangkah mundur beberapa kali sampai akhirnya Rei bisa melihat apa yang ada dalam genggamannya.
Rei yang masih dalam keadaan berteriak menahan sakit, menatap lelaki itu lekat. Pandangannya perlahan buram, Rei tidak bisa melihat sosoknya dengan jelas seperti sebelumnya. Tapi walaupun begitu, Rei masih bisa menyadari satu hal yang sejak tadi luput dari perhatiannya.
Rei baru menyadari bahwa lelaki yang baru saja menyuntikkan benda itu ke tubuhnya, adalah pria yang sama sekali berbeda dengan yang tadi datang.
Lelaki yang kini berdiri mengenakan warna pakaian yang berbeda. Walaupun dengan jas yang serupa, tapi Rei bisa menyadarinya. Terlebih, lelaki itu tidak mengenakan kacamata.
Samar-samar Rei melihat senyuman lelaki itu semakin merekah.
Pandangannya semakin kabur sebelum akhirnya, semua hal yang dilihat Rei, berubah menjadi kegelapan.
...***...