Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 506 - Menjalankan rencana



...***...


"Bawa dia!" titah pria itu pada beberapa evolver yang sejak tadi menunggu di luar.


"Baik, tuan." Beberapa evolver itu membungkuk sebelum akhirnya beranjak menghampiri Derek. Membawa tubuhnya yang tak lagi melakukan perlawanan untuk pergi dari sana.



...*...


Jakarta, Indonesia.


Elvina terdiam di dalam ruangannya. Ia terduduk di lantai keramik dingin sembari menunggu Joe datang membuka pintu dan memberikannya makan seperti semalam.


Hanya dirinya yang di sekap di dalam ruangan itu tanpa diberikan selimut atau apapun. Sedangkan William, Joe benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan Joe memberikannya tempat tidur.


Semalam, setelah berdiskusi dengan Rei dan yang lain di Dreaworld, William sempat bangun dan menyelinap guna mengambil kunci dan membuka pintu kamar kakaknya.


William memberikan selimut dan bantal agar Elvina tidak kedinginan. Begitu pagi tiba, Elvina segera menyembunyikan kedua benda itu ke dalam sebuah lemari tua yang terletak di pojok kamar tempatnya di sekap.


Elvina terduduk. Pikirannya sedang sibuk menyusun rencana.


Dengan bantuan telepati Rei, ia bisa berkomunikasi dengan William dan Rei lalu membagikan rencana yang sudah disusunnya.


Seperti yang sudah aku rencanakan, ketika Joe masuk maka kau harus datang dan mengambil kuncinya secara diam-diam. Lemparkan kunci itu agar aku bisa dengan mudah membuka pintunya, ujar Elvina dalam telepatinya.


Rei lalu menjelaskan apa yang di dengarnya pada William agar lelaki itu mengerti.


Baik. Will sudah mengerti dengan tugasnya.


Bagus.


Kalau kau sudah berhasil mengaktifkan sinyal lokasinya, segera hubungi aku, El. Sebut namaku tiga kali, dan aku akan bisa mendengar suaramu.


Baik, aku mengerti.


Aku akan segera meminta bantuan Liana dan Aland.


Ceklek!


Perhatian Elvina mendadak beralih pada suara pintu yang di dengarnya.


Joe datang, aku harus bersiap, kata Elvina.


Okay.


Elvina melihat pintu terbuka dan Joe muncul di sana. "Ternyata kau sudah bangun," gumam Joe.


Pria itu membawa sebuah nampan berisi makanan di tangannya.


Joe baru saja akan melangkah masuk, tapi William lebih dulu muncul dan menahannya.


"Joe, bolehkah aku bicara dengan kakakku sebentar?" kata William yang baru saja tiba.


"Tidak bisa. Sekarang kembali ke ruang makan."


"Oh, ayolah. Hanya lima menit saja. Okay? Sekalian, biar aku yang membawakan makanan untuknya." William merebut nampan itu dari tangan Joe dan menaruh sebuah kunci di balik sisi piringnya.


"Hanya tiga menit," tukasnya.


"Itu lebih dari cukup." William tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam kamar kakaknya.


"Tiga menit saja tidak cukup untuk kami mengobrol," tukas Elvina dengan wajah kesal.


"Sudahlah, hiraukan saja. Yang terpenting kita bisa mengobrol walaupun hanya sebentar." William menghampiri kakaknya.


Ia menaruh nampan itu dihadapannya. Lalu melirik kakaknya tanpa menoleh pada Joe.


"Aku sudah menaruh kuncinya," bisik William.


Elvina melirik pada nampan yang dibawanya, dan ia bisa melihat kunci cadangan yang di bawa William untuk membantunya keluar.


"Kerja bagus," bisik Elvina.


"Aku harap kau makan yang banyak. Aku tidak ingin kau sampai sakit." William mengencangkan suaranya.


"Terima kasih karena sudah perhatian padaku."


"Percayalah padaku, kita pasti akan bisa bebas. Aku janji," ujar William dengan sikap biasa.


"Waktu habis!" tutur Joe yang langsung menyita perhatian mereka.


"Apa? Kau mengada-ada!"


...***...