
...***...
Tep!
Yeon-woo menepuk pundaknya. Berusaha menahan Louis untuk pergi. "Tunggu—"
Tepat sebelum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Yeon-woo merasakan kepalanya sakit. Bersamaan dengan itu berbagai hal muncul, memenuhi kepalanya. Setiap adegan berputar seperti sebuah film.
"Arghhh…" Yeon-woo mengerang menahan sakit. Louis yang menyadari hal itu spontan menjauhkan diri dari Yeon-woo.
Yeon-woo tersadar. Setelah tangannya tak lagi bersentuhan dengan Louis, semua adegan dalam kepalanya berhenti berputar dan seolah lenyap begitu saja.
Louis terdiam. Ia jujur terkejut karena Yeon-woo menahannya. Ini adalah hal yang diluar dari kendalinya sama sekali. Selama ini dia berusaha untuk tidak bersentuhan langsung dengan Yeon-woo, terlebih dirinya adalah makhluk yang berasal dari masa lalu.
"A-apa itu?" gumam Yeon-woo. Ia berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan. Yeon-woo baru saja melihat sebuah adegan yang membuat hatinya entah kenapa terasa begitu sakit, bahkan Yeon-woo merasa sekarang dadanya sesak. "Apa yang baru saja aku lihat itu?"
Yeon-woo mendongakkan kepalanya. Beradu tatap dengan Louis yang kini hanya diam dan menatapnya tanpa mengatakan apa-apa.
"Aku tidak bisa menjelaskannya. Lebih baik kau tidak tahu." Louis berbalik dan siap untuk melangkah. Sebelum akhirnya Yeon-woo kembali menghentikannya.
"Aku baru saja melihat seseorang yang mirip denganku," katanya. Membuat Louis seketika membatu. Dugaannya ternyata benar. Yeon-woo baru saja mengalami efek dari sentuhan barusan. Dia jadi melihat sebagian kejadian di masa lalu, kejadian yang selama ini terkubur jauh di dalam memori lamanya.
"Siapa kau sebenarnya, dan apakah yang aku lihat barusan adalah aku? Apakah dia yang kau maksud?"
"Aku tidak mau menjelaskannya."
"Tidak, tunggu! Jelaskan padaku." Yeon-woo menghampiri Louis dan menarik tangannya. Tapi kejadian serupa kembali terjadi. Tindakannya spontan membuat Louis menepis tangannya cepat.
"Jangan sentuh aku. Jangan buat aku berubah pikiran. Aku sudah memutuskan untuk tidak membawaku bersamamu!" ujarnya.
Yeon-woo terdiam sesaat. Ia sempat melihat hal yang lebih menyakitkan dari sebelumnya. Bahkan setelah melihat adegan yang muncul di kepalanya, membuat mata Yeon-woo berkaca-kaca.
Apa yang baru aku lihat? Kenapa aku melihat begitu banyak adegan yang membuat dadaku sesak? Apakah jangan-jangan, ini alasan kenapa dia berusaha memenuhi janjinya? pikir Yeon-woo. Lelaki itu masih berusaha mencerna hal yang baru saja dilihatnya. Tapi semakin dipikirkan semakin membuat Yeon-woo penasaran.
"Aku akan ikut bersamamu," ucapnya yang berhasil membuat Louis tertegun.
"Apa? Tidak. Jangan memutuskan seperti itu setelah kau melihatnya. Aku tidak ingin kau menyesal atas keputusan yang kau ambil."
"Tidak. Aku mengambil keputusan ini karena aku sekarang mengerti bahwa janji yang kau maksud sangat berarti bagimu. Selain itu, aku juga sekarang mengerti. Kalau kau tidak bisa memenuhi janji itu, maka kau akan terus terluka. Maaf atas ucapanmu sebelumnya, tapi aku akan membantumu menepati semua janji yang telah kau buat."
"Jangan cepat mengambil keputusan. Karena suatu saat kau akan menyesalinya. Setelah kau pergi bersamaku, kau tidak bisa kembali."
...***...