
...***...
"Arghhh!!!" Rei mengerang memegangi kepalanya yang seperti akan meledak. Ia jatuh terduduk di tanah sambil menjambak rambutnya sendiri.
Louis hanya diam menatapnya tanpa berniat untuk membantunya. Ini sudah menjadi pilihan hatinya, dan dia sudah benar-benar memantapkan hati untuk segala hal yang harus dihadapinya.
...*...
Menara barat, satu tahun yang lalu.
2019
Rei membuka kedua matanya perlahan. Begitu pandangannya jelas, hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah ruangan gelap yang begitu sempit.
Di ruangan itu hanya ada satu sumber cahaya, dan itu berasal dari jendela kecil di dinding dekat pintu.
"Argh…" Rei meringis. Sejenak ia merasakan sakit pada sekujur tubuhnya. Rasanya seperti semua tulangnya seolah remuk dan tubuhnya hancur.
Rei perlahan mulai menyadari bahwa tubuhnya dalam keadaan terikat.
Setiap kali dia bergerak, Rei bisa mendengar suara gemerincing dari rantai yang terikat pada kedua tangan, dan kakinya. Belum lagi ia juga bisa merasakan ikatan yang sama pada lehernya.
"Akh—" Rei memegangi lehernya.
"Apa ini?" Dia menatap kedua tangan dan kakinya yang di rantai.
"Kenapa aku di rantai? Apa yang terjadi?" Rei berusaha untuk membebaskan diri. Ia berulang kali menarik rantai di tangan dan kakinya. Tapi begitu ia mendongak, rantainya terikat pada dinding yang ada.
"Siapapun, tolong aku! Lepaskan aku!" teriak Rei. Berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya.
Rai terus meronta sambil berteriak.
Ceklek!
Rei terdiam. Ia mendongak ke arah pintu dimana suara itu berasal. Begitu pintu terbuka, hal pertama yang dilihat Rei adalah sosok Miles. Lelaki tua berkacamata yang selalu mengenakan jas putih seperti seorang ilmuan yang kerjanya di laboratorium.
"Kau sudah sadar." Miles terdiam di depan pintu sambil menatap Rei yang ada di sana.
Rei beradu tatap dengan lelaki itu. Ia menatapnya tajam, lelaki itu adalah lelaki yang sudah menculik dan menyekapnya di sini. Bahkan lelaki itu juga yang telah menyiksanya dengan memasukkan tubuh Rei ke dalam tabung berisi sebuah cairan.
"Kau! Lepaskan aku! Kenapa kau merantai ku seperti ini?!" teriak Rei penuh emosi.
"Maafkan aku, tapi aku titip punya pilihan lain. Kalau aku membiarkanmu berkeliaran di ruangan ini tanpa rantai, bisa-bisa kau menyerang ku seperti kejadian beberapa waktu lalu di laboratorium." Miles membenahi posisi kacamatanya.
"Kau!!!" Rei bangkit dan berusaha untuk menghampirinya. Tapi baru beberapa langkah, dirinya langsung tertahan oleh rantai yang mengikat tubuhnya.
"Arghh…" Rei meringis menahan sakit. Yang membuatnya semakin kesakitan karena lehernya juga ikut di rantai. Rei merasa seperti anjing yang diikat dengan rantai.
"Lepaskan aku!" teriak Rei sekali lagi.
"Demi kebaikanmu, aku tidak bisa membebaskanmu. Emosimu tidak stabil. Apalagi sejak kau menjalani tahap terakhir dengan serum Evolgesysv-01."
"Apa maksudmu? Jangan bicara omong kosong dan cepat bebaskan aku!" Rei terus memberontak.
"Kau akan aku bebaskan setelah saatnya tiba."
Rei mengepalkan kedua tangannya erat. Ia menatap sinis ke arah Miles yang kini tampak begitu tenang dan bersikap seolah tak berdosa.
Perhatian Rei mendadak beralih saat ia melihat samar-samar wajah seorang lelaki albino di belakang Miles.
Lelaki itu terdiam dengan wajah cemas menatap ke arahnya.
...***...