
...***...
Sial! Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku menggunakan kekuatanku untuk menyerangnya, kan? Aku tidak ingin jika sampai ada orang yang mengetahui kemampuanku. Tapi tidak mungkin aku diam saja sementara dia menyentuhku. Tidak ada pilihan lain, daripada aku harus berakhir di tangannya, batin Elvina. Ia mulai memusatkan seluruh energinya, berusaha untuk fokus walaupun tubuhnya gemetar hebat.
Medan gayanya baru saja muncul, tapi tanpa aba-aba lebih dulu secara tiba-tiba Leon datang dan menghadiahi Ryan sebuah pukulan keras yang membuat pria itu tersungkur jatuh di lantai.
Brukk!
Tubuhnya terhuyung dengan bagian wajahnya yang terasa sakit. Elvina tersentak, begitu juga dengan Ryan yang kini terkapar.
Leon tampak sangat marah melihat apa yang baru saja dilakukan temannya itu. Ia menarik tangan Elvina cepat ke arahnya, wanita itu terlihat gemetar ketakutan.
"Brengsek! Berani sekali kau menyentuh wanitaku!" teriak Leon padanya.
Orang-orang mulai berdatangan menghampiri tempat mereka, teman-teman Leon yang lain terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
"Leon, ada apa ini?" Mariska terkejut dengan yang dilihatnya. Leon tak mengindahkan pertanyaan mantan kekasihnya di SMA itu. Ia terlalu emosi dengan ulah temannya yang satu itu.
"L… Leon, ini bukan salahku. Kekasihmu itu menggodaku." Ryan melemparkan kesalahannya. Leon mengepalkan tangannya mendengar tuduhan Ryan terhadap Elvina.
Elvina terkejut dengan apa yang baru saja diucapkannya, baru saja ia membuka mulut untuk berbicara, Leon sudah mendahuluinya.
"Elvina bukan wanita seperti itu! Aku kenal sekali dengannya, dan aku juga kenal sekali denganmu yang suka mempermainkan perempuan! Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosongmu?!" Leon membalas ucapannya.
Elvina terdiam, ia mendongak menatap Leon yang baru saja membelanya.
"Aku pinjam jasmu." Leon menghentikan langkahnya di hadapan Anton. Lelaki yang menjadi temannya itu lalu melepas jas yang tengah dikenakannya dan memberikannya pada Leon.
Leon memakaikan jas itu pada pundak Elvina, ia segera meraih tubuhnya dan menggendongnya keluar dari dalam klub.
Tiba di tempat parkir, Leon menurunkan Elvina di dekat mobilnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Leon memastikan.
"Sudah aku bilang, aku tidak ingin masuk! Tapi kau terus saja memaksaku dan terus membujukku! Kau tidak tahu, tadi aku sangat ketakutan!" Elvina kesal. Ia memukul dada Leon sekuat tenaganya, air matanya tak lagi dapat dibendungnya.
"Kau menyebalkan! Dasar si tukang perintah yang menyebalkan! Kau suka memaksakan kehendakmu tanpa peduli bagaimana perasaanku! Aku benci padamu!!!" Elvina semakin gencar memukulnya sekuat tenaga. Leon sebenarnya kesakitan dengan serangan Elvina, tapi ia menahannya.
Leon mencengkram pergelangan tangan Elvina dan menarik tubuhnya hingga membuat Elvina menabrak dadanya.
Leon memeluk Elvina erat guna membuatnya tenang. Elvina menangis, pundaknya bergetar hebat.
"Aku minta maaf," bisik Leon.
"Aku benar-benar minta maaf kalau aku selalu berbuat semauku tanpa memperdulikan perasaanmu."
Elvina masih menangis, ia mencengkram kemeja bagian belakang Leon. "Maaf, kalau selama ini aku selalu memerintahmu bahkan memintamu untuk mengerjakan hal yang diluar dari tugasmu. Aku… hanya tidak ingin jauh darimu. Aku ingin selalu dekat denganmu, karena aku…"
...***...