Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 409 - Kenapa tuan bertanya?



...***...


"Tapi kami butuh pertukaran," ujar Lucy. Leon mengerutkan kening, ia tidak mengerti dengan pertukaran yang di maksud oleh kakak sepupunya itu.


"Pertukaran seperti apa?"


"Untuk masalah beres-beres biar kami yang lakukan, minta orang yang kau suruh untuk tidak datang, dan sebagai gantinya kami butuh mobil untuk bepergian."


"Oh, aku kira pertukaran seperti apa. Bukan masalah, akan kusuruh orangku berhenti, setelah itu akan kuberikan mobil yang kalian minta."


"Baiklah, sekali lagi terima kasih."


"Aih, sudah aku bilang tidak perlu berterima kasih. Kita ini keluarga, jadi tidak perlu sungkan. Omong-omong aku harus pergi, pekerjaanku di kantor masih banyak."


"Baiklah. Sampai jumpa."


Leon melambaikan tangan, ia beranjak dari apartemen meninggalkan Lucy dan Aland yang kini melambaikan tangan ke arahnya.


"Kau pintar," puji Aland pada wanita yang menjadi rekannya.


"Harus. Kalau kita tidak memiliki mobil, kita akan sangat kesulitan untuk bepergian. Tidak mungkin kita terus menggunakan taksi 'kan?"


"Yup! Kau benar."



...*...


Rei beralih ke sisi lain ketika dirinya merasa tidak bisa tidur dengan posisi semula.


Matanya terpejam, namun hatinya luar biasa tak tenang. Ia terus saja kepikiran kejadian beberapa jam yang lalu ketika dirinya di pertemukan dengan Lucy untuk yang pertama kalinya dan di tanyai mengenai sosok pria yang sempat bertemu dengannya sekilas.


Rei mengubah posisinya lagi menjadi terlentang. Ia bersikeras memejamkan mata, tapi kelopak matanya benar-benar tak bisa diajak kompromi.


Rei membuka mata setelah beberapa saat mencoba tidur.


Aku terus saja kepikiran wanita yang tadi aku temui. Siapa sebenarnya dia, dan kenapa dia menanyakan tentang pria itu? Apa sebenarnya hubungan wanita itu dengan pria yang datang bersama Joe? batinnya.


Pikirannya dihantui pertanyaan dan berbagai kemungkinan tentang Lucy.


"Apakah mereka memiliki hubungan?" gumamnya pelan.


Rei menghela napas. Ia memejamkan mata, menyebut nama Louis yang dalam sekejap membuat pria albino itu muncul di hadapannya.


"Tuan," ujarnya. Rei membuka mata dan melihat pria yang kini berdiri di ujung kaki ranjangnya.


"Louis."


"Apa yang bisa aku bantu?" tanyanya.


"Duduklah, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Rei. Louis mengambil duduk di tepi ranjang dengan raut wajah yang masih nampak bingung melihat Rei yang kelihatan kurang baik.


"Apa yang ingin tuan tanyakan?"


"Sebenarnya aku ingin berusaha melupakan ini, tapi sepertinya tidak bisa. Aku terus saja kepikiran tentang kejadian tadi siang."


"Maksud tuan tentang pertemuan tuan dengan wanita berambut pirang tadi?"


"Ya. Aku terus saja terbayang-bayang akan foto pria yang dia tunjukkan, dia adalah pria yang sama yang beberapa waktu lalu kita temui saat Joe ditangkap oleh para penjaga," jelas Rei.


Louis terdiam tanpa kata. Ia menatap tuannya dengan tatapan sayu.


Perlahan, pandangannya bergerak turun, enggan beradu tatap dengan kedua mata Rei secara langsung.


"Aku ingin tanya padamu. Siapa pria itu? Lalu kenapa wanita tadi menanyakan tentangnya? Apakah kau tahu sesuatu?"


"Kenapa tuan menanyakan ini padaku?" Louis balik bertanya.


"Karena waktu kita bertemu dengan pria itu, kau bersikap aneh. Bahkan kau langsung memindahkan kita."


...***...