
...***...
"Usaha kami tidak mudah, terlebih mengingat Andrich yang memiliki kemampuan mengendalikan makhluk-makhluk gaib, dan mengubah diri menjadi asap. Hal itu membuat kami sangat kesulitan untuk menangkapnya walaupun akhirnya berhasil," kata tuannya.
"Setelah itu, aku memutuskan untuk mengembalikan Andrich ke tabung inkubasi. Setelah melewati dua kali masa inkubasi dan menambahkan serum pengontrol untuk sistem hormonnya, akhirnya dia berhasil menstabilkan kembali seluruh sistem hormon pada tubuhnya dan menahan dirinya untuk tidak melakukan kembali kesalahannya yang dulu. Tapi sekarang… setelah setahun lamanya dia bertahan, kau malah membuat sisinya kembali." Profesor menatapnya tajam.
Melinda menundukkan dengan wajah bersalah.
"A… aku benar-benar minta maaf prof, tuan. Aku benar-benar tidak tahu kalau hal ini akan berakhir seperti itu." Melinda berucap takut.
"Aku sudah memberikannya serum pengontrol yang dia minta, dan kalau dia meminumnya secara teratur, seharusnya itu bisa bekerja untuk mengontrol dirinya. Tapi, kalau dia sampai lupa satu kali saja meminum serum itu… maka bisa saja apa yang dulu terjadi kembali terulang."
Melinda membulatkan mata dengan tidak bisa berkata-kata. Ia menatap kedua orang yang paling dihormatinya dengan wajah resah.
Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah membuat kesalahan besar… batinnya.
...*...
London, Inggris.
Perhatian Ethan mendadak beralih pada layar monitor lain yang ada di dekatnya. Layar itu adalah layar yang khusus ia fokuskan untuk menangkap sinyal yang berasal dari alat komunikasi target dari Lucy dan Aland.
Sebuah titik merah muncul menandakan bahwa sinyal dari target yang dicarinya berhasil tertangkap oleh sistemnya.
"Dia kembali! Aku berhasil menangkap sinyalnya lagi!" katanya dengan wajah kegirangan.
Ethan bergegas bergerak mengurus apa yang dilihatnya. Untuk sementara waktu, ia menghiraukan misi timnya dan memilih fokus pada temuannya.
Jari-jari mulai bergerak di atas papan keyboard komputernya. Bergegas mengunci sinyal yang baru ditangkapnya lalu segera melacak keberadaan targetnya.
Ethan menekan tingkat yang ada di handsfree yang terpasang pada telinga kirinya.
"Lou, Al! Aku berhasil menemukan target kalian!"
"Sungguh?!" Aland dan Lucy berucap bersamaan di seberang sana.
"Baiklah, cepat kirimkan pada kami."
Ethan segera mengirimkan lokasi yang ia tangkap pada Lucy dan Aland di seberang sana.
"Sudah. Coba kalian cek."
"Kami sudah menerimanya. Terima kasih."
...*...
Jakarta, Indonesia.
Lucy dan Aland bergegas pergi meninggalkan apartemen mereka. Keduanya segera menancap gas mengikuti arah lokasi yang baru saja dikirimkan oleh Ethan pada mereka.
Lucy dan Aland melaju terus hingga akhirnya titik yang mereka ikuti, berhenti di sekolah yang sempat mereka datangi beberapa waktu lalu.
"Dia benar-benar datang kemari?" gumam Lucy sambil mengecek ulang lokasinya.
"Begitu yang kita tangkap di sini," sahut Aland.
"Itu artinya target kita sekarang ini ada di dalam sana?"
"Ya."
"Kalau begitu ayo masuk."
"Ke dalam? Tidak mungkin. Ini lingkungan sekolah, dan kita tidak akan bisa masuk dengan mudah, apalagi tanpa kepentingan yang jelas bagi mereka."
"Kita ini agen. Kita bisa menyamar."
"Kau sudah pernah menunjukkan penyamaranmu pada mereka. Lagipula kita tidak akan bisa menyamar begitu saja dan masuk seenaknya. Harus ada alasan yang jelas."
Lucy diam membenarkan ucapan Aland. Keduanya masih diam memperhatikan bangunan sekolah megah yang ada dihadapan mereka.
...***...