
...***...
Keadaan ini membuatku ingat pada Rei, kira-kira… bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia sudah di temukan? Aku benar-benar merindukannya. Aku rindu mama, rumah, dan adik-adikku. Bagaimana aku bisa pulang? Elvina membatin, ia menundukkan kepalanya dengan raut wajah murung.
"El, ada apa?" William menepuk pundak kakaknya pelan begitu sadar Elvina hanya diam dengan raut wajah murung.
Elvina menoleh ke arah adiknya, ia menggeleng pelan sebelum kemudian menjawab, "Tidak ada apa-apa."
William hanya diam dan menatapnya lekat, ia tahu betul kalau ada sesuatu yang coba di sembunyikan Elvina dari dirinya.
Elvina mendadak bangun dari tempat duduknya. Hal itu, menyita atensi beberapa orang yang ada di sana. "Aku permisi sebentar, aku ingin menjernihkan pikiran," gumamnya pelan namun dapat di dengar jelas mereka.
Yang mendengar ucapan Elvina hanya mengangguk dan membiarkannya pergi. Kevin memandang Elvina yang kini melangkah menuju arah tepi pantai, ia kemudian berbisik pada William yang duduk di dekatnya.
"Apakah kakakmu memiliki masalah? Kenapa dia tampak begitu murung?" tanyanya. William beralih menatap Kevin.
"Aku juga tidak tahu ada apa dengannya. Tapi aku merasa kalau ada yang ia sembunyikan dariku."
"Benarkah?" Kevin menaikkan sebelah alisnya.
"Aku akan memastikannya." William beranjak dari tempat duduknya, berjalan cepat menghampiri Elvina yang kini terdiam di tepi pantai sambil menatap ke arah laut lepas.
...*...
"El!" William berlari menghampirinya dan berdiri di sampingnya. Elvina meliriknya sekilas kemudahan kembali menatap ke laut lepas.
"Ada apa? Kenapa kau kemari?" tanya Elvina tanpa menoleh.
"Kau yakin baik-baik saja? Aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku. Kalau ada apa-apa, ceritakan padaku. Kita ini kakak-beradik, sudah seharusnya kita saling bercerita satu sama lain."
"Aku hanya rindu rumah," gumam Elvina yang dalam sekejap membuat William terdiam. "Kira-kira, bagaimana keadaan mama, papa dan adik-adik kita, ya?"
"Kau benar… kita sudah terlalu lama berada di sini."
"Aku rindu mereka, aku juga rindu Rei…"
"Aku juga. Entah bagaimana keadaannya sekarang, apakah Tante sudah menemukan keberadaan Rei dan membujuknya pulang? Aku ingin tahu." William menundukkan kepalanya.
"Di manapun sekarang Rei berada, aku hanya berharap dia baik-baik saja dan selalu diberikan keselamatan."
"Aku harap begitu," sahut William dengan suara pelan. Sejurus kemudian mereka berdua terdiam, mata keduanya menatap lurus ke depan. Tepat ke arah hamparan laut yang tampak menyatu dengan langit malam. Sejauh mata memandang, tidak ada hal lain yang dapat mereka lihat selain air dan langit malam yang berhiaskan cahaya bintang.
Dalam diamnya, Elvina tiba-tiba teringat akan potongan lirik lagu yang selalu menggambarkan mereka saat mereka terpisah. Tanpa sadar ia mulai bersenandung. William menoleh ke arahnya begitu suara senandung didengarnya.
...***...