
...***...
"Berhenti memberontak. Itu hanya akan menyakiti dirimu," ujar salah satu penjaga. Rei tak peduli dan terus memberontak membuat kulitnya semakin terkoyak, darahnya terus mengucur keluar membasahi pohon yang kini menjadi tempatnya tergantung setinggi setengah meter dari permukaan tanah.
Joe melangkah mendekat ke arah Rei dan berdiri tepat dihadapannya. Rei terdiam spontan. Mereka beradu tatap satu sama lain.
"Tampaknya kau memang seorang evolver, sama seperti kami." Joe mengeluarkan smirk-nya. "Berulangkali, aku dan anak buahku melukaimu. Tapi, kau masih bisa bertahan."
Rei diam tanpa merespon, matanya memandang Joe dengan tatapan tajam.
"Dan sekarang bahkan, kau masih bisa bertahan walau kau terluka begitu parah." Joe melirik pada kedua tangan Rei yang mengeluarkan darah akibat anak panah yang mengoyak kulitnya.
"Sudah aku bilang lebih baik kau ikut denganku secara baik-baik. Kalau kau mendengarkanku, kau tidak akan terluka separah ini. Lagipula… seberapa keras pun kau bersikeras untuk melarikan diri, kau akan tetap tertangkap."
"Aku tidak akan ikut dengan kalian," gumam Rei pelan.
"Ternyata kau begitu keras kepala walaupun kau sudah terluka separah ini. Seberapapun kau bersikeras, tetap saja kami yang menang." Joe berbalik menghampiri kedua anak buahnya yang sejak tadi membantunya.
"Bawa dia!" titahnya. Mereka berdua mengangguk dan bergegas menghampiri Rei. Mereka menarik Rei turun dari sana secara paksa, namun tubuhnya tak bisa mereka tarik walaupun salah satu evolver telah melepaskan anak panahnya.
"Ada apa ini, kenapa dia tidak bisa turun?" Salah satu evolver menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Aku tidak akan pernah ikut dengan kalian," lirih Rei lagi. Ia memejamkan kedua matanya. Tangannya bergerak mengepal erat sebelum kemudian terbuka dan bergerak membuat gesture mencengkram udara.
Mereka terbelalak saat melihat tanaman merambat tubuhnya, bergerak melilit kakinya dan terus bergerak hingga mencapai tubuh mereka.
"Argh!! Tolong!" Mereka berteriak bersamaan. Joe berbalik, dan dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kedua anak buahnya yang tersisa, kini terlilit oleh tanaman rambat yang bahkan sudah mengingat tumbuhnya hingga menutupi bagian kepalanya.
Joe kelabakan. Ia bergegas menggunakan kekuatannya untuk membantu melepaskan mereka.
Rei membuka matanya dengan pupilnya yang mendadak berubah biru, ia memandang Joe dengan tatapan tajam. Tak lama, kobaran api muncul dan membakar tubuhnya.
Fokus Joe terpecah begitu panasnya api membakar dirinya. Ia bergerak berusaha memadamkan api yang membakar tubuhnya.
Joe berlari, berguling dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Bukannya padam, api yang membakar tubuhnya semakin membesar.
Joe terus berteriak kepanasan, ia terus mencari akal agar bisa memadamkan api yang membakar tubuhnya.
Di sisi lain, kedua anak buahnya ditarik rambat tanaman tersebut hingga tubuhnya menggantung di atas pohon besar di belakang Rei.
Mereka berdua menggeliat, memberontak berusaha untuk bebas. Namun sialnya gagal.
Di tengah semua itu, tiba-tiba fokus Rei disita oleh sesuatu. Ada sosok yang bergerak cepat di sisi kirinya.
Rei mengerjap hingga pupil matanya kembali. Ia menoleh ke arah dimana sosok yang dilihat dari ujung matanya itu berada. Tapi begitu menoleh, sosok itu tidak ada di tempatnya. Rei mendarat dengan kedua kakinya.
...***...