
...***...
Ya, memang benar Rei adalah tipe idealku. Tapi Lusia lebih cocok dengannya, pikir Gloria. Rei yang bisa mendengarnya dengan jelas cukup terkejut dengan pengakuannya.
"Kalau Rei dan Heru buka tipe idealmu, lalu siapa?" Lusia mendesaknya bicara.
"Hm…" Gloria diam sejenak, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari cocok yang benar-benar menurutnya sama dengan tipe ideal lelaki impiannya.
"Oh, itu dia! Si anak baru!" Gloria menunjuk ke arah seorang lelaki tampan yang baru saja tiba dengan nampan berisi makanan di tangannya. Ia terlihat kebingungan mencari meja untuk duduk karena belum terlalu akrab dengan siapa-siapa.
Rei, Lusia, dan Heru menoleh serentak ke arah lelaki yang di maksudnya.
Rei mengerutkan kening, ia ingat lelaki itu. Lelaki itu adalah orang yang sama yang secara tidak sengaja ia temui di koridor. Ketika itu, dia bersama dengan seorang gadis yang secara tak sengaja Rei tabrak, dan Fadly yang merupakan guru wali kelasnya.
Lelaki itu… dia adalah orang yang tadi 'kan? batin Rei menatap pria di sana.
"Dia tampan, tinggi, putih, ramah, murah senyum, dan yang paling penting adalah… perhatian." Gloria tersenyum memandangi lelaki itu.
"Ya, aku akui memang benar dia tampan. Tapi menurutku, Rei lebih baik dalam segalanya dibandingkan dia," komentar Lusia yang lantas beralih fokus pada makanannya.
"Itu menurutmu." Gloria menanggapinya santai. Matanya masih tertuju pada lelaki di sana yang kemudian menoleh ke arah dirinya, membuat pandangan mata mereka saling bertemu satu sama lain.
"Oh! Dia melihat ke arahku!" Gloria mengguncang pundak Lusia dengan hebohnya, hingga membuat Lusia tidak bisa fokus.
Pria itu melambaikan tangan, membuat Gloria spontan balas lambaiannya dengan senyum yang makin merekah.
"Oh, astaga… bagaimana ini? Dia begitu tampan saat tersenyum seperti itu," gumam Gloria yang membuat Heru mendelik kesal ke arahnya.
"Dia berjalan kemari," ujar Rei membuat Gloria semakin heboh.
"Apakah kursi ini kosong? Bolehkah aku bergabung dengan kalian?" Bariton suaranya menginterupsi meja yang mereka duduki. Gloria berdebar dibuatnya.
"Tentu saja, silahkan duduk!" Gloria menyambar.
Ia baru saja akan mengambil duduk di dekat Rei sebelum seorang gadis mendadak muncul dan menyerobot duduk di sana.
"Bolehkah aku ikut bergabung? Tidak ada yang aku kenal di sini," ucap gadis itu sembari menaruh nampannya di atas meja.
Fokus semua orang beralih pada gadis itu. Ia memiliki wajah yang cantik, rambut panjang yang indah dengan tubuh yang begitu seksi. Sosoknya begitu mencolok, sampai-sampai setiap orang yang melirik ke arahnya tak bisa berpaling sama sekali.
Gadis itu membuka dua kancing seragam bagian atasnya hingga membuat pakaian dalamnya terlihat jelas. Warnanya pink.
"Y… ya, duduklah." Gloria mempersilahkan.
Keduanya lalu duduk bersamaan. Yang perempuan duduk bersebelahan dengan Rei, sementara yang laki-laki duduk bersebelahan dengan Lusia.
"Terima kasih karena sudah mengizinkanku bergabung dengan kalian, aku benar-benar tidak tahu harus duduk dimana karena belum terlalu akrab dengan yang lain." Lelaki itu berucap.
"Bukan masalah," sahut Gloria dengan suara lembut.
Keadaan berubah dari sebelumnya. Rei kini terdiam memandangi gadis yang duduk di sebelah. Ia memperhatikan gadis itu karena ingat mereka pernah bertemu.
...***...