
...***...
Fokus Lucy beralih pada asap yang secara tak sengaja dilihatnya muncul dari luar jendela.
Ia bergegas berlari menuju arah jendela yang ada di perpustakaan tempatnya berada. Begitu melihat keluar, ia melihat Andrich yang sedang membius Lusia.
Gotcha! Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lolos, batin Lucy sambil mengepalkan tangannya.
"Al, aku menemukan target kita!" ujarnya.
"Benarkah? Dimana?"
"Taman samping dekat perpustakaan."
"Apa? Baiklah, aku akan segera ke sana."
Lucy segera membuka jendela dihadapannya lebar-lebar, setelah itu naik dan mengecek keadaan sekitar gedung tempatnya berada.
Lucy menggunakan kepala ikat pinggang yang ia kenakan dan menekan tombol yang ada di sana yang dalam sekejap membuat tali dengan pengait terlontar keluar.
Lucy mengingatkan tali itu pada tubuhnya dan melompat turun. Ia mendarat dengan kedua kakinya di atas tanah berumput.
...*...
Brukk!
Tubuh Lusia yang lemas terhempas begitu saja di tanah setelah seluruh isi cairan obat bius itu masuk ke dalam tubuhnya.
Andrich bangkit dari posisinya. Penampilannya sudah berubah, yang semula adalah seragam SMA, kini menjadi pakaian serba hitam yang selalu dipakainya.
"Ternyata benar apa yang dikatakan Rei," gumam Melinda yang baru saja tiba. Andrich membalikkan tubuhnya ke arah wanita yang baru saja tiba itu.
"Rei sudah tahu kalau kau menangkap kekasihnya." Melinda mendekat hingga tiba dihadapannya. Ia menoleh ke arah Lusia yang terbaring tak sadarkan diri di tanah berumput.
"Bagus. Memang itu rencananya, dengan Rei datang kemari, maka akan lebih mudah bagiku menangkap keduanya."
"Memangnya kau pikir, kau bisa menangani Rei seorang diri?"
"Tentu saja, kenapa tidak? Dan lagi, untuk apa kau datang kemari lalu memberitahuku? Aku bisa mengatasi semua ini sendiri. Jadi aku tidak membutuhkan bantuanmu. Lebih baik kau pergi, jangan ganggu urusanku." Andrich melambaikan tangan, memberikan gesture seolah-olah mengusir Melinda agar pergi dari hadapannya.
Melinda mendelik. Andrich adalah orang yang benar-benar arogan dan tidak tahu berterima kasih, terlebih setelah pria itu mempermainkan tubuhnya.
"Aku akan membantumu. Aku juga tidak mau rugi!" tukas Melinda.
"Apa maksudmu?"
"Seharusnya aku berhadapan dengan Rei, dan menangkapnya. Tapi aku memiliki ide lain dengan menggunakan Lusia. Jadi, aku akan membawa Lusia pergi sementara kau pastikan untuk menangkap Rei."
"Tidak bisa! Enak saja. Memangnya kau pikir, kau ini siapa? Berani memerintah seenaknya."
"Aku lakukan ini juga untuk membantumu. Dengar! Saat ini dirimu sedang dalam keadaan tidak stabil, tadi saja kau hampir membuat gadis itu jatuh dalam pelukanmu. Kau hampir melakukan apa yang sudah pernah dulu kau lakukan. Jadi, setidaknya dengan aku membawa Lusia, aku bisa memastikan dia datang ke laboratorium dengan aman tanpa di sentuh sedikitpun olehmu!"
Andrich terdiam membenarkan ucapan Melinda. Memang saat ini dirinya berada dalam kondisi kurang stabil, dimana ia masih merasa tidak bisa mengendalikan sistem endokrin di tubuhnya, dan mengatur neurotransmiter nya agar tetap stabil.
"Bukankah aku benar?" Melinda tersenyum miring melihat Andrich yang terdiam.
Dorr! Dorr!
Tanpa peringatan lebih dulu, beberapa tembakan melesat ke arah mereka. Fokus keduanya spontan beralih ke arah datangnya suara dan mendapati Lucy yang berlari menuju arah mereka.
Melinda menatap Lucy dengan wajah heran, pun Andrich. Ia tidak mengenali wanita itu karena penyamarannya.
...***...