
...***...
Hening. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing.
Leon fokus pada jalanan sembari otaknya terus mencari topik untuk mereka bahas agar suasana tidak terlalu mencekam, beda halnya dengan Elvina yang kini berusaha tak mengindahkan keadaan dengan menatap ke arah luar jendela.
Rasanya benar-benar canggung harus duduk seperti ini tapi tidak ada sedikitpun yang bisa kita bahas, pikir Elvina yang mulai merasa tidak nyaman.
Aku benar-benar bingung. Apa yang harus kita bahas agar keadaan tidak canggung seperti ini? Aku harus memikirkan topik agar kita bisa mengobrol dan setidaknya membahas sesuatu agar keadaan tidak sehening ini. Sudah lama aku tidak jalan dengan seorang wanita, terakhir kali aku jalan dengan perempuan adalah ketika duduk di bangku kuliah semester satu, dan setelahnya aku tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita lain. Aku juga bahkan lupa apa saja hal yang waktu itu aku bahas dengan mantanku saat sedang pendekatan. Leon mengerutkan kening.
Sungguh. Ingatan mengenai kali terakhirnya jalan dengan sang mantan benar-benar raib dalam ingatannya.
"Ehem." Leon berdeham.
"Omong-omong kau tampak cantik berpenampilan seperti ini." Ia mulai membuka percakapan. Elvina menoleh ke arahnya.
"B… benarkah? Kau juga terlihat tampan, dan terlihat berbeda dari biasanya. Mungkin karena ini pertama kalinya aku melihatmu dengan balutan pakaian casual seperti ini. Biasanya aku melihatmu mengenakan pakaian formal dengan kemeja dan jas yang tampilannya begitu-begitu saja." Elvina berusaha mencairkan suasana.
"Haha, kau benar. Kalau diingat-ingat memang ini adalah pertama kalinya aku berpenampilan santai seperti ini dihadapanmu. Dan lagi, kau adalah orang yang pertama melihat aku berpenampilan seperti ini. Maksudku, dari semua orang di kantor."
"Kau berbicara seolah aku ini orang istimewa." Elvina terkekeh pelan.
"Tapi kau memang istimewa. Buktinya saja, kau berhasil membuatku jatuh cinta padamu." Leon tersenyum simpul.
Elvina terdiam tak bisa berkata-kata, wajahnya merona mendengar kalimat itu terlontar dari mulutnya.
"Omong-omong kau mau pergi kemana? Mall? Bioskop? Taman? Atau kemana? Katakan saja. Kita pergi ke tempat yang kau inginkan."
"Kau saja yang tentukan. Aku tidak keberatan pergi kemanapun."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menonton?"
Leon melajukan mobilnya menuju bioskop untuk menonton film seperti yang ia tawarkan.
Tiba di sana, Leon segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia di sana.
...*...
Rei terdiam, pikirannya entah kenapa terus dipenuhi dengan Lusia. Semenjak pertemuan terakhirnya Jumat lalu, permohonannya masih belum juga dijawab Lusia.
Kira-kira apa yang dia lakukan hari di akhir pekan seperti ini? pikir Rei. Ia menengadahkan kepalanya. Bertengger pada sandaran sofa yang tengah ia duduki sembari menatap langit-langit ruang tengah tempat dimana mereka duduk.
William kini tengah berada di dapur, ia sedang membuat jus untuk meredakan haus yang melanda tenggorokan mereka.
Sudah berjam-jam mereka berdua bermain video game, dan mereka memutuskan beristirahat sejenak sebelum kembali bermain.
Tukk!
William menaruh gelas berisi jus dalam genggamannya ke atas meja. "Ini milikmu."
"Terima kasih." Rei membenahi posisinya, meraih gelas yang di sodorkan ke arahnya.
William baru saja hendak mendaratkan bokongnya di sofa sebelum bunyi bel rumahnya terdengar di tekan seseorang.
"Pizzanya datang!"
...***...