
...***...
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa tahu kalau aku seorang evolver?" Melinda menatap pria dihadapannya lekat.
Saat ini dirinya berada di rooftop restoran, mereka berdiri dibelakang pagar besi yang ada di sana.
"Aku tahu kau seorang evolver, karena aku juga evolver." Pria itu beradu pandang dengannya.
"Kau juga seorang evolver?"
"Ya."
"Pantas saja kau tahu kalau aku evolver." Melinda mengalihkan fokusnya pada pemandangan dihadapannya.
"Omong-omong kenapa kau kemari? Tampaknya kau adalah evolver penjaga? Bukankah tidak seharusnya kau berada di sini? Apalagi ini bukan saatnya bergerak."
"Aku memang evolver penjaga. Aku sedang menjalankan misi khusus dari profesor untuk menangkap wanita tadi dan juga adiknya. Sekaligus ada yang harus aku selidiki."
"Maksudmu pelanggan yang sempat aku temui di mejanya?"
"Ya."
"Dia juga seorang evolver? Kenapa aku tidak dapat merasakannya?"
"Dia melarikan diri dari laboratorium dan belum sepenuhnya menjadi evolver. Tubuhnya belum sepenuhnya sempurna, maka dari itu kau tidak bisa merasakan dia seorang evolver."
"Begitu rupanya." Ia menanggapi. Untuk sesaat keduanya terdiam tanpa sepatah kata pun yang terlontar dari bibirnya masing-masing.
Melinda tiba-tiba mengendus aroma yang begitu sedap. Ia menghirup aroma yang menusuk hidungnya itu, dalam-dalam.
Pria itu tertegun begitu Melinda mengendus tubuhnya secara tiba-tiba. "A… apa yang kau lakukan?"
"Aku suka aroma tubuhmu." Melinda beradu tatap dengannya. Ia kembali mengendus tubuhnya sedangkan pria itu terus bergerak berusaha menghindar darinya.
Pria itu terdiam sedangkan Melinda semakin dalam menghirup aroma tubuhnya yang begitu nikmat, ia mendekatkan wajahnya ke arah dada bidang pria itu.
Wajah pria itu seketika merona, ia cukup risih dengan posisi mereka yang begitu berdekatan satu sama lain.
Dia begitu cantik, apalagi dalam posisi sedekat ini, batinnya.
"Siapa namamu?" Melinda mendongak menatapnya. Ia mendekatkan wajahnya dengan posisi tubuh yang semakin rapat ke arahnya, beberapa centimeter lagi saja tubuh mereka akan benar-benar bersentuhan satu sama lain.
"N… Nick, namaku Nick," tuturnya terbata.
"Nama yang bagus, cocok untukmu." Melinda tersenyum simpul. Pria itu hanya diam menatap intens sosoknya yang jelita.
Melinda beralih fokus menatap bibirnya, tiba-tiba tanpa permisi Melinda mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya.
Nick tersentak kaget. Wajahnya berubah merah padam begitu Melinda secara tiba-tiba mendaratkan kecupan dibibirnya.
Nick membatu ditempatnya sedangkan Melinda mulai bergerak menarik tengkuknya, bermain lebih dalam lagi.
Kecupannya berubah menjadi lum*t*n. Dengan lihainya Melinda menc**bu bibirnya, memainkan lidahnya dalam mulut Nick.
Nick terbuai kenikmatan yang diberikan Melinda. Wanita itu dengan tanpa permisi mulai meraba bagian tubuhnya hingga membuat Nick terang**ng dengan ulahnya.
Ia memelintir pelan miliknya dibalik baju putih yang menutupi tubuh Nick yang secara bersamaan membuat bagian bawahnya tegang.
Nick tak bisa menahan gairahnya. Ia bergerak menarik tubuh rampingnya hingga membuat jarak mereka semakin dekat satu sama lain.
Kedua tangannya mulai bergerak menjamah setiap lekuk tubuh bagian belakang wanita itu, membuat Melinda semakin bernafsu dengannya.
Mereka menghentikan permainannya ketika Nick mulai kehabisan oksigen dengan permainan adu mulut mereka.
"Kau seorang chef, 'kan? Dan tugasmu adalah memuaskan pelanggan. Aku ingin mencobanya," bisik Melinda.
...***...