Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 141 - Amnesia



...***...


"Okay, kalau begitu ingatan apa yang terakhir kali kau ingat?" Dokter itu kembali mengajukan pertanyaan pada Rei.


"Hal terakhir yang aku ingat adalah ketika aku terbangun di sebuah kapal yang mendarat di salah satu dermaga di luar kota. Aku tidak tahu persisnya dimana karena setelah itu aku memutuskan untuk mencari keluargaku. Aku pindah dari kota yang satu ke kota yang lain, berusaha bertahan hidup dengan mengerjakan beberapa pekerjaan di setiap kota yang aku singgahi," tutur Rei.


"Hanya itu ingatan yang bisa kau ingat?"


"Iya." Rei mengangguk pelan.



...*...


Ceklek!


Pintu terbuka. Sandy langsung berdiri begitu melihat Rei dan Isyana yang keluar dari dalam ruang dokter.


"Aku ingin ke toilet sebentar." Rei berpamitan pada Isyana ada Sandy. Keduanya hanya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah Rei pergi, Sandy segera menatap wanita yang menjadi istrinya itu dengan penuh tanya.


"Bagaimana hasilnya?" tanyanya dengan air muka penasaran. Isyana menggelengkan kepalanya pelan.


"Rei baik-baik saja, kondisi tubuhnya sehat seratus persen. Selain itu… tidak ada masalah dengan otaknya, dia baik-baik saja," jelasnya.


"Benarkah? Syukurlah, aku lega mendengarnya. Tapi, kau bilang Rei baik-baik saja? Jadi Rei tidak amnesia?"


"Dokter bilang begitu, bahkan hasil dari rontgen juga sudah membuktikan kalau dia baik-baik saja."


"Lantas kenapa Rei tidak ingat dengan kita? Apa yang terjadi."


"Kalau Rei tidak amnesia lalu kenapa dia tidak ingat dengan kita. Dia Rei, 'kan? Dia anak kita, 'kan? Tidak mungkin dia tidak mengenali orangtuanya sendiri." Sandy tak bisa percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Entahlah, aku bingung. Instingku mengatakan kalau dia memang anak kita, dan dari penampilannya juga benar-benar Rei. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia bisa sampai tidak ingat dengan kita. Tidak mungkin Rei berpura-pura, 'kan? Dia anak yang sangat jujur, bahkan jika dibanding anak kita yang lain, dia yang paling jujur."


"Bagaimana kalau kita pastikan?" Sandy berucap berat. Isyana mendongak, tatapnya intens.


"Jangan bilang maksudmu…"


"Aku tidak bermaksud untuk meragukan dia bukan anak kita. Ini hanya agar kita lebih yakin saja, dan kita bisa lebih tenang. Kalaupun dia bukan Rei yang kita kenal, kita bisa menyayanginya layaknya kita menyayangi Rei anak kita."


"Tapi bagaimana kalau dia memang benar-benar Rei anak kita? Bukankah itu secara tidak langsung melukai perasaannya? Apakah kau tidak memikirkan hal itu?"


"Lalu apa kau punya pilihan lain untuk memastikan semuanya?"


Isyana terdiam tanpa kata. Dirinya sendiri tidak memiliki solusi untuk memecahkan masalah ini.


"Kita bisa lakukan secara diam-diam agar tidak melukai perasaannya, dengan begitu… kita bisa merasa lega, dan tidak sampai melukai perasaannya," ucap Sandy lagi.


Isyana tampak menimbang-nimbang. Ia tidak ingin melakukan apa yang di sarankan suaminya, tapi bagaimana pun ia ingin mendapatkan kepastian dan kejelasan mengenai semua ini.


Isyana juga ingin tahu kebenarannya, sama halnya seperti Sandy yang sama penasarannya seperti dia.


"Baiklah, ayo kita lakukan," tuturnya pelan. Isyana sempat menghela napasnya berat sebelum mengambil keputusan.


Di sisi lain, sementara mereka berbincang sejak tadi. Rei, bisa dengan jelas mendengarkan pembicaraan mereka.


...***...