
...***...
"Tapi, saya benar-benar tidak bisa," tolaknya lagi.
"Ayolah kau harus membantuku!" Leon memelas. Elvina terdiam dibuatnya, ia tampak memikirkan kembali permintaan Leon. "Hanya kau yang dapat membantuku sekarang ini."
Elvina menghela napasnya pelan setelah diam beberapa saat. "Baiklah, saya bantu," finalnya.
Leon merekahkan senyum mendengarnya. "Tapi sebelum itu, saya harus cari adik saya dulu untuk memberitahukan padanya kalau saya harus pergi." Elvina berbalik siap melangkah, Leon menarik tangannya cepat.
"Tidak ada waktu. Nanti saja kau beritahu padanya aku sudah benar-benar terlambat."
"Ta…"
"Kita harus bergegas," potongnya cepat.
"Baiklah, ayo. Biar saya hubungi adik saya lewat ponsel." Elvina beranjak dari sana bersama dengan Leon. Mereka melangkah menuju jalan dimana letak rumah Elvina berada.
...*...
Rei terus membasuh mulutnya dengan menggunakan air keran yang ada di toilet umum tak jauh dari taman. Berulang kali juga dirinya berkumur guna menetralisir jejak yang Melinda tinggalkan.
"Dia benar-benar tidak tahu malu. Bahkan dengan santainya ia bertanya namaku," gerutu Rei yang tampak kesal. Pikirannya terus di datangi oleh kejadian beberapa saat yang lalu ketika Melinda dengan sengaja mengecup bibirnya, lalu dengan santai menanyakan namanya.
"Aku tidak habis pikir dengan tingkahnya." Rei membasuh wajahnya berusaha untuk menjernihkan pikirannya.
Ketika matanya terpejam, Rei lagi-lagi melihat apa yang akan terjadi. Dalam kilasan yang dilihatnya, Rei melihat William yang berjalan seorang diri dengan Melinda yang bergerak dibelakang mengikutinya.
Rei membuka matanya cepat. Raut wajahnya terkejut bukan main ketika melihat apa yang baru saja diterawangnya lewat kilasan itu.
"Aku harus segera memberitahunya." Rei bergegas keluar dari dalam toilet.
...*...
Sekarang kena kau. Melinda merekahkan senyum, ia memusatkan seluruh energinya pada kening yang dalam seketika membuat dirinya lenyap, berkamuflase bagaikan udara yang tak terlihat.
Melinda melangkah menghampiri William dari arah belakang. Lelaki itu kini berjalan pelan, sedikit bersantai sambil melihat pemandangan indah di sekelilingnya.
"Aku suka warna hijau," gumam William pelan. Di sekelilingnya yang dapat ia lihat hanyalah hijau yang mendominasi, hamparan rumput hijau, dan pepohonan yang rindang. Ia terus melangkah menyusuri jalan setapak yang tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang saja yang melintas, itupun sesekali dan selebihnya hanya dirinya seorang.
William menghirup oksigen dalam-dalam, rasanya begitu menyegarkan apalagi dengan banyaknya pepohonan yang tampak sejuk.
William… Mendadak suara itu terngiang di gendang telinganya. Ia tersentak begitu suara Rei di dengarnya.
William menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Matanya mengedar menatap sekeliling, lagi-lagi tidak ada siapa-siapa. Hanya dirinya seorang.
Ini aku, berbicara dengan kemampuan telepatiku! Rei memberikan penjelasan.
Astaga Rei, kau benar-benar membuatku terkejut! Mungkin karena ini pertama kalinya kau berbicara dengan menggunakan kemampuan telepatimu, jadi aku belum terbiasa. Tapi, kenapa kau ingin berbicara denganku lewat telepati? Kau dimana?
Tidak ada waktu untuk menjelaskan keberadaanku, yang pasti kau sedang berada dalam bahaya. Ada seorang perempuan yang beberapa waktu lalu berusaha menangkap Elvina! Wanita itu kini berada di sekitarmu.
Apa? Darimana kau… jangan bilang kau melihatnya lewat mimpimu?
Iya. Kau harus berhati-hati agar kau tidak tertangkap olehnya. Dia memiliki kemampuan berkamuflase yang membuatnya bisa tidak terlihat olehmu.
...***...