
...***...
Kukunya perlahan menembus permukaan kulitnya, merobek bagian lehernya hingga darah kembali mengucur.
"Tidak, lepaskan dia!" Derek bangun. Belum sempat ia berdiri, tubuhnya kembali ambruk ke lantai.
Pricilla sudah tak bisa bergerak sama sekali. Hanya tersisa sedikit kesadaran dalam dirinya.
Air mata wanita itu menetes membasahi kedua belah pipinya.
Derek, aku senang bisa mengenalimu…
Derek kembali berusaha untuk bangkit dengan sekuat tenaganya hingga dia benar-benar bisa bangkit.
"Lepaskan dia!" teriak Derek.
Ia berlari menuju arah Mads yang makin mendorong tubuh Pricilla ke arah dinding.
Mendengar teriakannya, Mads berubah fokus menatapnya.
Derek mengepalkan kedua tangannya. Memusatkan seluruh energinya pada kedua telapak tangannya.
Ia menggerakkan kedua tangannya menyingkirkan tubuh Mads dari Pricilla.
Brukk!
Mads terpental ke arah lain. Bersamaan dengan itu, tubuh Pricilla yang terkulai, jatuh di lantai.
"Pricilla!" Derek berjongkok di dekatnya. Menangkap tubuh wanita itu hingga berada dalam pelukannya.
"B… bertahanlah…" Derek menggenggam erat tangannya. Air matanya lolos begitu saja melihat kondisi wanita itu yang begitu berantakan.
Pricilla terdiam. Ia menatap wajah Derek yang kini menangisinya. Tubuhnya tak bisa digerakkan dan hanya tersisa sedikit saja kesadarannya.
Darahnya terus mengalir. Terbuang dari tubuhnya. Pricilla mengalami pendarahan.
"Aku mohon, bertahanlah. Aku akan segera membawamu pergi. Kita ke rumah sakit. Kau harus selamat!" Derek berucap lirih. Suaranya terdengar gemetar, berusaha menahan tangisnya.
Pricilla terdiam memperhatikannya. Air mata juga mengalir membasahi wajahnya.
"A… aku minta maaf…" Setelah bersusah payah, akhirnya ia mampu mengeluarkan suara.
"A… aku ragu, aku a… akan bisa bertahan selama itu…"
"Aku akan membantumu bertahan. Aku mohon, jangan menyerah." Derek berusaha membantunya bangun. Tapi Pricilla berusaha menahannya.
"S… sisa waktuku tidak banyak. S… sebelum aku pergi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu…"
"Jangan. Jangan katakan apapun, kau pasti bisa selamat! Kau harus selamat. Kau sudah bilang kalau kau ingin bersamaku selamanya 'kan? Maka dari itu, jangan pergi…"
"M… maaf, karena aku terlambat mengatakannya…"
"…M… maaf karena aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan perasaanku padamu…"
"…D… dan maaf, karena aku tidak bisa mewujudkan keinginan kita untuk bersama lebih lama. Ku… kuharap, di kehidupan selanjutnya, kita bisa dipersatukan kembali seperti yang kita harapkan…"
"…Derek… izinkan aku mengatakannya sekali lagi untuk yang terakhir kalinya…"
"…Aku, mencintaimu…" Pricilla tersenyum.
"…Derek," lirihnya yang kemudian terpejam dengan tubuh terkulai.
"Tidak, tidak!" Derek memeluk erat tubuh Pricilla yang kini sudah tak lagi bernapas.
Tangisnya semakin pecah kala Pricilla tak lagi bisa merespon setiap perlakuannya.
"Bangun. Jangan tinggalkan aku sekarang!" Derek mengguncang tubuh Pricilla berulangkali, berharap wanita itu merespon pergerakannya.
"Arghh!" Derek mengerang, meluapkan seluruh kesedihannya.
"Aku mohon, bangunlah…" Derek masih tidak bisa percaya semua ini. Ia masih belum bisa terima ini, orang yang dicintainya. Satu-satunya orang yang menemaninya dikala pelariannya, harus pergi meninggalkannya.
"Pricilla, aku mohon… bangunlah." Derek mengguncang tubuhnya berulangkali. Tapi semua usahanya sia-sia. Pricilla sudah benar-benar tak bernyawa.
"Tidak ada gunanya menangisi yang telah mati!" Mads datang tergopoh-gopoh.
Derek menoleh ke arah datangnya suara. Ia mendelik tajam ke arah Mads yang sama sekali tidak merasa bersalah setelah membunuh wanita yang dicintainya.
"Kau…"
...***...