
...***...
Rei membuka matanya saat ia melihat apa yang akan terjadi dengan Lusia dalam penerawangannya.
Lusia dalam bahaya, aku harus menolongnya. Rei bergegas pergi dari tempatnya berada.
"Kyaaaa!!!" Belum sempat Rei tiba di lokasi tempat Lusia berada, ia sudah mendengar teriakannya lebih dulu.
Rei mempercepat langkah kakinya. Berlari sekuat yang ia bisa hingga akhirnya tiba di sana.
...*...
Lusia berjongkok dan mengintip lewat celah yang dilihatnya. Tapi begitu ia melihat ke bawah sana, sesuatu mendadak bergerak keluar.
Bayangan, seperti tangan yang bergerak menuju arahnya. Menembus melewati celah kecil yang ada di bawah sana dan mencengkeram erat kakinya.
"Kyaaa!"
Lusia refleks menjerit saat tangan itu mencengkram kakinya secara tiba-tiba.
Brukk!
Tubuhnya jatuh sebelum sempat ia berbalik dan lari. Lusia berusaha memberontak. Tangan itu kini bergerak menarik kakinya hingga membuat tubuhnya terseret di tanah.
"Lusia!" Rei tiba di sana dengan raut wajah panik.
"Rei…"
Bergegas Rei berjalan menghampirinya, ia menarik tangan Lusia dan berusaha membuat tubuhnya bebas dari cengkraman kaki yang kini menarik tubuhnya.
Sial, terlalu kuat. Aku tidak bisa menarik tubuhnya, pikir Rei yang kesulitan mencari tubuh Lusia untuk bangun.
Gadis itu semakin terseret menuju arah pintu kayu yang dilihatnya.
"Tolong aku Rei!" Lusia panik bukan main.
"Bertahanlah! Aku tidak akan melepaskanmu!" Rei semakin menggunakan kekuatannya untuk menarik tubuh Lusia.
Rei tiba-tiba merasakan sesuatu bergerak merayap melalui lehernya. Hal itu membuat konsentrasinya terpecah.
Tangan pria itu melingkar pada leher Rei, ia mengencangkan tangannya hingga membuat Rei kesulitan untuk bernapas.
Cengkraman tangan Rei dari Lusia perlahan mulai mengendur hingga akhirnya lepas.
"Kyaaa!!!" Lusia terseret jauh ke arah pintu kayu di sana. Begitu tubuhnya tiba di ujung, pintu di sana mendadak terbuka dan Lusia hilang di balik sana.
"Lusia!!" Rei berusaha memberontak, sialnya pria di belakangnya itu terlalu kencang mencekiknya.
"Aku senang karena kau datang di saat yang tepat. Jadi aku tidak perlu repot-repot mencari ide untuk menangkapmu. Satu tepuk, dua lalat berjatuhan." Pria itu kembali bergumam.
Rei terus memberontak guna membebaskan dirinya. "Lepaskan aku!"
Rei menginjak kaki pria itu kencang hingga membuatnya kesakitan, setelah itu menyikut perutnya sampai cekikannya lepas.
Rei bergerak cepat membalikkan tubuhnya menghadap pria yang kini meringis kesakitan akibat Rei yang menyerangnya secara tiba-tiba.
Brukk!
Rei mendadak tersungkur jatuh saat salah satu makhluk mengerikan yang berdiri di sana menepuknya kencang dalam satu kali kibasan tangannya.
Rei meringis, tubuhnya benar-benar terasa sakit. Lebih sakit daripada ketika ia merasakan pukulan dari manusia atau evolver.
"Siapa kau sebenarnya…" Rei berusaha untuk bangkit. Namun salah satu makhluk yang bersamanya menahan tubuhnya agar tidak bisa bangun.
Pria itu berjalan menghampiri Rei dan berdiri tepat di hadapannya. "Ternyata kau memang memiliki tenaga yang benar-benar kuat."
Pria itu menyeringai. Ia tak mengindahkan ucapan Rei sama sekali.
Rei menatapnya tajam. Berulang kali ia berusaha untuk bangun dan lepas dari cengkraman mereka, tapi selalu gagal.
"Lepaskan aku!" teriak Rei.
"Kau tidak akan bisa lepas dariku. Kau akan ikut denganku pergi menuju tempat dimana tuan berada."
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Aku ingin tahu."
...***...