
...***...
"Jangan biarkan dia lolos, Lusia!"
Lusia menggerakkan tangannya di udara. Dengan gesturnya, dia membentuk sebuah belati super tajam dari metal yang diambil dari pakaiannya. Dalam satu kali sentilan tangan, benda itu langsung bergerak dengan begitu cepat. Melesat menuju arah Cato yang berlari sekuat tenaga.
Jleb!
Belati itu menusuk tepat di punggungnya. Cato membelalakkan matanya. Tubuhnya langsung membatu di tempatnya dengan wajah pucat. Rasa sakit menjalar di punggungnya begitu benda itu menusuk lewat punggungnya. Saking sakitnya, Cato sampai tidak bisa berkata-kata. Lusia tidak tinggal diam. Begitu belati itu menusuk ke dalam tubuhnya, wanita itu langsung menggerakkan tangannya. Gestur yang dibuatnya membuat belati itu perlahan membesar.
"Arghhh...." Cato mengerang kesakitan. Bersamaan dengan itu, darah mengucur dengan derasnya dari tubuhnya. Semua orang terdiam melihat apa yang wanita itu lakukan. Tapi apa yang dia lakukan selanjutnya membuat mereka semua melongo.
Lusia menggerakkan tangannya sekali lagi. Gestur tangannya bergerak seolah mendorong udara di sekitarnya. Dengan kekuatannya, dia mendorong belati yang kian membesar itu semakin dalam ke tubuhnya. Dalam satu hentakkan lagi, tubuh Cato seketika terdorong dengan begitu cepatnya ke arah tebing yang ada di sana.
Brukk!!
Tubuh lelaki itu menghantam tebing dengan begitu kencang. Hantaman itu membuat belati yang menusuk tubuhnya menembus keluar perutnya dan menancap tepat di tanah tebing. Bersamaan dengan itu, Cato tewas tak bernyawa dengan posisi tubuh melayang tertancap di tebing dengan belati yang masih menancap di tubuhnya. Darah semakin banyak keluar mengucur membasahi tanah.
Rei dan yang lainnya menahan napas. Mereka semua memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Adegan itu cukup membuat mereka syok berat.
Lusia menarik belati itu. Membuat tubuh Cato jatuh terkulai di tanah dalam keadaan bersimbah darah tak bernyawa.
Di sisi lain, Derek entah kenapa merasakan kekosongan dalam dirinya begitu melihat apa yang terjadi. Dia seolah merasa begitu kehilangan melihat Cato tewas di depan matanya sendiri.
"Tugas selesai, prof..." Lusia kembali menghampiri Martin yang berdiri di sana.
"Kerja bagus. Sekarang kita hanya perlu menghancurkan serangga lain yang mengganggu." Martin menatap lurus ke depan. Menatap ke arah Rei dan yang lainnya.
"Apa yang harus aku lakukan, prof?"
"Gunakan kekuatanmu untuk memanggil semua evolver yang ada. Semakin banyak bala bantuan, semakin mudah kita menaklukkan mereka."
"Laksanakan, prof." Lusia memejamkan kedua matanya, memusatkan seluruh kekuatannya pada satu titik. Mengirimkan seluruh sinyal perintah untuk datang ke tempat mereka berada.
Di sisi lain, Elvina dan yang lainnya bangkit dengan tertatih sambil memandangi mereka dengan raut wajah bingung. "Apa yang dia lakukan?" gumam Elvina sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Aku tidak tahu. Tapi perasaanku mengatakan akan ada hal buruk lain yang menimpa kita," balas Luna. Tak lama kemudian, Lusia kembali membuka matanya. Untuk sesaat tidak terjadi apa-apa, namun kemudian secara tiba-tiba cahaya muncul dari berbagai sudut mereka.
"Apa ini..."
...***...