
...***...
Joe berbalik, menghempaskan tangannya hingga membuat seluruh keadaan kembali berputar dengan beberapa kerusakan yang semula terjadi, kembali seperti sedia kala.
Tak ada yang menyadari kekacauan yang terjadi selain Elvina, Rei, William, Joe, dan Louis.
"Aku akan kembali! Akan aku susun rencana lebih matang agar aku bisa menangkap kalian! Kalian semua! Akan aku pastikan itu." Joe mengepalkan tangannya erat. Ia terus melangkah pergi dari tempatnya.
Elvina, Rei dan William menoleh ke sekeliling. Keadaan sudah kembali seperti normal.
"Joe sepertinya sudah pergi," gumam William.
"Kami juga harus pergi. Kau lebih baik kembali dan temui Leon. Jangan biarkan dia kebingungan mencari keberadaanmu yang mendadak hilang." Rei bangun tertatih.
"Ya, benar. Kalian harus melanjutkan kencannya." William menimpali.
"Tapi bagaimana dengan kalian? Rei, kau masih lemah." Elvina mencemaskan keduanya.
"Tidak perlu khawatir, lagipula aku ada bersamanya. Kami akan pulang dengan aman."
"Will benar. Jadi lebih baik kau lanjutkan acara kalian. Jangan membuatnya kecewa."
"Baiklah, kalau begitu hati-hati."
"Ya."
Elvina berbalik, melangkah pergi lebih dulu. Meninggalkan Rei dan William yang kini berdiri di sana. Mereka berdua lalu beranjak meninggalkan tempat itu.
...*...
"Elvina!" Leon berlari menghampiri wanita yang baru saja tiba di sana. "Aku sudah mencarimu sejak tadi. Kau darimana?" Leon cemas.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?" Leon membelalakkan mata saat melihat keadaannya yang cukup berantakan. Elvina belum sempat membereskan penampilannya setelah pertarungannya dengan Joe.
"Kecelakaan? Astaga. Tapi kau tidak apa-apa, kan?" Leon mengecek tubuh Elvina dari atas sampai bawah, memutar tubuhnya bolak-balik guna memastikannya.
"Aku hanya terluka sedikit."
"Sedikit apanya! Lihat ini, kau terluka cukup parah. Banyak sekali lebam dan lecet di tubuhmu! Apakah kau yakin ini hanya kecelakaan kecil?"
"Iya, sungguh. Kau tidak perlu secemas itu, aku sungguh baik-baik saja."
"Tidak bisa seperti itu! Kau terluka bagaimana mungkin aku tidak cemas. Ayo ikut aku!" Leon menarik tangan Elvina menuju sebuah tempat.
Ia membawanya ke sisi lain taman bermain. Leon mendudukkan Elvina di salah satu bangku yang ada di sana.
"Tunggu sebentar di sini!" Leon beranjak sebelum Elvina sempat bertanya kemana ia akan pergi. Lelaki itu berlari begitu cepat dari tempatnya, Elvina hanya bisa diam memandanginya dengan raut wajah bingung.
Apa yang hendak dia lakukan? pikirnya sambil menaikkan sebelah alisnya.
Tak lama, Leon kembali dengan kantong kresek putih dalam genggamannya. Ia berlari menuju arah dimana dirinya terduduk.
Leon berjongkok dihadapannya. Elvina terkejut, entah apa yang hendak ia lakukan.
Lelaki itu mengeluarkan barang-barang dalam kantong plastik yang di belinya.
Rupanya Leon membeli obat, dan plester untuk lukanya.
Leon mengobati luka Elvina dengan cekatan, tatapannya fokus pada luka yang di rawatnya.
Elvina terdiam memandangi wajah serius Leon. Ini adalah kali kedua Leon mengobati lukanya seperti ini.
Elvina merasakan jantungnya berdebar. Wajah serius Leon yang tenang seperti ini, sekaligus raut wajah cemasnya tadi, adalah dua hal dari sosok Leon yang ia lihat hanya ketika melihatnya terluka.
"Lain kali, jangan pernah terluka tanpa sepengetahuanku seperti ini lagi. Aku akan melindungiku, agar kau tidak terluka."
...***...