
Baik Kenzo dan Vanya tidak terkejut mendengar perkataan Celina. Mereka justru terlihat geli setelah mendengar perkataan Celina tadi.
"Eh, benarkah yang dikatakan tante ini, Mas? Kamu dulu pernah menyukainya?" Tanya Vanya berpura-pura terkejut sambil memandang wajah sang suami.
Kenzo menggelengkan kepalanya sambil balik menatap wajah Vanya.
"Dulu aku khilaf, Yang. Mata dan hatiku masih rabun tertutup kabut gunung kembar." Jawab Kenzo ngasal.
Vanya yang mendengar jawaban sang suami pun langsung mencebik dan menghadiahi cubitan pada perutnya.
"Ngawur ngomongnya." Gerutu Vanya.
Sementara Celina yang melihat interaksi keduanya merasa sangat geram. Dia masih menatap wajah Kenzo dan Vanya dengan tatapan tidak sukanya. Vanya yang menyadari dia dan suaminya masih diperhatikan oleh Celina pun menoleh.
"Nah, seperti yang tante dengar, saat itu suami saya sedang khilaf tante. Jadi bisa dipastikan jika dia sedang tidak dalam kondisi normalnya." Jawab Vanya.
"Tapi Kenzo masih menyukaiku!" Kata Celina.
Sontak Kenzo dan Vanya melongo mendengar perkataan Celina.
"Eh, ada ya orang yang yakin banget dengan perasaan orang lain seperti ini." Kata Vanya. "Dengar ya tante, saya sangat tahu siapa suami saya. Saya jamin seratus persen jika suami saya tidak menyukai anda. Saya tahu selera suami saya, dia suka yang montok dan besar. Lha punya tante hanya segitu, saya benar-benar yakin suami saya khilaf saat SMA." Lanjut Vanya.
"Apa maksud kamu?!" Bentak Celina tidak terima.
"Sudah, sudah. Aku tidak mau kalian berdebat lagi!" Kali ini Kenzo benar-benar geram. "Dengar Cel, jauhi keluargaku. Aku tidak ingin melihatmu lagi di sekitar keluargaku. Kamu akan menyesal jika masih memaksa melakukannya. Kamu tahu benar siapa keluargaku. Ingat itu!" Ancam Kenzo.
Celina benar-benar terkejut melihat ekspresi wajah Kenzo. Dia benar-benar bukan Kenzo yang dikenalnya semasa SMA dulu. Kenzo sudah benar-benar berubah. Celina sedikit merinding mendengar perkataan Kenzo. Ya, dia sangat tahu siapa keluarga Abram tersebut. Mereka adalah keluarga yang sangat berpengaruh. Celina tidak akan bisa melakukan apapun setelah ini.
Tanpa menunggu jawaban dari Celina, Kenzo menarik lengan Vanya agar segera pergi dari tempat tersebut. Dia sudah merasa jengah jika harus berurusan dengan Celina.
Kenzo mengajak Vanya segera berjalan menuju mobilnya. Dia mengendarai mobilnya sendiri karena Reyhan mengantarkan Fida pulang ke rumahnya. Vanya hanya bisa mengikuti ke inginan Kenzo.
Keesokan harinya, Reyhan benar-benar melakukan lamaran terhadap Fida. Semua anggota keluarga Kenzo turut hadir dalam acara tersebut. Setelah pembicaraan yang cukup alot, akhirnya diputuskan jika pernikahan akan dilangsungkan saat libur semester Fida, yaitu sekitar dua bulan lagi. Fida hanya bisa pasrah menerima keputusan keluarga besarnya. (Cerita lengkap Fida dan Reyhan ada sendiri ya)
Satu bulan lebih sudah berlalu, kini Vanya dan Kenzo tengah berada di ruang tunggu pemeriksaan. Vanya akan memeriksakan kandungannya. Meski HPL masih sekitar dua minggu lagi, namun Vanya tetap rajin memeriksakan kehamilannya. Apalagi aktivitas hokya-hokya yang mereka lakukan juga tidak tanggung-tanggung.
Saat itu, Vanya ingin makan bubur ayam. Dia meminta Kenzo untuk membelikannya sementara dirinya menunggu di depan ruangan dokter Friska. Vanya selalu menolak jika Kenzo meminta jalur pintas saat periksa. Vanya merasa tidak enak dengan para ibu hamil lainnya yang juga tengah menunggu.
Sambil menunggu panggilan, Vanya memainkan ponselnya dan sesekali mengedarkan pandangan ke sekitar rumah sakit tersebut. Saat itulah Vanya melihat seseorang tengah berjalan sambil membawa sebotol air minum. Vanya sangat mengenali wanita itu.
"Mbak Erika!" Panggil Vanya sedikit berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya agar wanita yang dipanggilnya mendengar.
Dan benar saja, wanita tersebut menoleh dan sesaat kemudian berjalan menghampiri Vanya. Mereka saling peluk dan menanyakan kabar masing-masing.
"Jadi, mbak Erika sudah kembali lagi ke Indo?" Tanya Vanya memastikan.
"Iya, setelah pernikahan adik Mbak waktu itu, suami Mbak dipindahtugaskan ke Singapura selama kurang lebih satu tahun. Ini sudah selesai dan juga sudah menetap lagi ke Indo." Jawab mbak Erika.
"Lalu, bagaimana keadaan Angel sekarang Mbak?" Tanya Vanya.
Sebelum menjawab pertanyaan Vanya, mbak Erika menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali dengan berat. Setelahnya, mbak Erika menjelaskan kondisi putrinya yang terkena DB dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit tersebut. Setelahnya, mbak Erika juga meminta maaf kepada Vanya tentang tingkah Rasha dulu.
"Dari mana mbak Erika tahu?" Tanya Vanya keheranan. Dia merasa tidak memberitahukan masalah itu kepada siapapun.
"Dari suami Mbak. Hampir semua keluarga Mbak sudah mengetahui hal itu, Van. Kami sangat malu. Kami juga menyayangkan Rasha bisa terpengaruh dengan omongan Elsa yang licik itu." Kali ini mbak Erika sangat geram.
"Iya, Van. Mbak tahu siapa Elsa itu. Dia adalah istri siri Gusti Danuarta, atasan suami Mbak yang baru." Jawab mbak Erika.
"Hhaaa?! Gusti Danuarta yang pengusaha itu, Mbak?" Tanya Vanya terkejut.
"Iya, dan asal kamu tahu, sekitar satu tahun yang lalu ini pak Danu mengalami kecelakaan. Dan selama kurang lebih satu tahun ini beliau menjalani terapi untuk penyembuhannya. Jadi, saat mengetahui Elsa tengah berbadan dua, beliau langsung menceraikannya. Pak Danu merasa tidak ikut ambil bagian di kehamilan Elsa kali ini." Jelas mbak Erika.
Vanya sangat terkejut mendengar penjelasan mbak Erika. Dia benar-benar tidak menyangka ceritanya jadi seperti itu. Tak berapa lama kemudian, mereka segera mengakhiri pembicaraan tersebut. Mbak Erika harus segera kembali ke ruangan sang putri, sementara Vanya melakukan pemeriksaan.
Hari berganti hari, hari ini sudah memasuki hari kesebelas sejak pemeriksaan terakhir Vanya. Malam itu, Vanya merasakan perutnya mengalami beberapa kali kontraksi. Vanya yang saat itu tengah berada di atas tempat tidur langsung mencoba untuk beranjak berdiri. Dia mulai mencatat waktu kontraksi sambil berjalan hilir mudik di dalam kamar.
Kenzo yang sudah terlelap tidak menyadari jika sang istri sudah mengalami kontraksi. Vanya melirik jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 03.09 dini hari. Dirinya sudah merasa tidak kuat lagi menahan sakit sejak sekitar tiga jam yang lalu. Vanya segera membangunkan sang suami.
Kenzo benar-benar panik saat mengetahui sang istri sudah mengalami kontraksi. Dia segera membawa sang istri ke rumah sakit. Sebelumnya, Vanya sudah memberikan pesan kepada dokter Friska jika dirinya sudah mengalami kontraksi. Jadi, saat Vanya sudah sampai di rumah sakit, dia langsung mendapat penanganan.
Kenzo benar-benar panik saat menemani proses kelahiran sang putra. Dia benar-benar tidak tega saat melihat istrinya berjuang untuk melahirkan putranya. Kenzo membiarkan sang istri mencakar menjambak bahkan mencengkram lengannya.
Sekitar dua jam kemudian, lahirlah seorang bayi berjenis kelamin laki-laki. Kenzo sangat terharu melihat sang lutra sudah lahir ke dunia. Setelah di bersihkan, Kenzo segera mengadzani putranya. Sementara Vanya segera mendapat perawatan pasca melahirkan.
Siang itu, hampir seluruh keluarga besar mereka sudah berbondong-bondong datang ke rumah sakit untuk mengunjungi putra Kenzo. Mama Tari sangat bahagia mendapatkan cucu pertamanya.
"Waahh, ternyata berfungsi dengan baik juga persneling kamu, Zo. Mama kira sudah karatan. Hahaha." Goda mama Tari sambil menciumi cucu pertamanya.
"Ccckkk. Enak saja. Sudah lihat hasilnya sebagus itu, ya masih berfungsi dengan baik lah, Ma." Gerutu Kenzo.
Semua keluarga yang berada di sana hanya bisa tertawa mendengar perkataan Kenzo.
"Iya, iya. Mama juga sudah yakin jika masih berfungsi dengan baik. Lalu, siapa nama cucu mama?"
"Elleon Gabbriel Abram"
End
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Terima kasih sudah menemani othor sampai sini.
Silahkan mampir di cerita othor yang lainnya juga ya.