The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Berbeda



Beberapa saat kemudian, terdengar seseorang mengetuk pintu. Vanya segera beranjak berdiri untuk membukakan pintu, dan ternyata orang tersebut mengantarkan pesanan makanan yang telah dipesan oleh Reyhan tadi.


Vanya segera menerima dan membawanya masuk. Dia segera membuka makanan nasi padang yang ada di depannya. Karena merasa sangat lapar, Vanya segera mulai menyantap makan siangnya.


Ketika sedang menikmati makan siangnya, Kenzo tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya sambil membuka pintu dengan kerasnya. Dia sedikit terkejut ketika melihat Vanya tengah menyantap makan siang di ruangannya. Sama halnya dengan Vanya, dia sedikit tersedak karena terkejut dengan kedatangan Kenzo yang tiba-tiba. Kenzo yang melihat Vanya kesulitan menelan makanannya segera menyerahkan air putih yang ada di depannya kepada Vanya. Vanya pun menerima dan segera meminumnya. Setelah berhasil menelan makanannya, Vanya menatap Kenzo dengan tatapan mata tajam.


“Ada apa?” tanya Kenzo dengan santainya ketika mendapat tatapan tajam dari Vanya.


Vanya mendengus kesal mendengar pertanyaan Kenzo. “Ada apa, ada apa. Nggak lihat ini hampir tersedak karena terkejut. Bisa tidak sih buka pintu nggak usah keras seperti itu,” protes Vanya.


“Memangnya kenapa, ini kan ruanganku,” jawab Kenzo.


“Ya, meskipun ini ruangan Mas, tapi alangkah baiknya jika salam dulu kek, atau apa gitu sebelum masuk. Bisa saja mama atau papa yang ada di dalam. Bisa kaget Mas,” kata Vanya. Sementara Kenzo hanya memutar bola matanya dengan jengah. Dia paling tidak suka diatur-atur. 


Vanya yang melihat Kenzo tidak menanggapi perkataannya segera melanjutkan makannya. Sementara Kenzo masih mengamati Vanya yang tengah menyantap makan siangnya.


“Kenapa kamu membawa makan siang kesini?” tanya Kenzo. “Lagi pula ini kan sudah lewat jam makan siang,” lanjutnya.


“Salah siapa yang menyuruhku segera datang cepat-cepat ke sini dan melewatkan makan siangku?” jawab Vanya. 


Kenzo yang mendengar jawaban Vanya hanya memutar bola matanya. Anak ini memang tidak bisa di debat. Bisa-bisa aku darah tinggi terus nanti, batin Kenzo.


“Sudah, cepat habiskan makananmu. Kita harus segera pergi ke tempat temannya mama. Mama sudah menelepon dari tadi,” kata Kenzo. Vanya hanya mengangguk mengiyakan. Dia tidak ingin mendebat Kenzo lagi.


Beberapa saat kemudian, Vanya telah menyelesaikan makan siangnya. Dia segera membersihkan sisa makan siangnya. Vanya juga meminta izin untuk merapikan diri dulu sebelum berangkat. Setelah semua siap, Kenzo dan Vanya segera berangkat menuju butik temannya mama.


Sesampainya di butik, Kenzo dan Vanya langsung disambut oleh mama dan temannya. Mereka terlihat sangat bersemangat melihat kedatangan Kenzo yang membawa calon istrinya.


“Jadi ini calon istri kamu Ken?” tanya tante Risma, pemilik butik temannya mama Tari. “Cantik sekali, dan masih sangat muda,” lanjut tante Risma.


Vanya hanya menurut saja ketika tante Risma dan mama Tari memintanya untuk mencoba berbagai model kebaya. Hingga kebaya keempat yang dicobanya terlihat sangat pas di badannya. 


“Cantik sekali,” kata mama Tari yang langsung disetujui oleh tante Risma. “Kita tunjukkan dulu kepada Kenzo, dia suka apa tidak dengan pilihan kita,” lanjut mama Tari sambil menarik lengan Vanya dengan lembut. Vanya hanya bisa menuruti keinginan mama Tari.


Sementara itu, Kenzo juga terlihat sedang mencoba pakaiannya dengan dibantu oleh dua orang karyawan tante Risma. Kenzo membulatkan matanya ketika melihat pantulan tubuh Vanya yang dibalut dengan kebaya dengan rambut yang digelung acak-acakan ke atas. Kenzo segera berbalik dan menatap Vanya tanpa berkedip.


Kenapa dia terlihat berbeda sekali, batin Kenzo.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Jangan lupa dukungannya ya, like, vote dan komen


Biar tambah semangat upnya 


Thank you kaka 🤗🤗