
"Ancaman?! Apa maksud kamu?!" Tanya Kenzo. Rahang wajahnya sudah terlihat mengeras menahan emosi. Netra matanya menatap tajam ke arah Vanya seolah menuntut jawaban.
Vanya menghembuskan napas beratnya sambil melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Kenzo sambil mengusap dada sang suami dengan pelan.
"Aku tidak terlalu memikirkannya, Mas. Beberapa hari yang lalu, si Elsa itu menatapku tajam dari depan rumah. Saat aku tanya apa ada yang bisa aku bantu, eh dia malah jawab seperti ini, aku nggak butuh bantuanmu. Kamu nikmati saja hidupmu sekarang, toh sebentar lagi juga kamu akan menangis-nangis darah. Begitu jawabannya, Mas." Kata Vanya.
Seketika tubuh Kenzo menegang. Dia merasa sangat geram dengan tingkah Elsa. Dia akan mengawasi si Elsa itu mulai sekarang.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Aku akan memberi peringatan kepada perempuan itu untuk tidak mengganggu kamu lagi." Kata Kenzo berusaha menenangkan Vanya.
Vanya tersenyum sambil kembali memeluk Kenzo. Dia tahu jika sang suami tengah mengkhawatirkannya.
"Tenang saja, Mas. Aku tidak takut dengan kutilang itu. Aku pasti akan selalu menjaga diri. Terlebih lagi, sekarang sudah ada ini." Kata Vanya sambil memindahkan tangan Kenzo ke atas perutnya.
Perasaan Kenzo menghangat saat tangannya menyentuh perut sang istri. Dia tidak pernah membayangkan dirinya akan merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Kenzo segera membantu sang istri untuk segera beristirahat setelahnya.
Keesokan harinya, Kenzo dan Reyhan berangkat ke kantor lumayan pagi. Sementara Vanya di rumah dengan di temani Fida. Mereka tengah membereskan meja makan dan dapur pagi itu.
"Kamu beruntung Van tidak merasakan ngidam yang aneh-aneh." Kata Fida sambil mengangkat piring kotor.
"Ngidam aneh-aneh gimana maksudnya?" Tanya Vanya. Karena ini kehamilan pertamanya, dia belum memiliki pengalaman apa-apa sebelumnya.
"Ya, permintaan yang aneh-aneh gitu. Dulu, waktu tanteku hamil, dia sering bangun tengah malam dan meminta suaminya untuk mencarikan makanan yang aneh-aneh. Iya kalau makanannya mudah di cari, jika susah dicari ya nggak pulang suaminya." Kata Fida.
Seketika Vanya menghentikan langkahnya yang hendak menuju dapur. Dia berhenti menatap wajah Fida yang tengah membersihkan meja makan.
"Benarkah begitu?" Tanya Vanya.
"Iya. Tapi biasanya gejala ngidam setiap orang hamil kan beda-beda, Van." Jawab Fida.
"Apa mungkin di kehamilanku ini yang ngidam bukan aku?" Tanya Vanya.
"Hhaa, maksudnya?"
Flashback on.
Vanya merasakan lengannya di goyang-goyangkan. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil berbalik.
"Ada apa, Mas?" Tanya Vanya dengan suara seraknya. Dia sempat melirik jam di atas nakas yang masih menunjukkan pukul 01.16 dini hari.
"Usap-usap kepalaku dong." Pinta Kenzo.
Byaarrr.
Seketika mata Vanya membulat sempurna saat mendengar jawaban Kenzo. Biasanya sih tengah malam begini Kenzo membangunkan dirinya untuk olahraga malam. Namun kali ini permintaan Kenzo terasa aneh.
"Usap kepala? Memangnya kenapa? Mas Kenzo nggak keramas?"
"Enak saja. Aku selalu keramas ya. Sudah, lakukan saja seperti ini." Jawab Kenzo sambil meraih tangan Vanya dan menggerakkannya diatas kepalanya sambil memberikan contoh gerakan.
Vanya mengikuti kemauan Kenzo sambil berusaha memejamkan mata. Namun belum sempat Vanya terlelap, dia sudah merasakan gerakan tubuh Kenzo yang semula membelakanginya kini berbalik menghadapnya. Vanya membuka matanya sambil melihat perbuatan Kenzo.
"Ada apa lagi, Mas?"
"Kata Friska, aku tidak boleh sering-sering jenguk baby karena masih rentan, kan. Aku mau memeriksa yang lainnya kalau begitu." Jawab Kenzo.
"Memeriksa apa maksudnya, Mas? Memangnya kamu dokter apa. Sudah, sini aku usap-usap deh. Cepet tidur lagi." Kata Vanya sambil berusaha meraih kepala Kenzo.
Namun, belum sempat Vanya menyentuh kepala Kenzo, tangannya sudah dicengkeram oleh Kenzo.
"Aku sudah nggak mau di usap-usap. Aku mau memeriksa calon sumber nutrisi baby." Kata Kenzo sambil mulai membuka kancing depan baju tidur Vanya.
Selama sekitar lima belas menit Kenzo melakukan keinginannya, dia segera menghentikan aksinya. Kenzo langsung beranjak turun dari tempat tidur dan terburu-buru berjalan menuju kamar mandi. Sementara Vanya yang melihatnya hanya bisa membulatkan mata dan mulutnya.
Flashback off.
"Hhaaa, sampai segitunya suami kamu Van?" Tanya Fida.
"Ya, mau bagaimana lagi. Kemarin-kemarin sih saat belum tahu tentang kehamilan ini kami biasa saja melakukan aktivitas itu, tapi setelah mengetahui kehamilan ini, kami berusaha untuk menguranginya." Jawab Vanya.
"Hhmmm, sepertinya suami kamu yang ngidam ini Van." Kata Fida.
"Semoga tidak aneh-aneh ngidamnya." Jawab Vanya. Setelahnya, mereka kembali melakukan aktivitasnya.
Tiga hari berlalu, mama Tari sudah berada di rumah Kenzo. Beliau sangat antusias setelah mendengar berita kehamilan Vanya. Mama Tari bahkan mengajak bi Ani untuk membantu-bantu di rumah Kenzo. Mama Tari tidak ingin jika Vanya mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Vanya dan Kenzo hanya bisa pasrah menerima perintah mama Tari.
Hal yang sama juga dirasakan oleh orang tua Vanya. Mereka sangat antusias sekali mendengar berita kehamilan Vanya. Namun, ayah dan ibu Vanya belum bisa datang karena masih di desa akan ada pemilihan kepala desa. Ayah Vanya yang menjadi salah satu perangkat desa pun tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
Satu minggu berlalu, Vanya tengah menemani bi Ani membuat sambal ijo di dapur. Saat akan pulang tadi, Kenzo sudah meminta Vanya untuk membuatkan makan malam ayam goreng dengan sambal ijo dan lalapan daun kemangi. Kenzo juga tidak mau ada sendok di meja makan. Dia ingin makan langsung pakai tangan. Vanya sudah mulai terbiasa dengan tingkah aneh Kenzo.
Malam itu, Reyhan ikut pulang bersama Kenzo. Dia juga ikut makan malam di rumah Kenzo. Mau tidak mau, Reyhan juga harus mengikuti keinginan Kenzo malam itu.
"Bagaimana perkembangan hubungan kamu dengan Fida, Rey?" Tanya Vanya.
Reyhan menoleh menatap Vanya sambil menghembuskan napas beratnya.
"Masih sama, Nona. Kami bahkan belum mulai sama sekali." Jawab Reyhan.
"Jadi, selama satu minggu ini kalian masih belum ngapa-ngapain?" Tanya Vanya.
"Ngapa-ngapain apa maksudnya, Yang? Kamu ingin mereka melakukan apa?" Tanya Kenzo.
"Bukan begitu, Mas. Maksudku, masa iya mereka belum melakukan apa gitu, makan bareng, jalan atau nonton. Mereka kan harus melakukan pendekatan, Mas. Biar akting mereka terlihat beneran." Jawab Vanya.
Reyhan hanya bisa menghembuskan napas beratnya setelah mendengar perkataan Vanya.
"Aku akan menghubungi Fida. Besok kan weekend, kalian bisa kencan seharian." Kata Vanya dengan antusias.
Sementara Kenzo dan Reyhan hanya saling tatap. Reyhan meminta bantuan Kenzo melalui sorot matanya, namun Kenzo hanya bisa mencebikkan bibirnya sambil mengangkat bahu sebagai jawaban jika dirinya tidak bisa membantu.
Reyhan hanya bisa pasrah menerima keinginan Vanya. Reyhan bisa melihat Vanya tengah mengotak atik ponselnya. Dia yakin jika saat itu Vanya tengah menghubungi Fida.
"Done. Besok pagi kamu jemput Fida di rumahnya. Perkenalkan diri kamu sebagai pacar Fida, dan minta ijin untuk mengajaknya keluar. Tunjukkan jika kamu laki-laki yang patut diperhitungkan sebagai calon menantu." Kata Vanya penuh semangat.
"Kenapa harus seperti itu, Nona?" Reyhan berusaha memprotes.
"Ya memang harus seperti itu. Memangnya kamu mau menjemput anak gadis orang di depan gang?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Akan ada kejadian apa ya besok? 🤔