The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 35



Rean langsung membulatkan kedua mata dan mulutnya setelah mendengar perkataan sang mama. Bagaimana mungkin dia akan melakukan apa yang dikatakan oleh mama Revina, sedang Dena saja sudah mewanti-wanti untuk menjaga jarak dengannya setelah menikah. Rean hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar perkataan mamanya.


Tak berapa lama kemudian, keluarga Rean segera pamit. Mereka minta langsung pulang karena harus menyiapkan segala keperluan untuk acara ngunduh mantu esok hari.


Setelah seluruh keluarganya pulang, Rean langsung beranjak memasuki rumah. Masih ada para pekerja yang bertugas untuk membersihkan tempat acara. Orang tua Dena pun juga terlihat sedang mengobrol dengan para anggota keluarga lain yang masih belum pulang.


Papi Hendra, yang melihat Rean tengah berjalan menuju ruang tengah, segera memanggil menantu barunya tersebut. 


"Re, tadi papa kamu bilang jika kamu lupa bawa baju ganti. Ini, ada kaos Papi. Masih baru, kok. Masih ada labelnya juga. Tapi, mungkin, agak kebesaran di kamu. Papi kan lebih gemuk dari kamu. Hehehe," papi Hendra menyerahkan paper bag kepada Rean.


"Eh, ini buat aku, Pi?"


"Iya. Tadi papa kamu sudah bilang kepada Papi. Cepat bersih-bersih dan ganti baju dulu, gih. Setelah itu, kita makan siang bersama. Oh iya, ganti bajunya sementara di kamar tamu saja, ya. Di kamar Mayang masih banyak tukang rias yang membantu melepas aksesoris."


"Iya, Pi."


Setelah itu, Rean langsung beranjak menuju kamar tamu. Dia segera membersihkan diri dan mengganti baju. Beruntung papi Hendra memberikannya dua stel baju dan juga sebuah sarung. Jadi, bisa digunakan untuk tidur nanti. Siapa tau Dena jadi semakin penasaran dengan isi sarung, hehehe.


Tak berapa lama kemudian, Rean sudah selesai membersihkan diri. Dia segera keluar dan bergabung dengan seluruh keluarga Dena. Namun, Rean masih belum melihat keberadaan Dena. 


Kemana perginya? Sejak selesai acara, aku bahkan belum melihatnya sama sekali. Jangan-jangan dia kabur lagi. Masa iya aku sudah jadi duda setelah turun dari pelaminan? batin Rean. Dia langsung menggeleng-gelengkan kepala untuk menepis pikirannya yang sudah mulai ngelantur.


Papi Hendra yang melihat tingkah Rean langsung menoleh. "Ada apa, Re?" Papi tampak penasaran.


"Eh, tidak apa-apa, Pi." Rean mengulas senyumannya. 


Papi menyadari jika Rean masih melirik ke arah tangga. Dia pasti menunggu kedatangan Dena. "Istri kamu belum selesai membersihkan diri. Papi juga heran, apa saja sebenarnya yang perlu dibersihkan," ucap papi Bagas sambil menggelengkan kepala.


Rean hanya bisa mengulas senyuman. Setelah itu, obrolan dengan keluarga lainnya berlanjut. Hingga setelah selesai makan siang, keluarga besar Dena sudah mulai berpamitan. Dena sempat keluar kamar sebentar untuk menemui keluarga besarnya yang hendak berpamitan. 


Hingga menjelang petang, Rean sama sekali tidak bertemu dengan Dena. Rean kembali ke kamar tamu dan membersihkan diri. Rean juga mendapat beberapa pesan pada ponselnya dari sang mama. Mama Revina memberikan banyak wejangan kepada sang putra untuk tidak langsung tunjek poin saat bersama dengan Dena.


Sontak saja Rean langsung melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Dia menggerutu sendiri dengan kesal. "Mana ada tunjek poin. Ketemu saja seperti kucing-kucingan," gerutu Rean. 


Setelah itu, dia keluar kamar tamu untuk menuju ruang makan. Betapa terkejutnya Rean saat melihat Dena sedang membantu mamanya dan asisten rumah tangga untuk menyiapkan makan malam. Rean langsung menyunggingkan senyuman saat kedua pasang mata mereka tak sengaja bertemu.


Dena tampak biasa-biasa saja saat bersitatap dengan Rean. Namun, bagi Rean itu sudah cukup. Rean tak henti-hentinya mengulas senyuman. Belum sehari saja tidak melihat sang istri, rasa hatinya sudah meledak-ledak karena rindu. 🤮


Papi Hendra yang menyadari tingkah Rean pun langsung bersuara. "Mi, nanti malam jika mau tidur jangan lupa nyalakan televisi dengan volume yang keras."


"Eh, memangnya kenapa, Pi?" tanya sang mami bingung.


"Ya, biar kita nggak mendengar suara berisik di kamar sebelah. Sepertinya, cucu kita sudah mau otewe, nih. Pabrik dan adonannya sudah mulai lirik-lirikan."


Seketika Rean dan Dena langsung menoleh ke arah sang papi. Rean dengan ekspresi kaget dan malunya, sedangkan Dena dengan ekspresi kesalnya.


Kedua orang tua Dena masih semangat menggoda sepasang pengantin baru tersebut. Hingga setelah selesai makan malam, papi Hendra mengajak Rean mengobrol sementara Dena dan sang mami membersihkan meja makan.


Setelah cukup larut, Rean segera pamit untuk beristirahat. Papi Hendra menunjukkan letak kamar Dena yang berada di lantai dua. Sebenarnya, Rean masih ragu untuk tidur di kamar Dena. Dia merasa tidak enak karena si empunya tidak menawari hal itu. Namun, sang papi tetap memaksa. Mau tidak mau, Rean menyetujui hal itu.


Sebelum beranjak ke kamar Dena, Rean mengganti celananya dengan sarung. Dia tidak bisa tidur dengan pakaian yang ketat atau sempit seperti itu. Setelah selesai, Rean langsung beranjak menuju kamar Dena.


Tok tok tok.


\=\=\=


Kira-kira, dibukain nggak ya?