The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 19



""Ada apa, Miss?" tanya Rean sambil menghentikan motornya di depan mobil yang tengah mogok tersebut.


Seketika perempuan yang tengah bersandar di bagian depan mobil tersebut mendongakkan kepala. Dia mencebikkan bibir saat mendapati Rean tengah turun dari motor.


"Mogok."


"Eh, mogok? Memangnya kenapa?"


"Mana aku tau?! Aku nggak ngerti mesin mobil."


"Boleh saya periksa, Miss?" tawar Rean. Ya, perempuan tersebut tak lain adalah miss Dena. Mobilnya tiba-tiba mogok saat dalam perjalanan pulang dari kampus.


Seketika miss Dena berpindah dari posisinya. Dia memberikan akses kepada Rean untuk memeriksa mobilnya. Rean segera mencoba untuk menghidupkan mobil tersebut dan membuka bagian mesin. Setelah beberapa saat kemudian, Rean kembali menoleh ke arah miss Dena.


"Ini harus dibawa ke bengkel, Miss. Saya tidak punya alat untuk membetulkannya," ujar Rean.


"Iya. Aku sudah menghubungi pihak bengkel. Mereka akan datang kesini sebentar lagi."


Rean mengangguk mengiyakan. Saat dia hendak bersuara, tiba-tiba datang seseorang yang menaiki sebuah motor.


"Maaf, Non saya terlambat. Tadi macet dan hujan deras sekali," ucap seorang laki-laki yang berusia sekitar lima puluh tahun tersebut.


"Nggak apa-apa, Pak. Terus, ini Bapak bawa motor, aku pulangnya bagaimana?" Miss Dena menatap motor dan laki-laki tersebut bergantian.


"Ehm, maaf, Non. Tadi Papinya Non Mayang bilang saya harus cepat-cepat. Saya tidak tahu jika saya harus bawa mobil, Non." Laki-laki tersebut hanya menundukkan kepala.


Terdengar miss Dena menghembuskan napas beratnya. "Tadi, aku memang menghubungi Papi untuk meminta Pak Min datang kesini. Selain menjaga mobil ini sampai petugas bengkel datang, juga agar aku bisa tukar mobil. Jika begini, bagaimana caraku pulang, Pak? Aku kan nggak bisa bawa motor laki."


"Maaf, Non. Saya benar-benar tidak tahu." Pak Min tampak merasa bersalah. Wajah tuanya semakin terlihat tidak enak. 


Miss Dena yang menyadari hal itu, lagi-lagi menghembuskan napas berat. "Ya sudah, tidak apa-apa. Aku akan memesan ojek online saja," ujar miss Dena sambil merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.


"Ehm, kalau boleh, saya saja yang mengantarkan miss Dena pulang. Bagaimana?" tawar Rean.


Miss Dena menoleh ke arah Rean dengan kening berkerut. Dia tampak tidak setuju dengan usul tersebut. "Nggak usah, terima kasih. Aku akan memesan ojek online saja."


"Baiklah tidak apa-apa. Jika Anda mau memesan ojek online di jam-jam seperti ini, silahkan saja, Miss. Ini kan jam-jam pulang kantor. Bisa dipastikan mereka sudah banyak mengantarkan penumpang. Jika Anda mau menunggu ya silahkan. Lagipula, ini sudah hampir magrib. Ada perempuan cantik di tempat tidak biasa seperti ini, pasti akan sangat menyenangkan bagi para laki-laki hidung belang." Rean memanas-manasi miss Dena.


Miss Dena dan Pak Min sedikit kaget setelah mendengar perkataan Rean. "Iya, Non. Sebaiknya, Non Mayang pulang bareng Mas ini. Di sini bahaya, Non. Takutnya ada orang jahat di sekitar sini," ujar Pak Min.


Yes, yes. Sepertinya aku akan berhasil. Wuaahhh, boncengin gebetan, seperti apa ya rasanya? Bisa-bisa bibirku kelu karena senyum terus, batin Rean kegirangan.


Miss Dena tampak berpikir sebentar. Setelah itu, dia menoleh ke arah Rean yang terlihat cuek, tapi dalam hati sangat mengharapkan jawaban 'iya' dari miss Dena tersebut.


"Baiklah kalau begitu."


Rean hampir melompat kegirangan. Namun, dia berusaha mati-matian menahan kegembiraannya dengan bersikap tenang.


"Ehm, maaf saya tidak bawa helm double, Miss. Kita lewat jalan alternatif apa tidak apa-apa?" tanya Rean sambil menaiki motor hitam kesayangannya.


"Terserah, lewat mana saja."


"Kalau lewat pelaminan bagaimana, Miss?"


\=\=\=


Kenapa Rean nggak ngomongnya langsung njeplak, sih? 😫😫


Heran deh, siapa yang ngajarin?