The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 36



Tok tok tok.


Tak berapa lama kemudian, terlihat ada gerakan pada knop pintu kamar tersebut. Rean mundur satu langkah untuk memberi jarak pada pintu yang terbuka.


Ceklek. Tampak Dena membukakan pintu kamar tersebut. Wajahnya masih terlihat basah. Sepertinya, dia baru saja dari kamar mandi.


Dena melihat penampilan Rean malam itu dengan kening berkerut. Rean memang memakai kaos oblong dan sarung, yang semuanya merupakan pemberian dari papi Hendra. Sedangkan Dena sendiri, dia sudah memakai baju tidur seperti biasa, dengan lengan pendek dan celana pendek se lutut.


"Masuklah. Jangan membuat papi dan mami curiga," ucap Dena sambil mengayunkan pintu lebar-lebar, agar Rean bisa masuk.


Rean segera mengangguk dan langsung melangkah memasuki kamar Dena. Dia berhenti sebentar di dekat sofa yang ada di dekat pintu kamar tersebut.


Setelah mengunci pintu, Dena segera berjalan menuju meja rias. Dia menoleh ke arah Rean yang masih berdiri sambil mengamati kamarnya.


"Buatlah senyaman mungkin. Tidak usah memikirkan hal-hal lain. Seperti yang sudah kita bicarakan, kita sudah saling berjanji untuk memulai pernikahan ini dengan baik. Dan untuk itu, aku pegang janji kamu, Re." Dena menatap Rean dari pantulan kaca meja riasnya.


Sebenarnya, Rean merasa cukup tersentil dengan perkataan Dena. Perkataan itu, seolah-olah membuat pernikahan ini terasa seperti main-main meskipun sudah sah secara hukum dan agama. Namun, sebisa mungkin Rean tetap menjaga ekspresinya agar tidak membuat Dena semakin kesal.


"Tentu saja, Miss. Kita sudah berjanji, dan aku pasti akan melaksanakannya. Ngomong-ngomong, dimana aku tidur, nih? Rasanya badanku sudah pegal-pegal semua." Rean menggerak-gerakkan bahu dan punggungnya hingga menimbulkan bunyi krek-krek.


Dena menoleh sekilas ke arah Rean, sebelum menjawab." Tidur di tempat tidur saja. Jika tidur di sofa, tubuh kamu pasti akan sakit. Besok masih ada acara lagi," ucap Dena sambil kembali melanjutkan aktivitasnya.


Dena yang mendengar perkataan ngelantur Rean langsung menoleh. "Jangan bermimpi terlalu jauh. Terkadang, mimpi dan angan-angan itu memang menyenangkan. Tapi, jika itu tidak sesuai dengan kenyataan, bisa menimbulkan penyakit hati. Jika sudah begitu, akan bisa memunculkan penyakit lainnya yang lebih kompleks. Jadi, berusahalah untuk tetap sehat."


Rean hanya bisa mencebikkan bibir setelah mendengar jawaban Dena. "Aku sehat, Miss. Aku juga nggak punya penyakit bawaan apapun. Jadi, Anda tidak perlu khawatir."


"Baguslah kalau begitu," jawab Dena sambil mengedikkan bahunya. Setelahnya, dia kembali melanjutkan aktivitasnya membersihkan wajah.


Rean yang melihat hal itu langsung berbalik memunggungi Dena. Rean merasa benar-benar capek dengan aktivitasnya hari ini. Sebelum terlelap, Rean juga melepaskan ikatan sarungnya dan membiarkan sarung tersebut membungkus tubuhnya.


Dena yang melihat tingkah Rean dari pantulan kaca hanya bisa menggelengkan kepala. Tak berapa lama kemudian, Rean sudah terlelap. Dena juga segera menyusul Rean dan berbaring di sisi tempat tidur yang lainnya.


Malam itu, benar-benar tidak terjadi apa-apa diantara Rean dan juga Dena. Keduanya sama-sama kelelahan dengan serangkaian prosesi akad hingga temu manten tadi pagi hingga siang.


Keduanya masih terlelap, hingga terdengar suara gedoran pintu kamar. Mami dan Papi Dena sudah berada di depan kamar Dena.


"Astaga, ini anak dua kenapa belum bangun saja sih, Pi. Padahal sudah Mami gedor-gedor dari tadi. Apa mungkin mereka celap celup buat teh celup, Pi?"


\=\=\=\=


Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. Kasih vote juga boleh, mumpung senin 🤗