The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 131



Acara lamaran Rean sudah berlangsung semalam. Shanum yang sudah bertemu langsung dengan Dena, calon istri Rean, sudah tidak merasa khawatir lagi. Shanum mengetahui jarak usia keduanya yang tidak lebih dari lima tahun tersebut merasa sedikit lebih lega. Dia juga merasa jika wajah Dena tidak terlalu tua bagi Rean. Mereka terlihat sangat cocok.


"Bagaimana, sudah tidak merasa khawatir lagi, kan?" Tanya Cello saat membantu sang istri memindahkan twins ke dalam box bayinya.


"Iya. Kemarin pikiranku saja yang sudah parnoan lebih dulu, Mas. Hehehe,"


"Makanya, jangan langsung menilai segala sesuatunya sebelum mengetahui apa yang sebenarnya. Bahkan, hanya dengan pandangan mata saja pendapat kita bisa jadi salah," kata Cello.


"Iya, Mas. Maafkan aku. Kemarin aku hanya khawatir dengan kehidupan Rean nanti. Tapi, setelah aku bertemu dengan Dena, ternyata dia tidak seburuk yang aku kira. Dia juga terlihat sangat menyukai anak kecil," jawab Shanum dengan wajah berbinar bahagianya.


"Eh, anak kecil? Maksudnya?"


"Semalam dia terlihat sangat suka dengan Drew dan Dryn. Sepertinya, dia sudah siap untuk mempunyai anak."


"Eh, apa itu maksudnya Rean akan segera memiliki anak begitu dia menikah?" 


Seketika Shanum terdiam. Dia baru menyadari hal itu setelah mendengar perkataan sang suami. Benar apa yang dikatakan oleh Cello. Apa mungkin Rean akan mempunyai anak pada usia yang belum genap dua puluh tahun nanti? Shanum benar-benar tidak bisa memikirkan hal itu.


Cello yang melihat kekhawatiran sang istri, segera mendekatinya. Dia harus menenangkan Shanum agar tidak berpikir yang macam-macam. Cello khawatir hal itu nanti akan berpengaruh pada kualitas asi untuk kedua jagoannya.


"Sayang, jangan memikirkan hal itu. Kita serahkan saja kepada Allah. Apapun yang terjadi nanti, yakinlah itu yang terbaik untuk rumah tangga Rean dan Dena."


"Iya, Mas. Aku akan berusaha untuk tidak memikirkan hal itu. Tapi, pernikahan mereka akhir bulan ini, Mas. Apa tidak terlalu cepat, ya?"


"Aku rasa, mereka semua sudah memikirkan hal itu baik-baik. Kita hanya bisa membantu persiapannya."


"Tapi kamu sudah harus berangkat sebentar lagi," kata Shanum dengan bibir mengerucut.


Cello yang melihat hal itu menjadi semakin gemas. Tanpa aba-aba dia langsung menyambar bibir sang istri. Dil*matnya bibir lembut tersebut dengan rakus. Jangan tanyakan apa yang dirasakan oleh Shanum. Sekujur tubuhnya mendadak meremang setelah mendapatkan serangan dadakan dari sang suami.


Setelah merasa kehabisan oksigen, Cello langsung melepaskan pagutan benda kenyal tersebut. Dia menempelkan keningnya pada kening sang istri. Napas ngos-ngosan keduanya nampak memburu.


"Kita sudah sepakat dengan hal ini, Yang. Aku sudah tidak bisa mundur lagi. Mau tidak mau aku harus berangkat," kata Cello sambil menatap manik sang istri. Shanum mengangguk mengiyakan. 


"Iya, Mas. Aku juga paham hal itu. Lagi pula, pertengahan bulan depan aku juga akan menyusul kamu, Kan. Kita akan tinggal bersama di sana nanti."


"Benar. Jika bukan karena itu, kamu kira aku akan tahan apa berada di luar negeri selama itu. Bisa-bisa aku cantengan nanti."


"Ccckkkk, mana ada itu cantengan, Mas. Yang ada itu jadi...," belum sempat Shanum menyelesaikan perkataannya, bibirnya sudah kembali di bungkam oleh Cello.


Mohon maaf, untuk cerita Rean nanti ada cerita sendiri secara terpisah. Dia tetap ada di cerita ini, tapi tidak diceritakan secara detail. 🙏