The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 5



"Hhaaah, apa?"


Gadis yang masih berdiri di depan Rean tersebut tampak terkejut dan mengerutkan keningnya. Dia masih menatap Rean yang masih berdiri sambil mengulurkan ponselnya.


"Tolong bantu ketikkan nomor ponselmu disini," pinta Rean.


"Untuk apa?"


"Ya, siapa tahu aku mengalami gegar otak dan harus mendapatkan perawatan. Jadi, aku bisa langsung menghubungimu nanti."


Gadis tersebut mengerucutkan bibirnya. Tanpa menunggu lagi, gadis tersebut segera mengambil ponsel Rean dan segera mengetikkan beberapa angka di sana. Setelah selesai, dia segera mengembalikan ponsel tersebut kepada Rean.


"Itu sudah aku ketikkan. Sekali lagi aku minta maaf karena kelalaianku tadi. Permisi." Kata gadis tersebut langsung beranjak meninggalkan Rean tanpa menunggu jawaban.


Rean masih menatap punggung gadis tersebut hingga berbelok masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Ternyata ada cewek secantik itu disini. Hhhmmm, jadi tambah semangat kuliah disini," gumam Rean sambil mengulas senyumannya.


Seketika dia tersadar dengan nomor ponsel yang sudah diketikkan tadi. Rean segera memeriksa nomor tersebut. Dan, betapa terkejutnya dia saat melihat deretan angka dan nama yang diketikkan disana.


IGD RS Permata


+62854826xxxxx


Kedua bola mata dan mulut Rean langsung terbuka lebar. Dia mendengus kesal karena baru menyadari telah di kerjai oleh gadis tadi.


"Si*lan. Ternyata ini nomor igd. Awas saja jika ketemu lagi nanti. Aku pastikan tidak hanya nomor ponsel yang kamu berikan, tapi juga hati kamu," gumam Rean.


Hari itu, Rean sudah menyelesaikan urusannya di kampus. Menjelang siang, dia segera mengendarai motor besarnya menuju cafe sang kakak ipar. Dia sudah membuat janji dengan kakak iparnya tersebut.


Malam itu, Rean terlihat sedang bergelung di karpet ruang tengah. Dia memainkan ponselnya ditemani oleh suara televisi yang sedang menyala. Rean tidak memperhatikan ketika kedua orang tuanya baru saja pulang dari rumah kakek dan neneknya.


"Kamu di rumah, Re?" tanya papa Bian sambil mendudukkan diri di sofa samping Rean.


Rean mendongakkan kepala, dan mendapati sang papa sudah ada di sana. "Lho, Papa dan Mama sudah pulang?" Bukannya menjawab pertanyaan Papa Bian, Rean justru balik bertanya.


"Sudah dari tadi, Re. Kamu sibuk main ponsel ters dari tadi," gerutu mama Revina dari arah dapur.


"Hehehehe, maaf, Ma. Nggak fokus tadi," ujar Rean sambil tersenyum nyengir.


"Bagaimana pendaftaran kuliah kamu? Sudah beres semua?"


"Sudah, Pa. Tinggal menunggu jadwal saja ini."


"Mobil?" Rean menoleh ke arah sang papa dengan kening berkerut.


"Papa kan sudah janji mau membelikanmu mobil jika sudah mulai masuk kuliah, apa kamu lupa?"


Rean menggelengkan kepala. "Tidak, Pa. Tapi, untuk saat ini aku belum membutuhkan mobil. Aku lebih suka naik motor, Pa. Lebih cepat. Jika pakai mobil, pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk pergi ke kampus dan distro."


Papa Bian terlihat masih belum sependapat dengan perkataan sang putra. "Meskipun begitu, kamu tetap membutuhkan kendaraan besar untuk mobilitas kamu, Re. Moso iyo arep numpak motor lak gowo barang akeh. Iso numplek kabeh, Re. (Masa iya mau naik motor jika membawa banyak barang, bisa jatuh semua, Re)"


Rean hanya bisa menghembuskan napas beratnya setelah mendengar perkataan sang papa. "Iya, deh. Nanti Rean pikirin mau mobil apa," ujarnya kemudian.


Obrolan masih terus berlanjut setelah itu. Rean dan sang papa memang sering mengobrol saat memiliki waktu luang seperti itu. Sesekali, mama Revina juga ikut bergabung dengan mereka.


***


Beberapa waktu pun berlalu. Kini, Rean sudah mulai menjalani masa-masa kuliahnya. Hari ini, adalah hari pertama Rean masuk kuliah. Di kuliah perdana ini, Rean sudah bersiap sejak pagi.


"Kamu mulai kuliah jam ke berapa, Re?" tanya mama Revina saat mengambilkan nasi untuk sarapan papa Bian.


"Jam kedua, Ma. Jadi bisa agak siangan dikit berangkatnya."


Papa dan mama mengangguk-anggukkan kepala. "Meskipun jadwal agak siang, jangan terlalu mepet berangkatnya, Re. Biar nggak terburu-buru," ucap papa Bian.


Belum sempat Rean menyahuti perkataan papa Bian, terdengar suara papa Bian mengaduh.


"Aduuuh, Yang. Kenapa pinggangku dicubit, sih." Papa Bian tampak menggerutu dan menatap ke arah mama Revina.


"Itu sebenarnya tau jika berangkat jangan mepet-mepet. Lalu, kenapa hampir setiap pagi kamu selalu saja menggangguku setiap mau berangkat ke kantor?" gerutu mama Revina sambil menatap wajah sang suami.


Papa Bian tampak menggaruk pelipisnya sambil melirik ke arah sang putra yang terlihat mencebikkan bibir.


"Ya, aku kan juga mau di charge dulu sebelum berangkat ke kantor, Yang."


"Kamu pikir ponsel begitu, butuh di charge pakai powerbank segala?!" Mama Revina mendengus kesal.


"Ya, bisa dibilang begitu, Yang. Coba saja tanya ke yang lainnya. Mereka juga pasti butuh cadangan energi."


\=\=\=


Eh, memang begitu ya untuk para laki-laki? 🤔