The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Jangan Melihat dari Luar



"Aku tahu kamu sudah menikah dan aku juga tahu alasan kamu menikah dengannya." Kata Rasha tiba-tiba.


Vanya sedikit tersentak dengan perkataan Rasha. Dia mengernyitkan dahinya bingung setelah mendengar perkataan Rasha.


"Apa maksudmu?" Tanya Vanya bingung.


Rasha tersenyum sinis sambil mengamati Vanya dari atas sampai bawah. Dia perlahan mendekat ke arah Vanya. Melihat gelagat Rasha dia sedikit mundur. Dia khawatir dengan sikap Rasha.


"Aku tahu kamu sudah menikah dengan Kenzo Julian. Dan, aku juga tahu jika kamu mengincar harta Kenzo. Ccckkk, ternyata gadis yang aku kira polos ternyata memiliki pemikiran licik seperti itu." Kata Rasha sambil masih mengamati Vanya.


Plakk


Sebuah tanda tangan kasar mengenai pipi mulus Rasha. Vanya begitu geram dengan omongan Rasha yang seolah-olah menghinanya. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki di depannya itu. Vanya merasa tidak mengenal laki-laki itu lagi. 


"Jaga omonganmu!" Hardik Vanya sambil mengacungkan jarinya. "Jangan banyak omong jika kamu tidak tahu apa-apa!" Bentak Vanya sambil berlalu dan menyenggol bahu kanan Rasha.


Setelahnya, Vanya segera berlalu menuju kasir. Dia bahkan melupakan daftar belanjaannya yang masih kurang. Hatinya benar-benar panas setelah mendengar perkataan Rasha.


Vanya segera memesan taksi online. Dia melupakan jika Kenzo akan menjemputnya setelah selesai berbelanja. Setelah beberapa menit perjalanan, Vanya baru teringat dengan pesan sang suami. Dia buru-buru meminta sang supir untuk menuju kantor sang suami. Vanya memutuskan menunggu Kenzo di sana.


Sepuluh menit kemudian, Vanya sudah sampai di depan kantor Kenzo. Ini pertama kali baginya datang ke kantor Kenzo. Vanya masih berdiri di depan kantor tersebut. Vanya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat sebelum berjalan memasuki lobi kantor Kenzo. Vanya segera berjalan menuju resepsionis.


"Selamat siang Mbak, bisa saya bertemu dengan bapak Kenzo?" Tanya Vanya pada seorang petugas resepsionis bernama Diah.


Diah hanya menoleh sekilas menatap wajah Vanya. Selanjutnya, dia kembali menatap Vanya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Diah menyunggingkan senyum tipisnya setelah mengamati penampilan Vanya. Ya, penampilan Vanya saat ini memang sangat sederhana. Dia hanya memakai celana jean berwarna hitam, kaos putih biasa dan memakai sandal jepit merk smellow berwarna hitam. Di kedua tangannya juga menenteng dua kantong berisi barang belanjaan yang baru di belinya tadi.


"Ada perlu apa dengan pak Kenzo? Apa anda sudah membuat janji?" Tanya Diah dengan sedikit sinis.


Vanya mengernyitkan keningnya. Apa aku harus buat janji dulu sebelum bertemu dengan suami? Batin Vanya.


"Saya belum buat janji Mbak." Jawab Vanya.


"Kalau begitu, akan sangat sulit untuk bertemu dengan bos kami. Beliau itu sangat sibuk, jadi saya harap anda tidak membuang-buang waktu bos kami hanya untuk menemui anda." Jawab Diah.


Vanya terkejut mendengar perkataan wanita di depannya itu. Dia tidak habis pikir jika orang di depannya ini bisa di tempatkan di bagian resepsionis. Apa jadinya dengan citra perusahaan jika sampai para tamu asing diperlakukan seperti dirinya saat ini. Vanya benar-benar geram.


Vanya langsung meletakkan barang belanjaannya di lantai. Kemudian, dia segera mengambil telepon untuk menghubungi sang suami.


"Hallo Sayang, sudah selesai belanjanya?" Tanya Kenzo begitu panggilan sudah terhubung.


"Segera turun sekarang Mas. Aku ada di lobi kantor. Segera!" Vanya langsung mematikan ponselnya setelahnya.


Setelah panggilan teleponnya terputus, Vanya langsung memasukkannya kembali ke dalam saku celananya. Dia masih berdiri di depan resepsionis sambil menunggu Kenzo datang.


Tak berapa lama kemudian, Kenzo keluar dari lift khusus dan berjalan dengan langkah lebar menuju Vanya yang masih berdiri di depan meja resepsionis. Reyhan dengan setia mengikuti Kenzo berjalan di belakangnya.


"Sayang, kenapa tidak langsung naik ke ruanganku. Kamu bisa menungguku meeting di sana." Kata Kenzo sambil mengecupi pipi Vanya.


Vanya sempat risih mendapati perlakuan Kenzo yang membuatnya malu. Namun, dia tetap membiarkan apa yang dilakukan sang suami. Vanya sempat melirik Diah yang berada di posisinya. Perempuan muda tersebut masih terlihat shock dengan apa yang dilihatnya.


"Maaf Mas, aku tidak tahu ruangan kamu. Lagipula, aku juga tidak mau mengganggu pekerjaan kamu." Kata Vanya.


"Kamu kan bisa tanya petugas resepsionis Sayang. Mereka pasti akan memberitahu ruanganku. Atau setidaknya, mereka akan menghubungi Reyhan. Aku nggak mau kamu menungguku terlalu lama di luar seperti ini." Kata Kenzo dengan nada sedikit keras.


Vanya melirik Diah dan seorang temannya lagi. Mereka terlihat ketakutan saat melihat Kenzo tidak suka jika sang istri menunggunya di lobi.


"Iya, iya. Maafkan aku Mas. Ini kan pertama kali aku datang ke sini sebagai istri kamu. Lain kali, aku akan langsung pergi ke ruangan kamu Mas, atau paling tidak aku akan menghubungi Reyhan." Kata Vanya berusaha menenangkan sang suami. Dia juga tidak memberitahukan sang suami tentang kelakuan petugas resepsionisnya. Vanya tidak ingin mereka mendapat masalah. Namun, dia tetap akan memberikan peringatan kepada mereka secara pribadi.


"Baiklah, baiklah. Sekarang, tunggu aku di ruanganku. Aku akan selesaikan meeting sebentar. Sepuluh menit lagi kita akan pulang." Kata Kenzo sambil memberikan kecupan pada kening Vanya.


"Ehm, aku menunggu disini saja Mas, kan cuma sebentar." Kata Vanya.


Kenzo mengernyitkan keningnya merasa tidak setuju. Namun, dia akan tetap menuruti permintaan sang istri.


"Baiklah, tunggu disini sebentar. Aku akan menyelesaikan meeting dulu." Kata Kenzo sambil memeluk Vanya sekilas. Setelahnya, dia dan Reyhan kembali ke ruang meeting untuk melanjutkan meeting yang sempat tertunda.


"Aku tidak melaporkan perbuatanmu kepada suamiku karena aku tidak ingin kamu mendapatkan masalah. Namun, satu hal yang aku minta, segera ubah tingkah lakumu yang seperti tadi. Tolong jaga nama baik perusahaan. Siapapun yang datang dan akan menemui seseorang disini, sapa dan layani dia dengan baik. Jangan membuat citra perusahaan buruk hanya karena tingkah laku para petugas front office." Kata Vanya.


"I-iya Bu. Sa-saya minta maaf. Sa-saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan seperti ini lagi." Kata Diah sambil menunduk.


"Bagus. Saya harap, kamu bisa cepat belajar." Kata Vanya.


"I-iya Bu." Jawab Diah sambil masih menunduk.


Tak lama kemudian, Kenzo terlihat keluar dari dalam lift dan berjalan menuju ke arah Vanya. Setelahnya, Kenzo dan Vanya segera keluar dari lobi menuju mobil Kenzo.


"Sudah semua belanjaannya?" Tanya Kenzo begitu sudah berada di dalam mobilnya.


"Belum semua sih Mas. Tapi, barang-barang kebutuhan utama sih sudah. Aku malas belanja sendirian." Kata Vanya.


"Kenapa nggak ngajak Fida?" Tanya Kenzo.


"Fida lagi ada masalah Mas, aku nggak enak mengganggunya." Jawab Vanya.


Sebenarnya, bukan itu alasan utama Vanya tidak menyelesaikan belanjanya tadi. Dia merasa kesal karena bertemu dengan Rasha.


"Fida ada masalah apa? Perasaan anak itu selalu ceria." Tanya Kenzo.


"Dia mau dijodohkan oleh orang tuanya." Jawab Vanya.


"Lhah kok bisa. Memangnya Fida belum punya pacar?" Tanya Kenzo.


"Itu dia masalahnya Mas, dia tidak bisa menolak karena tidak ada alasan yang kuat." Jawab Vanya.


"Berapa usia Fida?" Tanya Kenzo.


"Sama dengan aku Mas, dua puluh tahun." Jawab Vanya.


"Hhhmm, dia mau nggak ya kalau dijodohkan dengan Reyhan?" Tanya Kenzo.


"Hhaaahhh?! Kenapa Reyhan?" Tanya Vanya balik.


"Ya, biar Reyhan belajar lebih ceria. Fida kan rame banget anaknya, dan agak gesrek otaknya." Kata Kenzo sambil terkekeh geli.


"Ah, kalau itu tidak usah diragukan lagi." Jawab Vanya.


"Coba deh nanti kamu obrolin dulu sama Fida Yang. Untuk Reyhan, biar jadi urusanku." Kata Kenzo.


"Iya Mas."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Gimana jadinya jika Reyhan yang kalem dan selalu penurut itu dijodohkan dengan Fida yang otaknya gesrek dan sedikit bar-bar ya? 🤔🤔


Mohon dukungannya ya, like, komen dan vote


Thank you