The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 66



Tiga hari setelah pengakuan Cello, kini Shanum mulai sering mengunjungi sang suami di fakultasnya. Sebenarnya, banyak yang mengetahui jika Cello sudah menikah. Termasuk, asisten dosen yang sering mengganggu Cello.


Namun, mereka belum tahu siapa istri Cello yang sebenarnya. Mereka lebih sering mengira-ngira siapa sebenarnya istri Cello. Mengingat mereka beda fakultas dan jarang terlihat bersama-sama.


Hari itu, Shanum menemani sang suami untuk mengumpulkan tugas terakhir di semester tersebut. Mengingat minggu depan, mereka sudah memasuki ujian akhir semester ganjil.


"Aku tunggu di kantin saja ya, Mas." Kata Shanum saat melepaskan seat beltnya. Cello sudah memarkirkan mobilnya di tempat parkir biasa.


"Yakin mau menunggu di sana?"


"Iya. Aku hanya mau beli air minum. Kamu nggak lama, kan?"


"Enggak kok. Hanya mengumpulkan ini sebentar." Jawab Cello sambil memperlihatkan tugasnya.


Shanum segera mengangguk dan mengikuti Cello keluar dari mobilnya. Hari itu, aktivitas kampus tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa mahasiswa angkatan Shanum yang memang mengikuti aktivitas mahasiswa yang masih berada di kampus saat minggu tenang seperti ini.


Shanum segera melangkahkan kakinya menuju kantin. Sedangkan Cello, langsung menuju ruangan dosen. Dia harus segera mengumpulkan tugasnya sesegera mungkin.


Shanum yang baru pertama kalinya datang ke kantin tersebut, langsung menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dia mencari orang sekiranya ada yang dikenalnya. Namun, ternyata dia tidak mengenal siapa-siapa di kantin tersebut.


Ada sekitar sepuluh mahasiswa di kantin tersebut. Shanum segera beranjak untuk mengambil minuman dingin yang ada di dekat kasir. Dia membeli dua botol air minum. Satu untuknya, dan satu lagi untuk Cello.


Saat sedang menunggu uang kembalian, terdengar suara sedikit berisik dari segerombolan mahasiswa yang sedang berada tak jauh dari Shanum. Bahkan, beberapa di antara mereka nampak berbisik-bisik sambil melihat ke arah depan.


Sontak saja Shanum mengikuti arah pandangan para mahasiswa tersebut. Shanum cukup terkejut saat melihat asisten dosen yang diceritakan oleh sang suami tengah berjalan menuju kantin. Ya, dia adalah Danisha Anjani.


Danisha berjalan mendekat untuk memesan soto. Setelah membayar, dia langsung menempati kursi tak jauh dari pintu masuk untuk menunggu pesanannya. Shanum yang semula hanya berniat membeli air minum, mendadak mengubah rencananya. Dia segera memesan bakso dan mencari tempat duduk yang memang masih tersedia banyak tempat kosong saat itu. Tak lupa juga Shanum mengirimkan pesan kepada sang suami untuk menemuinya di kantin. Shanum juga memesankan bakso untuk Cello.


Sekitar lima menit kemudian, pesanan bakso Shanum sudah datang. Dia masih menunggu Cello sambil sesekali menatap ke arah Danisha. Shanum bahkan mengambil tempat duduk membelakangi arah pintu. Dia ingin bisa melihat dengan jelas tingkah laku asisten dosen tersebut.


Tak berapa lama kemudian, Cello terlihat berjalan menuju kantin. Dia tidak mengetahui jika Danisha berada di sana. Danisha yang saat itu kebetulan melihat kedatangan Cello, langsung sumringah. Dia bersiap-siap untuk menyapa Cello yang terlihat sudah mendekati pintu kantin.


Shanum yang menyadari perubahan ekspresi Danisha pun segera menoleh. Dan, dia mendapati sang suami tengah berjalan ke arahnya. Tanpa basa basi lagi, Shanum langsung berdiri dan menghadap ke arah Cello.


Bugh.


Shanum langsung menubruk tubuh Cello. Dia memeluknya dengan sangat erat.


"Lama sekali sih, Yang. Nggak tau apa aku tuh sudah lama nungguin kamu." Kata Shanum dengan suara yang sengaja dibuat sedikit lebih keras. Dia yakin semua orang yang ada di kantin tersebut pasti mendengarnya. Tak terkecuali Danisha.


Cello yang merasa kaget saat tiba-tiba sang istri memanggil dirinya dengan sebutan 'yang' pun mengernyitkan keningnya.


"Yang?"


"Iya, ada apa?"


Scroll ya 👇