
Rean masih membantu Shanum untuk mendapatkan posisi duduk yang nyaman. Dia tidak menyadari jika ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari depan pintu lift. Ya, dia adalah dosen yang sejak pertemuan pertama mereka, sudah berhasil membuat Rean jadi orang yang suka menghalu ria. Dia adalah miss Dena. Dosen muda di kampus Rean.
Setelah beberapa saat mengamati apa yang dilakukan oleh Rean, miss Dena segera beranjak dari tempat tersebut. Dia berjalan menuju sebuah ruang perawatan VVIP yang berada di sebelah barat.
"Bagaimana, Kak? Sudah nyaman?" Tanya Rean sambil masih membiarkan tangannya dicengkeram oleh Shanum.
"Hhhmmm. Ini sudah mulai kontraksi lagi, Re."
"Haahh? Kita kembali ke dalam lagi atau bagaimana?" Tanya Rean panik.
"Tidak, nanti saja. Auuggghhhh," jawab Shanum sambil mengusap-usap perutnya.
Saat itu, bersamaan dengan kedatangan Cello. Dia terlihat panik saat berusaha mencari keberadaan sang istri dan juga adiknya. Namun, begitu Cello melihat Rean, dia langsung berjalan terburu-buru ke arahnya.
"Sayang, bagaimana? Apa masih sakit? Apa kita operasi saja ya?" tawar Cello begitu sudah berada di depan Shanum. Dia langsung berlutut dan menggenggam tangan Shanum sambil mengusap-usapnya.
"Enggak, Mas. Jangan. Aku masih ingin eehhmm auuughhhh. Aku masih ingin melahirkan dengan normal," jawab Shanum sambil kembali merasakan kontraksi.
Melihat keinginan Shanum yang sangat besar untuk melahirkan secara normal, Cello benar-benar hanya bisa menuruti keinginan tersebut. Meskipun sebenarnya dia tidak tega melihat kesakitan yang dialami oleh sang istri.
Beberapa saat kemudian, Shanum merasakan kontraksinya sudah mulai hilang. Dia mulai berjalan-jalan kembali. Kali ini, Shanum ditemani oleh Cello sementara Rean pergi ke kantin untuk membeli air minum.
Cukup lama Shanum dan Cello berjalan-jalan disekitar lorong rumah sakit tersebut. Hingga beberapa saat kemudian, Shanum sudah benar-benar tidak kuat menahan lagi. Saat itu, Rean yang memang mengikuti Shanum dan juga Cello dari belakang dengan membawa kursi roda, langsung membantu Cello untuk membawa Shanum ke ruang persalinan.
Cello dan juga Rean kembali membantu Shanum untuk pindah ke atas brankar yang telah disiapkan. Namun, saat Shanum hendak berdiri, ternyata air ketubannya sudah pecah. Rean yang melihat hal itu menjadi semakin panik.
"Kak, a-apa itu. Kok ada cairan?" Tanyanya dengan sedikit berteriak. Dia benar-benar kalut dan panik.
"Ah, air ketubannya sudah pecah ternyata," kata dokter Risma yang sudah berada di sana.
"A-apa?!"
Setelah mendengar perkataan dokter Risma, entah mengapa tubuh Rean menjadi lemas. Matanya menjadi berkunang-kunang dan pandangnnya mulai sedikit memudar. Dan, brukkk. Rean langsung ambruk begitu saja di lantai dan menimpa kaki seorang perawat. Ya, dia ternyata sudah pingsan.
Setelah insiden tersebut, Shanum segera diperiksa oleh dokter Risma, ternyata pembukaan Shanum sudah sempurna. Saat itu, Shanum sudah siap untuk melahirkan dengan ditemani oleh Cello.
"Siap ya, Bu. Ambil napas dalam-dalam, segera mengejan setelah hitungan ketiga. Sati, dua, tiga, ayo Bu."
"Eerrrgghhhhhhh,""
"Satu, dua, tiga,"
"Ehhgggggghhhhh,"
Cello yang melihat perjuangan Shanum langsung berkaca-kaca. Dia sebenarnya tidak tega melihat hal itu. Namun, Shanum tetap kekeh untuk bisa melahirkan secara normal.
"Dokter, kenapa lama sekali?! Kasihan istri saya kesakitan. Cepata lakukan sesuatu!" Kata Cello dengan sedikit berteriak.
"Sabar, Pak. Sebentar lagi,"
"Kenapa lama sekali! Istri saya sudah seperti ini!"
Shanum yang merasa terganggu konsentrasinya karena tingkah Cello langsung mendongakkan kepalanya.
"Diamlah, Mas. Jangan berisik! Auugghhh. Jika tetap berisik, gantiin saja sini melahirkannya, uuugghhhh."
Seketika Cello langsung terdiam. Dia langsung menatap ke arah Shanum sambil memberikan banyak kecupan pada pucuk kepalanya.
"Maaf Sayang, kamu pasti bisa. Yang kuat ya, the boys pasti bangga dengan mommynya," kata Cello sambil mengusap-usap kening Shanum.
Setelah sekitar tiga puluh menit berjuang, Shanum akhirnya berhasil melahirkan dua jagoannya dengan selamat. Cello yang melihat dua putranya sudah lahir langsung berhambur memeluk tubuh letih Shanum. Diberikannya ciuman bertubi-tubi pada wajah sang istri.
"Terima kasih Sayang. Terima kasih. Kamu sangat luar biasa. Terima kasih."
Shanum yang sudah sangat kelelahan hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Para perawat segera meminta Cello untuk keluar sementara Shanum segera dibersihkan.