The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 54



Setelah panggilan telepon dari papa Bian terputus, Rean segera membuka aplikasi perpesanannya. Sebenarnya, banyak sekali pesan dari teman-temannya, namun Rean hanya fokus pada pesan dari sang istri. Ternyata, Dena mengiriminya pesan cukup banyak sejak siang tadi. 


Tidak hanya pesan yang dikirimkan oleh Dena. Namun, dia juga menghubunginya beberapa kali. Terlihat ada tiga belas kali panggilan tak terjawab dari sang istri. Rean langsung membuka pesan yang dikirimkan oleh sang istri, dan membacanya satu persatu. Dia cukup penasaran dengan apa yang dikirimkan oleh istrinya tersebut.


11.48


Re, kamu dimana? Mengapa tidak bisa dihubungi?


12.13


Re, aku minta maaf. Maafkan semua tingkahku. Aku menyesal dengan semua yang aku katakan.


12.36


Re, kenapa masih tidak bisa dihubungi?


13.28


Re, kamu masih marah? Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal.


14.21


Kamu benar-benar masih marah? Aku minta maaf. Maafkan semua perbuatanku. Aku benar-benar menyesal. Aku sungguh tidak tahu jika kamu sudah punya usaha, Re. Maafkan aku karena telah berburuk sangka.


15.03


Re, kenapa masih belum bisa dihubungi? Kamu masih marah?


16.25


Jangan seperti ini, Re. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku berjanji akan berubah. Jangan mendiamkanku seperti ini.


17.53


Re, aku mohon angkat teleponku. Aku menyesal. Biarkan aku bicara sebentar. Jangan seperti ini. Aku minta maaf.


18.47


Re, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku? Jangan mendiamkanku seperti ini.


Masih belum bisa dihubungi. Tolong jangan seperti ini, Re. Aku mohon.


Rean membaca berderet-deret pesan yang di kirimkan oleh sang istri. Dia sedikit bingung dengan maksud peaan tersebut. Marah? Dia tidak merasa marah kepada sang istri. Memang benar dia tersinggung dengan perkataan Dena semalam. Tapi, dia tidak marah, hanya kesal. 


Namun, sepertinya Dena mengira dia sedang marah karena tidak bisa dihubungi. Padahal, bukan karena itu ponsel Rean tidak bisa dihubungi. Rean sendiri tidak tahu jika ponselnya kehabisan daya. Dia sedang sangat sibuk siang tadi dengan pihak kepolisian.


Rean kembali membaca pesan sang istri. Namun, kedua matanya langsung membelalak dengan sempurna saat melihat dua pesan terakhir yang dikirimkan Dena. Salah satunya, dikirimkan kurang dari tiga puluh menit yang lalu.


20.17


Mas Rean, maaf jika semua tingkah laku dan ucapanku menyinggungmu. Aku sungguh menyesal.



53


Mas,



Mulut Rean langsung terbuka dengan lebar saat membaca pesan tersebut. Dia langsung mengucek kedua matanya untuk memastikan dia tidak salah baca.


"Ini beneran dia memanggilku 'mas'? Aku tidak sedang berhalusinasi, kan?" Gumam Rean sambil masih menggulir naik turun layar ponselnya.


Seketika sebuah senyuman terbit dari bibirnya. Tanpa sadar Rean langsung melompat dari duduknya. Dia menggoyang-goyangkan b*k*ngnya sambil menari-nari ala-ala goyang ngelas. Rean benar-benar bahagia meski hanya karena nama panggilan saja.


Namun, aktivitas goyang ngelasnya terhenti saat mendengar ponselnya berdering. Rean buru-buru mengambil ponselnya tersebut. Kedua bola matanya langsung membulat saat melihat nama sang istri tertera di layar ponsel tersebut.


Dan, yang lebih membuatnya kaget, saat itu Dena tidak melakukan panggilan suara. Melainkan panggilan video. Rean tentu saja terkejut. Dia langsung menatap penampilannya pada kaca yang berada di atas rak buku. Kedua tangannya juga langsung mengusak-ngusak rambutnya agar sedikit rapi. 


Netranya juga menangkap sebuah parfum yang ada di atas rak buku. Segera saja dia menyambar parfum tersebut dan menyemprotkannya pada tubuh banyak-banyak sebelum menyambungkan panggilan video tersebut.


\=\=\=


Untuk apa pakai markum segala jika hanya mengangkat panggilan video Re 😩😩