
"Lalu, yang seperti apa?"
"Itu," Kinan menghentikan ucapannya. Dia sendiri bingung menyampaikan maksudnya.
Adrian menoleh ke arah Kinan. Dia tahu apa yang hendak ditanyakan oleh perempuan yang berada di sampingnya tersebut.
"Kamu ingin tahu kebenaran ucapan Papa jika aku masih perjaka?" tanya Adrian langsung.
"Eh?" Kinan langsung menoleh. Dia tampak terkejut dan salah tingkah. "Ehm, se-sebenarnya…," belum selesai Kinan bersuara, Adrian sudah lebih dulu menjawab.
"Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku dan Bara tidak pernah bersama setelah acara pernikahan. Kami yang awalnya adalah orang asing, akan tetap seperti itu meskipun kami sudah menikah."
"Hanya status kami saja yang berubah menjadi suami istri. Selebihnya, tidak ada yang berubah dari kami. Kami juga tidak menjalankan aktivitas suami istri seperti umumnya. Dan, aku juga bukan tipe orang yang suka mencari 'serepan' lain untuk memenuhi apa yang aku inginkan."
"Meskipun begitu, aku masih tetap memberikan nafkah lahir kepada Bara. Setiap bulan aku selalu mengirimkan nafkah itu ke rekeningnya langsung. Entah dia menggunakannya atau tidak, aku tidak ambil pusing. Bagiku, aku sudah memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami." Adrian menjelaskan panjang lebar kepada Kinan.
Kinan hanya diam mendengarkan. Dia sama sekali tidak menyangka jika Adrian dan Bara akan menjalani pernikahan seperti itu.
"Ehm, ja-jadi memang benar 'i-itu' masih perjaka?" tanya Kinan lirih. Entah mengapa mulut lemes Kinan harus memperjelas hal itu.
Adrian menoleh ke arah Kinan dengan kening berkerut.
"Memangnya kenapa jika masih perjaka? Kamu mau nyoba?"
"Cckkk. Sembarangan! Nggak usah ngadi-ngadi ya, Om. Aku bukan perempuan seperti itu." Kinan memukul bahu Adrian dengan kesal.
Setelahnya, tidak ada lagi obrolan yang terjadi hingga sampai di rumah Kinan. Setelah mengucapkan terima kasih, Kinan bergegas untuk turun dari mobil Adrian. Namun, gerakannya terhenti saat suara Adrian terdengar.
"Besok pagi, mobil kamu akan diantar."
Kinan menoleh ke belakang dan menganggukkan kepala sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu, Kinan langsung keluar dari mobil.
Kinan langsung membersihkan diri begitu sampai di rumah. Rasa lengket di tubuhnya benar-benar membuatnya tidak nyaman. Malam itu, Kinan ingin segera beristirahat.
Keesokan pagi, mobil Kinan sudah benar-benar diantar oleh karyawan bengkel. Kinan bersyukur dia tidak harus mengeluarkan uang untuk membenahi dan sekaligus melakukan pengecheckan rutin mobilnya.
Hari itu, adalah weekend. Kinan tidak ada jadwal yang mengharuskan dia pergi ke kampus. Tugas Kinan hari itu adalah merekap semua nilai mahasiswanya dan menguploadnya.
Pagi itu, Kinan juga enggan memasak. Dia lebih memilih membeli bubur ayam keliling yang biasa lewat depan rumahnya setiap pagi.
Sambil mengerjakan tugasnya, Kinan menyantap sarapan bubur ayamnya. Saat itu juga, kebetulan ponselnya berbunyi. Kinan melihat sekilas nama yang tertera pada layar ponselnya. Setelah memastikan si penelepon, Kinan langsung menyambungkan panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Den." Sapa Kinan begitu panggilan teleponnya terhubung. Ya, Dena lah yang menelepon Kinan pagi itu.
"Kamu dimana?"
"Di rumah, nih. Ada apa?"
"Ehm, bisa ke rumahku, nggak? Ada yang mau aku omongin nih. Aku nggak mungkin keluar rumah. Mas Rean pasti akan ngomel nanti." Terdengar suara helaan napas berat dari seberang sana.
Kinan terkekeh geli mendengar ucapan Dena. Dia memang bisa membayangkan bagaimana Rean akan merajuk jika sang istri melakukan hal-hal yang tidak disukainya.
"Baiklah. Jam sembilan aku akan ke rumahmu. Sekalian aku juga mau cerita."
"Oke."
\=\=\=
Hhhmmm, Kinan mau cerita apa nih?