
"Waahh, jadi ini ya dosennya Rean yang sekarang sudah jadi istrinya? Hhmm boleh dong jadi dosen di kampus dan dosen di dalam kamar. Hehehe."
"Eh?"
Dena sempat terkejut saat mendengar perkataan dari seorang wanita yang tengah duduk tak jauh darinya. Belum sempat Dena menjawab perkataan tersebut, Shanum sudah lebih dulu menimpali.
"Betul, Tante. Ini adalah dosen Rean di kampus dan di atas ranjang. Tapi, aku yakin Rean pun sudah bisa jadi dosen untuk Dena. Iya kan, Sis?" Shanum menoleh ke arah Dena sambil tersenyum.
Sontak saja Dena mengangguk. Entah mengapa dia menganggukkan kepala. Padahal, dia tidak tahu apa maksud perkataan tersebut.
"Ck, memangnya Rean bisa apa? Anak kecil begitu. Paling banter cuma jago adu mulut," ucap wanita itu meremehkan.
Mendengar perkataan wanita tersebut, entah mengapa Dena menjadi tersentil. Dia merasa tidak terima dengan perkataan wanita tersebut.
"Nggak apa-apa dianggap anak kecil. Tapi, dia memiliki sesuatu yang besar," ucap Dena tanpa ada maksud apa-apa.
Namun, perkataan Dena tersebut justru di salah artikan oleh Shanum. Sontak saja Shanum langsung menoleh dan menatap Dena dengan senyuman penuh arti. "Jadi, semalam sudah sempat cicil mencicil dan colek mencolek, dong? Duuhhh, senangnya yang sudah mulai bisa dulit-dulitan," goda Shanum sambil menaik turunkan alisnya.
Sontak saja Dena terkejut mendengar perkataan Shanum. Dia sama sekali tidak menyangka jika Shanun langsung berpikir ke arah sana. Belum sempat Dena menyahuti perkataan iparnya tersebut, mendadak dia merasakan sebuah tangan melingkar pada perutnya.
"Tentu saja kami sudah cicil mencicil. Tinggal nanti malam saja di bayar kontan. Hehehe." Tanpa aba-aba dan komando lagi, Rean memeluk tubuh Dena dari belakang dan mencuri sebuah kecupan pada pipi kanan Dena.
Sontak saja hal itu membuat Dena terkejut. Dia benar-benar malu saat menyadari tingkah Rean di depan umum tersebut. Namun, tiba-tiba sebuah suara terdengar kesal mengisi pendengarannya.
"Cckkk, nggak tau malu. Dasar anak kecil," ucap wanita tersebut sambil berlalu meninggalkan Dena, Rean dan juga Shanum.
Dena menolehkan kepala. Dia masih merasa aneh dengan sikap perempuan tersebut. Rean yang menyadari rasa ingin tahu sang istri pun langsung menjelaskan.
Dena mengangguk-anggukkan kepala. Entah sengaja atau tidak, keduanya tidak menyadari posisi yang saat ini sedang mereka lakukan. Hingga suara Shanum menyadarkan apa yang terjadi.
"Waahhh, sekarang sudah berani peluk-peluk ya, Re? Awas nanti malam langsung tubruk saja." Goda Shanum sambil terkekeh geli.
Rean yang menyadari apa yang dilakukannya langsung melepaskan pelukannya. Dia tersenyum nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Dena, wajahnya sudah terasa panas karena malu kepada Shanum. Meskipun Dena kesal dengan Rean, namun dia tidak mungkin memarahi suaminya itu di depan Shanum. Lagi pula, saat ini mereka juga masih berada di antara para tamu undangan.
Tak berapa lama kemudian, Dena dan Rean sudah dipanggil oleh papa Bian dan mama Revina. Mereka hendak dikenalkan kepada para kolega papa Bian. Dengan senang hati Dena dan Rean mengikuti permintaan orang tuanya tersebut.
Acara tersebut selesai menjelang pukul satu siang. Satu persatu tamu yang hadir langsung berpamitan. Dena juga segera di antar ke kamar Rean oleh Shanum. Kedua putra Shanum sudah terlelap di dalam kamarnya.
"Jika butuh apa-apa jangan sungkan-sungkan, ya. Mulai sekarang kamu sudah menjadi anggota keluarga kami. Ingat, jika nanti Rean berlebihan goyangannya, jangan lupa juga menegurnya. Hehehe." Shanum sengaja menggoda Dena sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Eh, mana ada goyangan-goyangan begitu," ucap Dena menahan panas di wajahnya.
"Tentu saja ada. Tidak sekarang mungkin. Tapi, nanti Rean pasti akan menggoyang kamu."
Rean Aksa Atmaja
Denada Mayyangta Gusnadi