
Sepanjang sore, Kinan sibuk menyiapkan makan malam untuk Adrian. Selain itu, dia juga sudah menyusun rencana untuk menjalankan aksinya malam itu. Tidak ada obat-obatan penguat atau obat penambah semangat, pun juga tidak ada baju-bajuan yang haram namun halal. Kinan memutuskan untuk tidak memakai baju-baju yang seperti itu.
Lalu, baju seperti apa yang akan dipakai Kinan nanti malam? Entahlah, othor juga belum dapat bocoran.
Menjelang petang, Kinan sudah selesai dengan masakan untuk makan malamnya. Dia bergegas untuk mandi sambil menunggu Adrian yang masih dalam perjalanan pulang.
Tak berapa lama kemudian, mobil Adrian sudah berhenti di garasi halaman rumah Kinan. Maklum, garasi rumah kontrakan Kinan hanya cukup untuk satu mobil. Mau tidak mau, mobil Adrian harus di parkirkan di halaman depan pintu dekat pintu garasi. Beruntung halaman sempit tersebut masih muat untuk menampung mobil Adrian. Jika tidak muat, mobil tersebut sudah pasti akan parkir di samping jalan.
Kinan yang saat itu baru saja selesai berganti baju, langsung keluar untuk menyambut kedatangan sang suami. Dia buru-buru membukakan pintu dan mendapati Adrian hendak mengetuknya.
"Mas?" Kinan langsung mengulurkan tangan untuk mengecup tangan Adrian. Setelahnya, dia langsung mengambil tas laptop yang dibawa oleh Adrian.
"Malam ini ikut tahlilan di rumah Pak RT?" tanya Kinan sambil mengekori Adrian menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Hhhmmm. Nggak enak sama anaknya. Selama kita masih di sini, aku akan usahakan ikut," jawab Adrian.
"Baiklah."
Setelah itu, Adrian segera beranjak untuk membersihkan diri. Sementara Kinan, dia langsung menyiapkan baju ganti untuk Adrian. Malam itu setelah sholat maghrib, Adrian dan para tetangga berangkat untuk mengikuti acara tahlilan.
Putra Pak RT yang merupakan karyawan di perusahaan Adrian, merasa sangat bersyukur saat mengetahui atasannya tersebut mau menghadiri acara tahlilan ayahnya.
Menjelang pukul delapan malam, Adrian sudah kembali ke rumah setelah tadi sempat ikut berjamaah di mushola komplek yang berada di ujung blok perumahan mereka.
Adrian sampai di rumah Kinan bersamaan dengan Kinan yang hendak keluar untuk mengantarkan payung.
"Lho, Mas. Kok sudah pulang? Mana hujan-hujanan lagi. Ini baru mau aku antarkan payungnya," ucap Kinan sambil menunjukkan payung yang dibawanya.
"Aku nggak tahu jika kamu mau antarkan payung."
Kinan mencebikkan bibir. "Jelas saja kamu nggak tahu. Orang ponsel kamu saja ketinggalan tuh."
"Hhhmmm."
Setelahnya, Adrian segera masuk dan membersihkan diri. Tubuhnya hampir basah kuyup semua karena kehujanan. Ya, meskipun jarak mushola dan rumah Kinan tak sampai seratus meter, namun hujan yang cukup deras mampu membuat baju Adrian basah semua.
Kinan bergegas menyiapkan makan malam, saat Adrian sedang membersihkan diri. Malam itu, mereka berdua makan malam bersama. Hingga tak berapa lama kemudian, Adrian sudah terlihat keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menghampiri Kinan yang sedang menyiapkan makan malam.
"Ini aku buatkan wedang jahe, Mas. Biar tubuhnya terasa anget. Sekarang, diangetin pakai minuman dulu. Baru nanti malam, aku angetin pakai tubuh," ucap Kinan sambil menaik turunkan alisnya.
"Uhuukkk."
•••
Mau ngasih up part horor tapi waktunya puasa bagaimana ini? 🤧