The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 98



Malam itu, mau tidak mau akhirnya Kinan dan Adrian terpaksa tidur terpisah. Adrian tidur di kamar tamu, sedangkan Kinan tidur di kamarnya sendiri. Meskipun kesal, namun Kinan tetap menuruti ucapan sang suami.


Keesokan pagi, Kinan dan Adrian sudah bersiap. Mereka akan menjalani aktivitas hari itu. Kinan sudah membeli sarapan bubur untuk mereka. Saat ini, Kinan dan Adrian sedang duduk di meja makan untuk menyantap sarapan mereka.


"Nanti aku akan pesan tempat tidur baru," ucap Kinan di sela-sela aktivitasnya menyantap sarapan.


Adrian menghentikan suapannya dan menoleh ke arah Kinan. "Membeli tempat tidur baru? Untuk apa?"


"Tentu saja untuk kita, Mas. Memangnya kamu mau kita tidur terpisah terus menerus? Kita kan sudah menikah, Mas. Sudah seharusnya kita tidur bareng, kan?"


Kinan langsung mengerucutkan bibir kesal. Entah mengapa dia merasa geram karena Adrian tidak peka dengan keadaan.


Adrian mendesahkan napas beratnya sebelum menyahuti ucapan Kinan.


"Bukan begitu maksudku? Aku pikir, akan percuma jika kamu membeli tempat tidur baru. Bukankah kita sudah sepakat akan tinggal di tempatku? Jadi, jika kita sudah pindah dari sini, mau dikemanakan barang-barang itu nanti?" tanya Adrian sambil menatap ke arah Kinan.


Kinan sempat berpikir sebentar sebelum menjawab ucapan Kinan.


"Kamu benar, Mas. Sebenarnya, aku juga sudah memikirkannya semalam. Kamar tidur rumah kontrakan ini kan memang sempit sekali. Jika harus ditambah satu lagi tempat tidur berukuran besar, sudah dipastikan tidak akan muat."


"Nah, itu benar."


"Tapi, masa iya kita harus tidur terpisah selama menunggu apartemen kamu jadi, Mas. Berasa jadi buah aku, Mas." Kinan mengerucutkan bibir kesal.


"Buah? Buah apa maksudnya?" Otak Adrian langsung membayangkan buah alami yang ada di bagian depan tubuh Kinan. Entah mengapa seketika otaknya langsung tercemar. Bahkan, pandangan mata Adrian langsung turun ke area yang dimaksud.


Tak mau semakin membuat bapek si kail jumbo, Adrian segera mengalihkan pandangan sambil menggelengkan kepala dengan cepat.


"Cckkk. Buah anggur. Berasa dianggurin aku, Mas," ucap Kinan sambil masih mengerucutkan bibir.


Adrian hanya mampu menggelengkan kepala, tanpa tahu harus menjawab apa. Setelahnya, tidak ada obrolan lagi hingga baik Kinan maupun Adrian sudah benar-benar bersiap.


Hari ini, Adrian akan menumpang mobil Kinan sampai di apartemen. Dia memang tidak membawa mobil. Lalu setelah itu, dia baru akan berangkat ke kantor.


Tak butuh waktu lama bagi Kinan dan Adrian untuk sampai di apartemen. Setelah menurunkan Adrian, Kinan langsung bergegas ke kampus. Masih ada jadwal ujian satu mata kuliah hari ini.


Di kampus, Kinan hendak bercerita tentang pernikahannya kepada Dena. Dia sudah tidak sabar untuk berbagi cerita dengan sahabatnya tersebut setelah selesai ujian para mahasiswanya. 


Namun ternyata, niat itu terurungkan karena Ddna harus langsung ke rumah sakit. Hari ini ada jadwal check up kandungan rutin. Maklum, kehamilan kembar tiga membuat Dena dan Rean cukup sering memeriksakan kandungan. Hampir setiap dua minggu sekali mereka memeriksakan kandungan secara rutin.


Mau tidak mau, Kinan harus bersabar untuk menunggu waktu yang tepat agar bisa bercerita kepada Dena.


Sementara itu, Adrian masih berada di kantor. Dia sudah membuat jadwal dengan dokter pribadinya untuk melepas jahitan pada lukanya siang itu.


Jangan lupa tinggalkan jejak sebelum scroll ya. Ramaikan.