
Rean berkeliling kesana kemari untuk mencari Dena. Namun, usahanya masih tidak membuahkan hasil. Setiap kali dia berhenti di tempat-tempat yang biasanya dikunjungi Dena, Rean selalu mengirimkan rentetan pesan.
Rean tahu jika teleponnya tidak akan diangkat oleh Dena. Oleh karena itu, dia mengetikkan banyak sekali pesan. Rean menceritakan semuanya kepada Dena, mulai dari rencana kejutan untuknya, hingga kedatangan nenek Dena ke apartemen sesaat setelah kedatangan Rean dari Surabaya.
Rean juga menceritakan apa yang dibicarakannya dengan papi Hendra. Semua Rean ceritakan, tidak ada yang disembunyikan. Hingga menjelang petang, Rean belum berhasil menemukan Dena.
Malam itu, Rean masih berputar-putar di Jakarta untuk mencari Dena. Hingga menjelang pukul sembilan malam, papi Hendra menghubungi Rean.
"Hallo, Pi. Bagaimana? Papi dapat kabar tentang keberadaan Dena?" Rean sudah tidak sabar mendengar kabar tentang sang istri.
"Belum, Re. Kamu tenang dulu. Pulanglah ke rumah Papi. Ada yang ingin Papi sampaikan."
Rean mendesahkan napas ke udara karena masih belum mendapatkan informasi keberadaan Dena. Meskipun begitu, Rean menuruti permintaan papi Hendra.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rean sudah tiba di rumah papi Hendra. Saat itu, mami Rida juga sudah ada di sana. Rean segera membersihkan diri dan makan malam setelahnya. Meskipun enggan makan, namun Rean tidak mungkin menolak permintaan mami. Mami Rida memaksa Rean untuk makan malam karena tahu Rean pasti belum makan malam.
Setelah selesai makan malam, Rean menghampiri kedua mertuanya di ruang tengah. Wajah mami dan papi Dena tampak sedikit lebih tenang. Rean melihat hal itu menjadi sedikit curiga.
"Pi, Mi, ada apa ini sebenarnya? Apa Papi dan Mami sudah tahu keberadaan Dena?" Rean benar-benar tidak sabar.
Papi dan mami menoleh saling pandang. Mereka terlihat bersalah saat menatap Rean.
"Belum, Re. Kami belum mengetahui keberadaan Dena." Mami menggelengkan kepala sambil menatap Rean.
"Lalu, kenapa Mami dan Papi terlihat biasa saja? Apa kalian tidak mengkhawatirkan Dena?"
Mami dan papi Dena menggelengkan kepala bersamaan.
"Bukan begitu, Re. Sebelumnya, kami minta maaf karena tidak memberitahumu tentang hal ini. Tadi, Papi pikir kamu sudah bertemu dengan Mayang di apartemen. Namun, ternyata Papi keliru. Papi tidak tahu jika Mayang tidak pulang ke apartemen."
"Sebenarnya, Mayang sudah biasa seperti ini jika pikirannya kalut. Dia lebih memilih untuk menghindari orang yang berselisih paham dengannya. Dia memilih untuk menenangkan diri di suatu tempat. Mayang tidak akan mau bertemu dengan siapapun dulu. Dia butuh menenangkan emosinya. Jika nanti sudah lebih tenang, Mayang pasti akan kembali."
Kening Rean berkerut. "Maksudnya menghubungi Papi bagaimana?"
Kali ini, mami Rida yang menjawab pertanyaan Rean. "Begini Re, awalnya Mami tidak tahu jika ada sesuatu di antara kalian. Namun tadi sore, Mami mendapat telepon. Ternyata Mayang yang menghubungi Mami. Mayang bilang jika saat ini dia baik-baik saja dan ingin menenangkan diri."
"Maafkan Mayang ya, Re. Mungkin, kamu menganggapnya kekanak-kanakan. Namun percayalah, Mayang tidak ada niatan untuk melakukan hal yang tidak-tidak. Mayang hanya tidak mau jika sampai dia mengatakan hal-hal kasar yang akan membuatnya menyesal nanti, jika dia masih berada disini. Dia lebih memilih untuk menenangkan diri."
Rean menghembuskan napas beratnya. Dia berusaha mengerti keadaan tersebut.
"Baiklah, Mi. Tidak apa-apa. Mungkin memang sebaiknya kita introspeksi dulu. Aku yang salah, seharusnya aku langsung membicarakan apa yang aku rasakan kepadanya. Mungkin, ini adalah salah satu bentuk pembelajaran bagi kami untuk lebih bijak, Mi."
Papu dan mami Dena benar-benar terharu setelah mendengar perkataan Rean. Mereka tidak menyangka jika usia Rean yang masih terbilang muda, bisa berpikir sejauh itu.
Malam itu, Rean kembali menginap di rumah orang tua Dena. Papi dan mami Dena melarang Rean kembali ke apartemen karena sudah larut malam.
Keesokan hari, Rean, papi dan mami Dena sedang sarapan. Saat itu, ponsel Rean berbunyi. Dia meminta izin untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Bang. Ada apa?" sapa Rean setelah panggilan telepon tersebut terhubung.
"Re, kamu bisa ke Bandung nggak hari ini?"
"Eh, ke Bandung? Ada apa?"
"Ada sedikit masalah di sini. Aku akan menjelaskan semuanya begitu kamu sampai. Bisa?"
Rean berpikir sebentar sebelum kembali bersuara. "Baiklah, Bang. Aku akan berangkat ke Bandung pagi ini."
"Oke. Aku tunggu."
Setelah itu, panggilan telepon terputus. Rean segera menyelesaikan sarapannya dan langsung berpamitan kepada kedua orang tua Dena untuk berangkat ke Bandung.