The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 52



Hingga menjelang siang, Dena masih tampak merutuki dirinya sendiri. Dia benar-benar merasa sangat bersalah kepada Rean. Setelah mendengar semua penjelasan sang mami, Dena merasa seperti tertampar. 


Sebelumnya, Dena menganggap Rean hanya seorang bocah belum dewasa dan hanya menghambur-hamburkan uang orang tuanya. Dena sama sekali tidak mengetahui jika Rean sudah memiliki usaha, bahkan sudah memiliki cabang di Jakarta dan di Bandung.


Dena tampak benar-benar sedih. Air matanya tak berhenti berderai sejak kepulangan sang mami. Apalagi, kata-kata sang mami yang benar-benar membuatnya kelimpungan bak kebakaran jenggot.


"Kamu benar-benar keterlaluan, May. Mami dan papi menyekolahkanmu tinggi-tinggi bukan hanya untuk membesarkan egomu. Kami mendukung pendidikanmu karena kami memang ingin kamu maju dan mendapatkan ilmu agar bisa bermanfaat untuk kehidupanmu kelak."


"Tapi, ternyata kami salah. Kamu merasa sudah memiliki lebih dari segala-galanya dari pada Rean. Tidak, tidak seperti itu, May. Seberapapun tinggi pendidikan dan karir seorang wanita bersuami, dia akan tetap menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga jika di rumah."


"Kalian sudah menikah, sudah seharusnya kalian bahu membahu membangun rumah tangga kalian agar menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Mami dan papi tidak pernah mengajarkan untuk bersikap arogan karena kedudukan atau karir, May."


"Kamu tahu Papi, meskipun punya jabatan di rumah sakit, tapi papi tidak segan-segan membantu Mami mencuci dan menjemur baju. Kita memang punya asisten rumah tangga, tapi dia hanya datang pagi dan pulang sore. Papi juga tidak segan-segan membantu memasak jika Mami ada jadwal pagi."


"May, dalam pernikahan itu, tidak ada istilah siapa yang lebih dari siapa. Tugas suami dan istri itu juga sudah ada bagian-bagiannya sendiri. Kamu tentu sangat paham dengan tugas suami untuk menafkahi keluarganya. Apa yang dilakukan Rean, itu juga untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami, sebagai kepala keluarga."


"Jangan menyepelekan apa yang dilakukan Rean meski usianya masih dibawahmu. Itu bentuk tanggung jawabnya sebagai suamimu dan kepala keluarga."


Dena masih terngiang-ngiang dengan apa yang yang dikatakan maminya. Dena masih terlihat meneteskan air matanya. Dia mulai menyesali perbuatannya. Dena memberanikan diri mengambil ponselnya dan mulai mencari nomor Rean. 


Dengan tangan bergetar, Dena memencet tombol bergambar telepon tersebut. Dena berniat menghubungi Rean. Namun, tidak ada tanda panggilannya terhubung. Dena mencoba menghubungi Rean beberapa kali tapi tetap tidak ada tanda panggilannya terhubung.


Dena mendesahkan napas ke udara. Dia bertekad akan menghubungi Rean kembali lagi nanti. Mungkin, suaminya tersebut masih sibuk.


***


"Mau makan siang dulu? Ini sudah hampir pukul dua siang. Kita melewatkan makan siang." Refan mengiringi langkah kaki Rean.


"Boleh. Aku juga sangat lapar sekali. Jangankan makan siang, sarapan pun juga aku lewatkan." Rean mendesahkan napas ke udara.


"Hhaaa? Kamu belum sarapan tadi, Re?" 


Rean menggelengkan kepala. "Mana sempat aku sarapan, Fan. Aku tadi langsung buru-buru kemari."


Refan hanya mendesahkan napas ke udara dan bergegas berjalan menuju motornya. Rean mengikuti Refan dari belakang. Setelah itu, keduanya langsung menuju rumah makan terdekat untuk mencari pengganjal perut. Saat itu, Rean tidak sadar jika ponselnya kehabisan baterai karena sejak semalam dia tidak mengisi daya ponselnya.


***


Menjelang sore, Dena terlihat semakin gelisah. Dia masih belum bisa menghubungi Rean.


"Kenapa dia tidak bisa dihubungi? Apa dia semarah itu kepadaku?"


\=\=\=


Kalau mereka bertemu nanti, kira-kira apa yang terjadi ya? 🤔