
Cello hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Lagi-lagi kedua putranya terbangun karena kaget dengan teriakan Shanum. Mereka langsung merengek bersamaan. Mau tidak mau, Cello dan Shanum pun segera beranjak untuk menenangkan kedua jagoannya.
Setelah Drew dan Dryn tenang, Cello dan Shanum segera merebahkan diri. Keinginan untuk cangkul mencangkul pun langsung ambyar seketika. Tak berapa lama kemudian, mereka berdua sudah terlelap ke alam mimpi.
Keesokan harinya, wajah Cello nampak sangat kusut. Di bagian bawah matanya juga terdapat kantung mata. Dia berjalan keluar kamar dengan masih menggunakan kolor kebesarannya. Cello mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian rumah, namun tidak menemukan siapa-siapa di sana.
"Kemana yang lainnya?" gumam Cello sambil beranjak menuju pintu samping. Dia bertemu dengan Mbak Siti yang hendak memasuki rumah. "Kemana semua orang, Mbak?"
"Oh itu, mereka sedang jalan-jalan di depan dengan twins."
"Shanum juga ikut?"
"Iya, Tuan dan Nyonya juga berada di sana."
Cello menggerutu kesal pagi itu. Dia merasa ditinggalkan oleh istri dan kedua putranya. Apalagi, mommy Fara dan juga daddy El juga ikut jalan-jalan pagi.
"Kenapa mereka meninggalku," gerutu Cello sambil berjalan memasuki ruang tengah.
Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat sang daddy berjalan memasuki rumah dengan kaos basah di beberapa bagian.
"Sudah bangun, Cell?" sapa daddy El saat melihat Cello berada di ruang tengah.
"Tentu saja sudah. Jika belum bangun, mana mungkin aku berada di sini, Dad." Cello masih mengerucutkan bibirnya sambil menatap kesal ke arah sang daddy. "Kalian dari mana? Kenapa aku nggak dibangunin?"
"Kami keliling komplek ini. Tadi sih mau dibangunin. Tapi kata Shanum, nggak usah saja. Katanya nggak mau ganggu istirahat kamu katanya semalaman kurang tidur. Memangnya kalian lembur sampai jam berapa?"
"Ccckkk, lembur apanya, Dad. Boro-boro lembur, buka pabrik saja belum sempat. Keburu twins bangun dan merengek terus. Aku sampai beberapa kali menenangkan mereka yang sudah rewel."
"Hahahaha, begitulah resikonya jika punya bayi. Dulu, Daddy dan mommy juga nggak bisa tenang saat mau bajak membajak. Kamu selalu ganggu aktivitas bercocok tanam kami. Dan sekarang, giliran kamu merasakannya. Hahahaha," kata daddy El sambil tergelak.
Cello langsung menggerutu kesal saat melihat sang daddy menertawakannya.
"Jadi menurut Daddy, apa yang aku alami ini merupakan balasan karena dulu mengganggu daddy dan mommy begitu?"
"Hahahaha, tentu saja. Sekarang kamu bisa merasakannya kan. Disaat sudah siap tempur dan sudah siaga untuk menembakkan amunisi, eh malah bocil-bocil bangun. Rasanya ada yang gondok tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Hahahaha," kata daddy El sambil beranjak pergi.
Seketika Cello hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang daddy. Cello beranjak pergi meninggalkan ruang tengah dan berjalan menuju kamarnya sambil menggerutu. Dia langsung menuju kamar mandi sambil mulut tak berhenti mengomel. Cello bersiap-siap untuk segera mandi pagi itu.
Saat Cello sedang berada di bawah kucuran air, tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan memeluknya dari belakang. Cello juga merasakan dua buah benda kenyal berujung keras menempel pada punggung polosnya.
Seketika tonggak kehidupannya langsung bereaksi. Tiuunnggg. Cello pun menoleh ke belakang dan mendapati sang istri tengah menempelkan pipinya pada punggung polos Cello.
"Eh, Yang? Kok ada disini?" tanya Cello.
"Aku mau melanjutkan yang semalam, Mas." Kata Shanum sambil menggesek-gesekkan benda kenyal tersebut.
Sontak saja apa yang dilakukan oleh Shanum itu menimbulkan sensasi tersendiri bagi Cello.
"Ya-yang, i-ini sudah siap grak, buruan yuk."
Upacara kah? 🤔