
Mau tidak mau, Kinan hanya bisa pasrah saat Adrian menariknya untuk menemui sang mama. Dia harus menjelaskan semuanya kepada mamanya tersebut agar posisinya tidak semakin sulit.
Setelah berada di depan sang mama, Adrian menarik lengan Kinan agar duduk tepat di sampingnya. Kinan berusaha menolak dengan cara melepaskan cengkraman tangan Adrian, namun usahanya tersebut benar-benar gagal. Dia sama sekali tidak bisa berbuat banyak saat lagi-lagi tangan Adrian mencengkram lengannya.
Mau tidak mau, Kinan terpaksa duduk tepat di samping kiri Adrian. Sofa yang saat itu didudukinya dengan Adrian, benar-benar sempit. Alhasil, lengan Kinan dan Adrian menempel dengan cukup dekat. Kinan yang melihat ekspresi wajah mamanya Adrian sedikit takut saat melihat tatapan mata tajam darinya.
Setelah semuanya duduk, tidak ada lagi yang bersuara. Ketiganya masih diam membisu. Adrian diam menunggu sang mama bersuara, hal yang sama pun juga dilakukan oleh mamanya Adrian.
Hingga beberapa saat kemudian, mamanya Adrian terlihat kesal. Dia menatap tajam ke arah sang putra sambil mendengus.
"Mau sampai kapan kamu diam seperti itu, Yan. Jelaskan semuanya kepada Mama!" ucapan mamanya Adrian cukup sukses mengagetkan Kinan.
Dia memegangi daadanya karena jantungnya mendadak berdegup kencang.
Kenapa aku harus berada di situasi seperti ini, sih! Rasanya benar-benar bertemu calon mertua yang tidak setuju dengan hubungan percintaan anaknya, batin Kinan.
Dia benar-benar merutuki situasi yang dialaminya tersebut.
Terdengar helaan napas dari samping Kinan. Sepertinya, Adrian berusaha mengatur napas sebelum menjelaskan sesuatu kepada mamanya. Dan, bukan hanya mamanya Adrian yang penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh laki-laki tersebut. Tapi, Kinan juga cukup penasaran.
Setelah yakin dengan apa yang akan disampaikannya, Adrian membuka suara.
"Sebenarnya, aku dan Kinan sudah berpacaran, Ma. Kami sudah mengenal lama. Tapi, kami mulai dekat sejak dua bulan yang lalu," ucap Adrian dengan mantap. Bahkan, suaranya tidak terdengar bergetar ataupun keraguan di dalamnya.
Mulut Kinan langsung terbuka lebar. Dia menoleh ke arah Adrian dengan ekspresi protes. Kinan hendak membuka membuka mulutnya untuk protes, namun tiba-tiba Adrian mengangkat tangan kanannya dan menempelkannya pada pipi kiri Kinan.
Kinan yang mendapati perlakuan tiba-tiba dari Adrian tersebut, semakin membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Kinan seperti melihat dua orang yang berbeda dari Adrian. Tadi sore, laki-laki tersebut tampak sangat dingin dan arogan, sementara sekarang dia benar-benar bersikap sangat manis di depan Kinan.
Rasa-rasanya, Kinan akan terkena diabetes karena mendapati sikap manis Adrian tersebut. Halah Ki, lebah. 🤧
Adrian masih mengusap-usap pipi Kinan. Entah dapat hipnotis bagaimana, Kinan yang semula hendak protes, menjadi mengurungkan niatnya. Dia langsung menurut saat Adrian memintanya untuk tenang. Apalagi, tiba-tiba tangan kanan Adrian menggenggam tangan kiri Kinan dan membawanya ke atas paha Adrian.
Ketika Kinan lagi-lagi hendak protes, Adrian tiba-tiba mencengkram tangannya lebih erat. Hal itu membuat Kinan mengurungkan niatnya dan mengikuti permainan Adrian.
Setelah drama yang disutradarai Adrian tersebut mampu meyakinkan Kinan untuk tetap mengikuti skenarionya, Adrian kembali menatap wajah sang mama.
"Aku minta maaf karena baru menyampaikan berita ini kepada Mama," ucap Adrian selanjutnya. Dia masih menatap wajah sang mama dengan khawatir.
Tidak ada reaksi apapun dari mamanya Adrian setelah itu. Namun, tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja.
Brakkk.
\=\=\=
Kalau kalian jadi Kinan, kira-kira apa yang akan dilakukan?
Om Adrian visualnya bagaimana sih?Â
Nanti othor spill di igeh ya, silahkan mampir @keenandra_winda 🤗