The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Pengakuan



Keesokan paginya, Kenzo dan Vanya sudah berada di bandara untuk segera kembali ke Jakarta. Reyhan yang mengetahui hal itu sejak semalam pun langsung ikut segera kembali ke Jakarta.


Kenzo, Vanya dan Reyhan tiba di Jakarta siang hari itu. Kenzo langsung mengajak Vanya ke rumahnya yang dulu oernah dikunjunginya saat membicarakan kesepakatan sebelum mereka menikah. Sementara Reyhan langsung pulang menuju rumahnya sendiri.


Semua barang-barang Vanya memang sudah dipindahkan ke rumah itu setelah acara pernikahan mereka. Jadi, mereka tidak perlu ke rumah utama lagi untuk mengambil barang-barang Vanya. Sebelum sampai di rumah, Vanya mengajak Kenzo untuk membeli bahan makanan untuk persiapan makan malam. Setelah semua barang yang di inginkan di peroleh, Kenzo dan Vanya segera menuju rumah.


Begitu sampai di rumah, Vanya segera menuju dapur untuk menyimpan bagan makanan yang baru saja di belinya. Sementara Kenzo membawa koper yang berisi pakaian yang mereka bawa ke Bali ke dalam kamar.


"Kapan mulai kuliah lagi?" Tanya Kenzo yang tiba-tiba sudah berada di belakang Vanya untuk mengambil air minum.


Vanya yang sedang mencuci potongan ayam pun merasa terkejut. Dia menoleh untuk menatap Kenzo.


"Besok sudah mulai kuliah lagi Mas, aku banyak bolosnya minggu ini." Jawab Vanya.


Kenzo hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dia segera menggeser kursi yang ada di depan bar minimalis di dapur tersebut. Kenzo memperhatikan istrinya yang terlihat cekatan saat menyiapkan makan malam untuk mereka.


"Biasa masak di kosan?" Tanya Kenzo sambil menyeruput air minumnya.


"Lumayan sih Mas, biar irit. Hehehe." Jawab Vanya sambil tersenyum nyengir.


Kenzo ikut tersenyum mendengar jawaban sang istri. Mereka terlibat percakapan singkat setelahnya, hingga Vanya pun selesai membuat ayam goreng dan udang crispy. Vanya juga membuat sambal ijo, karena tadi saat ditanya Kenzo ingin makan malam itu. Karena cukup mudah membuatnya, akhirnya Vanya menyetujuinya.


Setelah selesai makan malam, Vanya segera membereskan seluruh barang-barang miliknya. Dia mulai menata buku-buku pelajaran kuliahnya di sebuah meja belajar yang memang sudah disiapkan oleh mama. Letak meja belajar Vanya berseberangan dengan meja kerja Kenzo, yang semuanya berada di sebelah ruang keluarga.


Vanya melirik Kenzo yang sedang fokus memeriksa pekerjaannya. Kenzo memang tidak bekerja selama dua hari kemarin sebelum acara pernikahannya. Jadi, kemungkinan dia akan lembur malam itu. 


Setelah selesai membereskan buku kuliahnya, Vanya pergi ke dapur untuk membuatkan kopi Kenzo. 


"Kopinya Mas." Kata Vanya sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja kerja Kenzo.


Kenzo menoleh untuk menatap Vanya.


"Terima kasih. Tapi dari mana kamu tahu aku suka kopi?" Tanya Kenzo.


Vanya tersenyum saat mendengar pertanyaan Kenzo.


"Dari Kezia, Mas. Dia banyak memberitahuku tentang kebiasaan mas Ken." Jawab Vanya sambil mengedipkan mata dengan jahil. Kenzo yang melihat hal itu langsung mengerutkan dahinya. Dia khawatir jika sang adik mengatakan sesuatu yang aneh-aneh kepada Vanya.


Kenzo segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Vanya yang sedang mengupas buah melon di meja ruang makan. Dia segera memeluk Vanya dari belakang dan meletakkan dagunya pada bahu Vanya.


Vanya yang terkejut pun langsung berusaha melepaskan diri dari pelukan Kenzo. Dia masih merasa malu melakukan hal itu.


"Mas, lepasin ih." Kata Vanya sambil berusaha memberontak.


"Katakan dulu Kezia memberitahu tentang apa?" Kata Kenzo di dekat telinganya.


Tubuh Vanya merasa meremang mendapat perlakuan seperti itu dari Kenzo.


"Ah itu, bukan apa-apa kok Mas. Hanya kebiasaan yang sering mas Ken lakukan saat di rumah. Itu saja." Elak Vanya.


"Benarkah?" Tanya Kenzo tidak percaya.


"Tentu saja benar. Untuk apa aku berbohong." Jawab Vanya.


Kenzo masih tidak mempercayai perkataan Vanya. Namun, dia segera melepaskan pelukannya. Kenzo menggeser kursi yang ada di dekatnya dan segera mendudukinya. Dia masih mengamati kegiatan Vanya yang sedang mengiris-iris buat melon menjadi potongan dadu kecil-kecil.


"Jika kamu ingin tahu apapun tentangku, jangan tanya orang lain. Langsung tanyakan saja kepada ku." Kata Kenzo.


Vanya yang mendengarnya langsung menoleh. Dia segera mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.


"Iya Mas, aku akan langsung bertanya kepada mas Ken nanti." Jawab Vanya sambil tersenyum.


"Ehm, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Vanya kemudian.


"Tentu."


"Bagaimana nanti jika suatu saat mas Ken akan bertemu dengan Celina dan dia tahu jika mas Ken sudah sukses. Apakah mas Ken masih mau mempertimbangkan untuk kembali lagi kepadanya?" Tanya Vanya ragu-ragu.


"Dengar kan aku baik-baik. Dulu, memang benar aku menyukai Celina, tapi itu dulu. Rasa suka ku itu sudah lama terkubur bersama dengan rasa kecewa akan penolakannya. Aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya. Lagi pula, apa maksudmu aku akan kembali lagi kepadanya, aku sama sekali tidak pernah bersamanya. Ya, kecuali memang kita sahabat waktu itu." Jawab Kenzo.


Vanya memberanikan diri memandang wajah sang suami. Dia tersenyum setelahnya.


"Maaf Mas, aku masih sedikit khawatir. Kita kan masih memulai ini semua. Aku hanya khawatir mas Ken akan berbelok." Kata Vanya.


Seketika Kenzo menggerutu kesal. Dia mengingat perkataan beberapa orang yang ditemuinya di Bali yang mengira dirinya belok. Namun, dia segera mengubah ekspresi wajahnya dan segera menarik Vanya hingga menghadapnya.


"Aku tidak akan berbelok, sayang. Aku benar-benar ingin memulai semua dari awal denganmu." Kata Kenzo.


Vanya yang mendengar perkataan Kenzo langsung mengulas senyumannya. Dia mengangguk percaya dengan apa yang dikatakan sang suami. Dirinya juga sudah berjanjinakan berusaha dan berjuang bersama untuk pernikahan ini.


Keesokan harinya, Kenzo sebenarnya ingin mengantar Vanya ke kampus. Namun, karena jadwal kuliah Vanya masih jam sepuluh, alhasil Kenzo harus rela Vanya berangkat sendiri. Kenzo sudah membelikan mobil dan motor yang bisa Vanya gunakan untuk aktivitasnya. Namun, Vanya lebih nyaman pakai motor. Lebih mudah dalam tikung menikung, asal bukan menikung perasaan. 🤭


Vanya mampir dulu ke eSTe sebelum berangkat ke kampus. Dia memarkirkan motornya di samping bangunan utama eSTe. Vanya segera masuk untuk menemui mbak Erika. Kebetulan sekali hari itu mbak Erika sedang ada di toko.


Tok tok tok. Vanya mengetuk pintu ruang kerja mbak Erika.


Sebuah suara mempersilahkan Vanya masuk. Vanya segera membuka pintu tersebut dan berjalan memasuki ruang kerja sang pemilik toko.


"Eh, Van. Selamat pagi." Sapa mbak Erika.


"Selamat pagi Mbak. Maaf lama banget aku ijinnya. Hehehe." Jawab Vanya.


"Nggak apa-apa. Duduk Van." Kata mbak Erika. Dia saat ini juga sedang duduk di kursi kerjanya sambil memeriksa beberapa laporan keuangan. "Ada apa? Apa ini ada kaitannya dengan kemarin?" Tanya mbak Erika sambil tersenyum.


Vanya yang melihat senyuman mbak Erika merasa tidak enak hati untuk menyampaikan statusnya. Namun, bagaimana pun juga dia harus segera mengatakan yang sebenarnya kepada mbak Erika. Dia tidak ingin terjadi kesalah pahaman nanti dikemudian hari.


"Ehm begini mbak. Bukan maksud saya untuk menolak ataupun tidak menghargai maksud mbak Erika kemarin. Tapi, saya benar-benar tidak bisa menerima niat baik mbak ataupun Rasha. Saya mohon maaf untuk itu." Kata Vanya.


"Tapi kenapa Van? Kamu sudah punya pacar?" Tanya mbak Erika.


Vanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tidak mbak. Saya tidak punya pacar. Tapi saya sudah punya suami. Saya sudah menikah mbak." Jawab Vanya sambil menunjukkan cincin nikahnya.


Mbak Erika begitu terkejut saat mendengarnya. Dia seolah tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan Vanya.


"Kamu tidak bercanda kan Van?" Tanya mbak Erika seolh masih tidak percaya.


"Tidak mbak. Saya tidak bercanda. Saya memang sudah menikah. Saya menikah tiga hari yang lalu. Itu sebabnya saja ijin tidak bekerja. Saya juga minta maaf tidak mengundang mbak Erika dan anak-anak. Acaranya sangat sederhana mbak. Tidak banyak tamu undangan juga." Kata Vanya.


Mbak Erika mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Dia masih berusaha menerima berita Vanya sudah menikah.


"Kamu menikah dengan siapa Van? Apa dia teman kuliah kamu?" Tanya mbak Erika.


"Kenzo Julian mbak. Dan dia bukan teman kuliahku." Jawab Vanya sambil tersenyum.


"Siapa? Kenzo Julian, sepertinya aku pernah mendengar nama itu."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Nyicil dulu ya 🤗