
Sementara di Malang, hari ini adalah hari terakhir Revina dan Bian berada di sana. Hari itu juga merupakan hari pertama bagi Revina setelah benar-benar menjadi 'istri Bian yang sesungguhnya'.
Udara di luar yang masih berkabut menyisakan udara dingin hingga menusuk tulang. Bahkan, Revina yang masih bergelung di dalam selimut tebal pun bisa merasakan udara dingin di luar sana. Bian yang baru saja masuk kembali ke dalam kamar tidur hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Revina.
"Kenapa tidur lagi?" Tanya Bian sambil duduk di tepi tempat tidur. Dia menghampiri Revina yang kembali bergelung di dalam selimut setelah tadi subuh mengganti selimut dan sprei tempat tidur mereka.
"Dingin, Mas. Lagipula, aku nggak bisa jalan. Nggak nyaman sekali buat jalan, Mas." Kata Revina sambil menatap sang suami.
Bian merasa bersalah kepada Revina. Dia merasa tidak enak hingga membuat Revina seperti itu.
"Ehm, aku minta maaf. Jika tahu akan seperti ini jadinya, aku pasti akan menghentikannya."
"Jangaann!" Teriak Revina.
"Eh, kenapa?" Tanya Bian bingung.
"Jika tidak melakukannya, aku pasti belum merasakan pentungan pos ronda ini, Mas." Kata Revina sambil menyentuh sesuatu yang reader pikirkan.
"Sshhhh, Deekk. Jangan mulai lagi. Aku harus meeting online dengan pak Kaero." Jawab Bian sambil menahan tangan Revina. Bukan dia tidak mau, tapi atasannya sudah menunggunya untuk membahas masalah pekerjaan.
Revina mengerucutkan bibirnya setelah mendengar perkataan Bian. Sebenarnya, dia sudah mengetahui jika sang suami ada meeting online dengan atasannya. Namun, entah mengapa dia masih saja tidak rela.
"Baiklah. Cepat pergi dan segera selesaikan rapat online nya. Masa iya liburan juga masih kerja, Mas."
"Maaf, Dek. Jika bukan karena ini penting, pak Kaero juga tidak akan mau melakukannya. Dia pasti akan lebih memilih mendekam di dalam kamar bersama istrinya. Apalagi, cuaca mendukung seperti ini."
Revina mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bisa melihat atasan suaminya itu adalah orang yang sangat gesrek. Jika pekerjaan ini tidak cukup penting, pasti dia akan memilih mendekam di dalam kamar dari pada bekerja.
Setelah mendapat izin dari Revina, Bian segera pergi ke villa Kaero yang berada di samping villa yang kini ditempatinya. Sementara Revina, dia segera beranjak ke kamar mandi pelan-pelan. Rasa nyeri di bawah sana masih cukup terasa saat dia berjalan.
Cukup lama Revina berada di dalam kamar mandi. Hingga tak terasa perutnya sudah mulai memberontak karena lapar. Revina segera keluar dan menoleh menatap jam dinding yang berada di atas nakas tempat tidurnya. Pukul delapan pagi. Ternyata, hampir satu jam Revina berada di dalam kamar mandi.
Revina segera beranjak menuju dapur. Revina begitu terkejut saat melihat Keyya, istri Kaero berada di ruang makan sambil menata sarapan. Kening Revina berkerut setelah melihatnya.
"Selamat pagi, Bu. Apa yang anda lakukan di sini?" Tanya Revina. Dia beranjak menuju meja makan untuk menghampiri Keyya.
"Kata Bian, kamu belum sarapan. Jadi, aku kesini untuk membawakan sarapan untukmu. Ayo sarapan sini. Aku masak lumayan banyak hari ini." Kata Keyya. Dia menarik lengan Revina agar duduk di salah satu kursi di meja makan tersebut.
"Eh, Bu Keyya tidak usah repot-repot. Saya bisa menyiapkan sarapan sendiri, kok."
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti kok." Jawab Keyya sambil mengedipkan matanya untuk menggoda Revina.
"Eh, mengerti? Maksudnya?"
"Kamu pasti malas untuk ngapa-ngapain di pagi pertama seperti ini. Aku dulu pun lernah mengalaminya." Jawab Keyya sambil tersenyum.
Sontak saja Revina merasa malu. Dia tidak menyangka jika Keyya bisa mengetahui apa yang baru dialamainya.
"Ba-bagaimana bu Keyya mengetahuinya?" Tanya Revina malu-malu.
"Dari cara kamu berjalan. Hehehe. Kamu seperti menahan nyeri. Dan, itu leher kamu sudah seperti macan tutul." Jawab Keyya sambil tersenyum
Revina langsung menutup lehernya dengan kedua tangannya. Dia benar-benar lupa dengan stempel alami buatan suaminya. Revina benar-benar malu. Keyya yang melihat tingkah Revina hanya bisa tersenyum.
"Sudah, nggak usah malu begitu. Aku juga pernah mengalaminya. Sekarang, sarapan dulu. Nanti aku kasih tips untuk membuat suami kamu tak berkutik di atas ranjang." Kata Keyya sambil mengambilkan nasi untuk Revina.
"Benarkah? Sekarang saja, Bu."
"Eh,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon tinggalkan jejak buat othor ya.