
Adrian tidak menanggapi pertanyaan Kinan. Dia langsung sibuk menyantap makan malam tersebut. Kinan yang tidak mendapati jawaban dari Adrian, hanya bisa pasrah sambil mencebikkan bibir. Setelahnya, dia ikut mengambil makanan untuk mengganjal perut.
Tak ada obrolan yang terjadi selama menyantap makan malam tersebut. Baik Kinan maupun Adrian, sama-sama menikmati makan malam tersebut.
Adrian yang kebetulan sangat suka masakan pedas, langsung merasakan kebahagiaan saat mendapati makanan yang sangat pas di lidahnya. Bahkan, menu ikan rica-rica pedas buatan Kinan, langsung dimonopoli nya sendiri hingga tandas.
Kinan dapat apa? Dia hanya dapat ayam goreng yang kebetulan ada di lemari pendinginnya dan juga sudah digorengnya tadi.
Meskipun begitu, Kinan cukup senang ada yang suka dengan masakannya. Dia jadi tidak terlalu insecure dengan hasil olahan masakannya.
"Mau nambah, Om?" tawar Kinan.
Adrian menoleh ke arah Kinan sekilas, kemudian kembali lagi menatap piring-piring yang hampir kosong tersebut.
"Kamu nawarin tambah makanan, tapi sudah nggak ada apa-apa disini?" tanya Adrian.
"Cckkk. Aku kan hanya basa-basi, Om. Tentu saja sudah habis semuanya. Siapa yang langsung habisin tadi, coba?" Kinan mengerucutkan bibirnya.
"Hehehe, maaf. Aku benar-benar lapar." Adrian sempat tersenyum sambil mengusap bibirnya dengan tisu.
Kinan langsung berdiri sambil merapikan piring-piring yang kotor untuk dibawa kembali ke dapur. Melihat hal itu, Adrian langsung beranjak berdiri.
"Aku bantu," ucap Adrian ikut merapikan piring-piring tersebut dengan menumpuknya.
"Tidak usah, Om. Tunggu di depan saja. Piringnya juga nggak banyak." Kinan melarang Adrian saat hendak mengangkat piring-piring tersebut.
Adrian menatap Kinan sebentar sebelum mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia beranjak menuju ruang tamu tempat dimana barang-barang titipan sang mama berada.
Tak butuh waktu lama, Kinan sudah selesai mencuci semua peralatan makan tersebut. Setelah itu, dia mengambil potongan buah dan menuangkan minuman untuk Adrian.
Kinan membawa minuman dan buah tersebut ke depan dan memberikannya kepada Adrian.
"Minum dan buahnya, Om." Tawar Kinan saat sudah meletakkan minuman dan buah di depan Adrian.
"Terima kasih," ucap Adrian sambil mengambil minuman.
Kinan menoleh ke arah paper bag yang berada di sampingnya. Dia dibuat penasaran dengan isi dari semua barang yang baru saja dibawa oleh Adrian tersebut.
Rupanya, Adrian bisa melihat jika Kinan cukup penasaran. Dia segera meminta Kinan untuk membukanya.
"Sebaiknya, kamu buka dulu semuanya," ucap Adrian.
Kinan langsung menoleh ke arah Adrian. Dari ekspresi Kinan, sangat terlihat sekali dia sedang pebasaran sekaligus bingung.
"Ini semua dari mama Om?"
"Iya."
"Untukku semua?"
"Hhmmm."
"Dalam rangka apa?"
"Kalau untuk itu, aku tidak tahu. Kamu bisa tanya sendiri nanti."
"Tapi, Om, ini banyak sekali. Dan, aku yakin harganya juga pasti tidak murah, kan?"
"Memang," gumam Adrian tapi masih bisa didengar oleh Kinan.
Kinan langsung menoleh saat mendengar jawaban Adrian.
"Jadi benar kan, harga barang-barang ini tidak murah? Kenapa harus beli yang mahal-mahal sih, Om?"
"Untuk calon menantu masa harus murahan."
"Hhee?"
\=\=\=
Othor mau nitip spoiler cerita baru ya, judulnya "Tetangga Kamar"
Bagi yang belum mampir, hayuk lah cuss kepoin. Yang sudah hafal dengan gaya cerita othor, pasti nggak kaget 🤭
Menjelang tidur, Rainer meminta bantuan Nayra untuk mengoleskan obat pemberian Dokter Sandy tadi pagi. Mau tidak mau, Nayra menuruti permintaan Rainer agar lukanya tersebut bisa segera sembuh. Dan, dia juga bisa segera pulang.
"Ini bajunya nyangkut, Pak. Bagaimana?" Nayra protes saat baju yang dipakai Rainer tidak bisa diturunkan.
"Masa nggak bisa?"
"Nggak bisa, Pak. Lagian, kenapa harus pakai kaos, sih? Mau tidur itu harusnya pakai baju tidur, bukannya pakai kaos begini. Lagian ya, biasanya laki-laki itu lebih suka polosan dari pada pakai baju saat tidur, deh." Nayra masih mengomentari pakaian yang dipakai oleh Rainer.
Mendengar ucapan Nayra, sontak saja Rainer merasa kesal.
"Aku memakai baju karena tidak ingin membuat kamu tergoda. Bisa saja kan kamu tiba-tiba masuk ke dalam kamarku dan melihat tubuhku polosan?"
Kedua bola mata dan mulut Nayra membulat dengan sempurna. Dia benar-benar tidak menyangka jika mulut Rainer benar-benar lemes.
"Astaga, Pak. Mana mungkin aku tergoda dengan tubuh Anda. Saya sudah sering melihat tubuh Anda. Dan, saya sama sekali tidak tergoda. Tubuh Anda tidak ada menarik-menariknya sama sekali," jawab Nayra sambil mendengus kesal.
Tentu saja ucapan Nayra tersebut berhasil membuat harga diri Rainer tercoreng. Dia yang biasanya digilai oleh banyak wanita, kini justru ada wanita yang tidak tergoda oleh tubuhnya. Apalagi, wanita itu adalah sekretaris pribadinya
Rainer hendak protes, namun Nayra buru-buru mencegahnya.
"Ini mau dilanjut apa tidak, Pak? Jika tidak, saya mau istirahat. Capek."
Mau tidak mau, Rainer hanya bisa menuruti ucapan Nayra. Meski dalam hati dia mengumpat kesal, Rainer tetap menuruti apa yang Nayra perintahkan.
Dengan perlahan, Nayra mengoleskan obat oles tersebut pada bahu belakang Rainer. Tentu saja Nayra mengoleskannya langsung dengan tangannya tanpa sarung tangan. Sensasi dingin langsung menyerap pada kulit punggung Rainer. Rasa nyaman juga langsung dirasakan olehnya.
Hingga gerakan tangan Nayra, berpindah pada tengkuk Rainer. Dan parahnya, daerah itu adalah daerah sensitif bagi Rainer. Entah mengapa dia benar-benar sensitif di bagian leher, apalagi di bagian leher di atas bahu, tepatnya di bawah telinga.
Tanpa sadar, Rainer mengeluarkan sebuah suara 'horor' yang membuat Nayra langsung kaget.