
Adrian langsung mengerutkan kening setelah mendengar ucapan sang istri. Dia hanya bisa menggelengkan kepala sambil kembali menjelajah leher sang istri.
"Untuk hal seperti ini, tidak ada kata menyesal di kamusku. Mau kita melakukannya di ruang tamu, di dalam kamar, di dapur, maupun di kamar mandi, aku tetap akan menurutinya," ucap Adrian sambil kembali melancarkan aksinya.
"Hhmmmm, di da-dapur? Ka-kamar mandi? Hhmmm, sepertinya boleh juga." Kinan sudah mulai berpikiran yang aneh-aneh. Entah mengapa otaknya sudah berkelana pada adegan film yang pernah di tontonnya.
Adrian yang mendengar ucapan Kinan, semakin bersemangat. Entah mengapa dia semakin ikut terbakar saat membayangkan adegan apa yang akan mereka lakukan di bagian-bagian rumah nanti.
Malam itu, dengan diiringi hujan yang masih turun dengan derasnya serta lampu yang masih belum menyala, Kinan dan Adrian lagi-lagi mereguk kenikmataan yang sama-sama baru pertama kali mereka rasakan.
Bahkan, menjelang pukul satu dini hari, Adrian kembali mengganggu Kinan yang sempat terlelap setelah ronde yang entah keberapa mereka lakukan. Mau tidak mau, Kinan menuruti keinginan sang suami. Dia masih belum menyadari jika tubuhnya pasti akan terasa remuk keesokan harinya.
Keesokan pagi, Kinan dan Adrian kembali menambah ronde pertarungan setelah melaksanakan kewajiban subuh mereka. Awalnya, Kinan hanya menggoda Adrian yang hendak merebahkan diri di kasur sempit miliknya. Namun ternyata, Adrian tidak bisa menolak godaan Kinan pagi itu. Lagi-lagi, mereka berdua larut dalam olahraga subuh bersama.
Menjelang pukul 06.30, Adrian membuka mata. Dia merasakan tangan kirinya terasa kebas. Adrian menoleh ke samping dan mendapati sang istri masih terlelap dengan berbantal lengannya. Melihat hal itu, Adrian mengulas senyuman puas.
Dengan pelan, Adrian memindahkan kepala Kinan ke atas bantal yang baru saja diambilnya. Setelah itu, Adrian segera beranjak menuju kamar mandi. Namun, sebelumnya, dia meraih celana yang dilemparkannya sembarangan tadi.
Adrian meregangkan tubuhnya sebentar sebelum beranjak ke kamar mandi. Dia sempat menoleh saat mendengar gumaman Kinan yang rupanya tengah terusik karena gerakannya tadi.
Tak butuh waktu lama, Adrian sudah menyelesaikan aktivitas paginya. Dia segera mengambil ponsel untuk memesan sarapan mereka. Beruntung Adrian melihat nomor ponsel penjual bubur keliling yang ditulis Kinan pada sebuah catatan di samping kulkas. Di sana ada nomor ponsel para pedagang yang biasanya lewat di depan rumahnya. Mulai dari penjual bubur, penjual bakso, penjual sate, bahkan penjual kerupuk sambal pun ada.
Setelah memesan bubur, Adrian segera beranjak menuju kamar Kinan. Dia berniat untuk membangunkan sang istri. Namun, setelah membuka pintu kamar, Adrian tidak menemukan keberadaan Kinan.
Adrian memutuskan menunggu pesanan bubur di teras depan. Tak sampai sepuluh menit kemudian, pesanan bubur Adrian sudah datang. Dia segera membayar dan membawa bubur pesanannya menuju ruang makan. Saat itu, bertepatan dengan Kinan yang juga keluar dari kamarnya.
Kinan sudah berganti pakaian dengan baju rumahan. Bahkan, rambut Kinan juga masih dibalut dengan handuk.
Kedua pasang netra mereka bertemu. Entah mengapa hal itu membuat pasangan absurd tersebut merasa canggung. Padahal, saat di dalam kamar mereka tidak ada canggung-canggungnya sama sekali.
"Ehm, apa itu, Mas? Sarapan?" tanya Kinan sambil menatap bungkusan yang masih dibawa Adrian.
"Eh, ini? Iya. Bubur buat sarapan kita." Adrian menjawab sambil meletakkan bungkusan bubur di atas meja makan.
"Waahh, baik banget suamiku. Tau saja amunisi yang pas buat isi tenaga istrinya. Nanti aku kasih hadiah deh, Mas." Kinan langsung tersenyum cerah sambil menggeser kursi makan.
Ucapan Kinan tentu saja membuat Adrian kaget. Dia bersusah payah menelan salivanya yang terasa tercekat.
"Ehheemmm. Ha-hadiah apa memangnya?"
"Lapis lempit."
Glek.