
Sementara di Jakarta, siang itu El dan Fara tengah rebahan di atas kursi panjang yang berada di balkon kamar mereka. Daddy Kenzo dan mommy Vanya sedang pergi untuk menghadiri acara halal bihalal.
"Mas, kok bisa kak Revina dan pak Bian menikah secepat itu. Apa mereka sudah saling mengenal lama? Atau sudah pacaran lama sebelumnya?" Tanya Fara sambil bersandar pada dada bidang sang suami.
"Aku nggak tau, Yang. Kamu tahu sendiri aku juga nggak pernah komunikasi dengan Fara." Jawab El sambil mengusap lembut rambut sang istri. Sesekali El mendaratkan kecupan-kecupan kecil pada pucuk kepala Fara.
"Hhhmmm, aku hanya berharap, kak Revina dan pak Bian bisa saling membuka hati nanti."
El menghentikan usapan tangannya pada rambut Fara. Dia mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Fara.
"Maksudnya apa? Menurut kamu, pak Bian tidak menyukai Revina?" Tanya El.
"Bukan begitu, Mas. Hanya saja, aku melihatnya saat ini pak Bian belum membuka hati untuk kak Revina. Dari tatapan matanya saja, dia terlihat biasa saja. Berbeda dengan kak Revina. Kak Revina terlihat jelas sekali jika dia menyukai pak Bian."
"Benarkah? Kenapa kamu jadi sedetail itu memperhatikan orang?" Tanya El.
"Bukan menyengaja untuk memperhatikan, Mas. Hanya saja, aku bisa melihat dari tatapan mata kak Revina. Terlihat jelas sekali meskipun hanya sekilas aku memperhatikannya. Aku hanya berharap, kalaupun pak Bian belum membuka hatinya untuk kak Revina, semoga kak Revina bisa segera membuat pak Bian membuka hati untuknya." Kat Fara.
El mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun dia tidak dapat melihat apa-apa dari sikap Revina dan Bian, dia berharap apa yang dikatakan oleh sang istri tersebut benar.
"Sayang, mommy dan daddy kan sudah berangkat. Kita bisa berangkat juga dong?" Kata El sambil memberikan beberapa kecupan di pucuk kepala sang istri.
Fara pun mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang suami. Keningnya sedikit berkerut saat mendengar perkataan sang suami.
"Berangkat kemana, Mas?" Tanya Fara.
"Ke surga dunia." Kata El sambil meraup Fara ke dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam kamar tidur mereka.
"Maasss!"
Sementara di sebuah villa di Malang, Bian yang membelakangi Revina tidak menyadari jika sang istri sudah berjalan mendekat ke arahnya.
Grep.
Revina langsung memeluk tubuh Bian dari belakang. Bian yang mendapati tindakan Revina yang tiba-tiba langsung tersentak kaget. Apalagi, dia merasakan sesuatu yang kenyal-kenyal seperti jelly yang menempel ketat pada punggungnya.
"Ehmm, a-apa yang kamu lakukan, Dek?" Tanya Bian gugup. Pasalnya, seluruh tubuhnya langsung menegang saat mendapati tindakan tiba-tiba dari Revina.
"Aku hanya berusaha untuk membuat pernikahan ini seperti pernikahan yang lainnya, Mas." Jawab Revina.
Dia semakin mengeratkan pelukannya. Dan yang lebih pasah lagi, Revina justru menggerak-gerakkan tubuhnya hingga bagian depan tubuhnya bergesekan dengan punggung Bian. Tangan nakalnya yang semula berada di dada bidan Bian, kini terasa membelai dada bidang laki-laki tersebut.
Tiiuunggg.
Si perkutut sudah mulai menggeliat dan meronta-ronta untuk berkenalan dengan orang yang telah membangunkannya. Bian hanya bisa mendesis saat menyadari perubahan pada bagian bawah tubuhnya.
Belum selesai dengan hal itu, kedua tangan Revina justru semakin turun kebagian perut Bian. Bian merasa tambah gelisah. Kedua tangannya menangkap tangan Revina yang hampir saja mengenai perkutut yang tengah meronta-ronta.
"Dek, jangan macam-macam." Kata Bian sambil mendesis. Tangan Bian masih mencengkram kedua tangan Revina.
"Aku nggak mau macam-macam, Mas. Aku maunya satu macam, kamu." Jawab Revina sambil menggerak-gerakkan tubuhnya hingga bagian depan d*danya bergesekan dengan punggung Bian.
"Deekk!" Bian kembali mendesis menahan sesuatu yang benar-benar sudah mulai memberontak.
"Mas, mau ya?" Rengek Revina sambil masih tidak menghentikan aktivitasnya.
"Mau apa?"
"Sore pertama."
"Ssshh, mana ada sore pertama, Dek. Yang ada juga malam pertama." Kata Bian yang sudah mulai kehilangan fokus.
"Jika harus menunggu malam aku nggak kuat, Mas. Sudah kedutan ini." Rengek Revina.
"Eh,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Hualah embuh Rev, embuh. Cepet dieksekusi gih.
Jangan lupa kasih vote, like dan komen ya, terima kasih.