The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 99



Dena begitu terkejut saat tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh Rean. Kini, dirinya sudah berdiri di samping tempat tidur dan berada tepat di depan tubuh Rean yang sedang duduk di tepi ranjang.


Dena benar-benar merasa gugup saat tatapan mata Rean seolah menelanjanginya. Ya, memang seperti itu adanya. Meskipun Dena memakai baju, namun baju yang dipakainya tersebut tidak mampu menutupi apapun yang ada di baliknya. 


Bagian dada tersebut terasa seperti menantang dengan model baju tidur yang dikenakan oleh Dena. Melihat hal itu, Rean berkali-kali menelan salivanya dengan susah payah dengan pandangan mata tak berkedip.


"Ma-mas?" Dena tampak merasa risih saat sang suami masih menatapnya dengan tatapan tak berkedip. Bahkan, Dena menyadari jika Rean menelan salivanya berkali-kali.


"Kamu benar-benar berani, Yang. Jangan salahkan aku jika aku tidak bisa menahan diri lagi," ucap Rean dengan suara bergetar.


Sebenarnya, Dena benar-benar sangat gugup malam itu. Namun, mau tidak mau dia harus melakukannya. Dia tidak ingin mengecewakan suaminya.


"Aku justru ingin kamu tidak menahan diri, Mas." Dena mengucapkannya dengan suara yang sangat lembut terdengar pada telinga Rean.


Rean benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Tangannya bergerak untuk menarik tubuh Dena hingga membuatnya jatuh diatas tubuh Rean.


"Masss!" Dena terpekik kaget saat mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari sang suami.


Kedua pasang mata mereka saling mengunci. Tatapan mata Rean langsung tertuju pada bibir ranum sang istri. Dia sudah merasa tidak bisa menahan diri lagi. Secepat kilat Rean menggulingkan tubuh Dena, hingga kini Rean sudah berada di atasnya.


Kedua pasang mata mereka terkunci. Rean benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi. 


"Maaf, aku sudah tidak kuasa menahan lebih lama lagi, Yang." Rean menggeram menahan sesuatu.


Belum sempat Dena menjawab perkataan Rean, bibirnya sudah di*lu*mat oleh bibir Rean. Dena langsung memejamkan mata dan sedikit membuka bibirnya untuk memberi akses sang suami untuk lebih mengeksplornya.


Eehmmmmm, eehhmmmmmm.


Suara peraduan benda kenyal tersebut langsung memenuhi kamar. Kini, Rean bahkan sudah memindahkan wajahnya. Dia sudah mulai menjelajah leher putih sang istri dan mulai melukis di sana. Sontak saja tindakan Rean tersebut membuat Dena langsung mendongak untuk memberikan akses kepada Rean. 


"Ma-maaassss," Dena tak kuasa menahan aktivitas Rean yang sudah mulai berani. Kini, tangan kiri Rean sudah mulai menjamah bagian sensitif Dena.


Tindakan Rean tersebut benar-benar membuat Dena malu. "Ke-kenapa berhenti?" tanya Dena. Dia masih menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi bagian sensitif tubuhnya.


"Aku lepas ya, Yang. Nggak tahan nih," ucap Rean.


Dengan wajah malu-malu, Dena menganggukkan kepala. Melihat persetujuan sang istri, kini Rean langsung beraksi. Dia menarik lengan Dena untuk membuatnya berdiri. Seketika Rean menarik ke bawah baju dinas tersebut hingga terlepas. Kini, terpampanglah tubuh polos Dena di depan Rean.


Tak mau menunggu lebih lama lagi, Rean langsung menyambar bibir Dena masih dalam posisi berdiri. Tangan kanan Rean mengangkat kaki kiri Dena dan menumpangkannya di tepi tempat tidur. Kini, terbukalah jalan ninja eh, jalan bagi Rean untuk mulai berhitung dengan jarinya.


Awalnya, Rean hanya menghitung dengan satu jari. Dena langsung menggelinjang kesana kemari saat Rean menemukan kacang kapri di sana dan mulai memainkannya dengan intens. Bahkan, pagutan kedua bibir tersebut langsung terlepas saat Rean mulai berhitung dengan sangat cepat.


Akhirnya, Dena memekik saat merasakan sesuatu seakan meledak di bagian bawah sana. Rean tanpa ampun masih terus menghitung dengan jarinya. Bahkan, kini dia sudah mulai berhitung dua-dua.


"Auuwwhhh, Maass! Lututku lemas. Aduuhhh, nggak kuat berdiri, Mas." Dena tampak sangat kepayahan karena hanya berdiri dengan satu kaki.


"Mau tiduran?"


"Iyah."


"Tapi aku belum selesai berhitung, Yang. Lanjut lagi, ya."


"Iya, tapi ganti jangan pakai jari, ya."


"Wuaahhh, mau pakai bapak jari yang besar?"


\=\=\=


Ibu jari?


Bapak jari? 🤔