
Sekitar pukul sepuluh pagi, Rean sudah sampai di rumah Cello. Dia langsung disambut oleh mommy Fara. Saat itu, Cello dan Shanum memang masih berada di kampus dan belum pulang.
Setelah makan siang, Rean keluar le halaman samping rumah Cello. Dia membantu pak Mus yang sedang merapikan tanaman yang sudah merambat terlalu tinggi.
Rean mendengar suara mobil Cello berhenti. Dia segera berjalan menghampiri kedua kakaknya tersebut.
"Kak Cello! Kak Shanum!"
Seketika Cello dan Shanum menghentikan langkah kakinya. Mereka menoleh menatap ke arah sumber suara. Bibir mereka langsung menyunggingkan senyuman saat melihat siapa yang telah memanggil mereka.
"Rean?! Kapan kamu datang?" tanya Shanum saat tiba-tiba sang adik memeluknya dengan cukup erat.
"Tadi pagi," jawab Rean sambil melepaskan pelukannya. Kini, dia gantian memeluk sang kakak ipar.
"Sendirian?"
"Enggak, Kak. Sama mama dan juga papa. Tapi, mereka langsung ke kantor setelah dari bandara. Ada acara perkenalan atau apa gitu tadi. Nanti malam mereka mau ke sini, kok." Jawab Rean.
"Benarkah?!" tanya Shanum dengan wajah berbinar bahagia. Sudah lama dia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya. Tentu saja dia sangat kangen dengan mama dan papanya.
"Tentu saja. Ehm, nanti malam aku nginep disini ya, Kak. Ada yang mau aku obrolin dengan kak Cello tentang pilihan kampus." Kata Rean meminta izin kepada Shanum.
"Boleh! Tentu saja boleh. Kamu bisa tidur di sini malam ini." Jawab Cello dengan cepat.
"Boleh. Tapi tidak boleh mengganggu suami Kakak nanti malam. Kedua calon anaknya mau main billiard sama daddynya," kata Shanum.
"Astaga? Masih doyan juga main kodok-kodokan meski sudah sebesar itu kandungannya?!" kata Rean sambil menatap tak percaya ke arah kakaknya tersebut. Meskipun Rean masih muda, namun dia sudah lumayan mengerti tentang hal itu.
Malam itu, Rean benar-benar menginap di rumah Cello. Mama Revina dan juga papa Bian benar-benar datang mengunjunginya malam itu. Seluruh keluarga Shanum dan juga Cello saling berbicara dan mengobrol tentang banyak hal malam itu.
Setelah kedua orang tuanya pulang, Rean mengajak sang kakak ipar mengobrol tentang banyak hal terkait dengan pilihan kampus.
"Jadi aku pilih yang mana, Kak?" Tanya Rean sambil menggeser-geser layar ponselnya. Dia sedang berdiskusi dengan Cello untuk memilih kampus.
Rean hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah sedikit mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang kakak ipar. Setelahnya, mereka kembali berdiskusi hingga tak menyadari jika jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Shanum yang sudah menunggu Cello di dalam kamar pun menjadi kesal. Dia langsung mengambil ponselnya dan hendak menelpon sang suami.
"Hallo, Yang." Sapa Cello begitu panggilan telepon dengan sang istri sudah terhubung.
"Lama sekali sih, Mas. Aku sudah lumutan ini nunggunya. Cepetan ke kamar. Awas saja jika kelamaan," gerutu Shanum sambil langsung mematikan sambungan telepon tersebut tanoa menunggu jawaban dari sang suami.
Cello yang mendengar perkataan Shanum pun hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Hal tersebut tak luput dari perhatian Rean.
"Ada apa, Kak? Kak Shanum sudah menunggu ya?" Tanya Rean.
"Iya. Maaf, ya. Jika keinginan kakak kamu nggak dituruti, bakal nggak tenang nanti. Dia pasti akan ngambek lama sekali."
Rean mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Iya, Kak. Kata mama mood orang hamil itu sering berubah-ubah. Dan ngidamnya juga sering aneh-aneh. Tapi kak Shanum kok nggak ngidam ya?" Kata Rean sambil bergumam.
"Eh, mana ada nggak ngidam. Itu kakak kamu ngidamnya justru ajaib." Jawab Cello sambil menghembuskan napas beratnya.
"Oh ya? Ngidam apa itu, Kak?" Tanya Rean penasaran.
"Hhhh, nanti saja jika kamu sudah menikah." Jawab Cello sambil beranjak berdiri. "Cepat istirahat. Jangan tidur terlalu malam," lanjut Cello sambil menepuk bahu Rean sebelum berjalan menuju kamarnya.
"Iya, Kak."
Rean masih menatap ke arah kakak iparnya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan para laki-laki yang ada di keluarganya. Rean hanya bisa menggelengkan kepalanya.
\=\=\=\=
Bantu dukung cerita ini ya. Sambil nunggu up, bisa mampir di cerita "Mendadak Istri 2" dulu. Terima kasih. 🤗