
Keesokan harinya, Rean langsung pergi ke distro miliknya setelah pulang dari sekolah untuk pengambilan ijazah. Hati Rean benar-benar sakit saat mengetahui surat dan hadiah yang diberikannya untuk sang pujaan hati dikembalikan.
Rean sudah membaca surat balasan yang mengatakan jika si gadis tidak bisa menerima perasaannya karena telah memilih yang lain. Rean masih menatap lembaran surat yang dipegangnya tersebut.
"Seberapapun keras usahanya, jika bukan jodoh pasti akan kabur juga," gumam Rean sambil meletakkan surat tersebut diatas kursi.
Rean langsung menyelonjorkan kakinya di kursi panjang yang ada di ruangannya tersebut. Sebenarnya, ruangan itu lebih tepat jika disebut sebagai ruang istirahat. Distro Rean yang berada di dekat SMAnya tersebut memang tidak terlalu besar. Bangunan yang berukuran 5 x 13 meter tersebut lumayan cukup dan nyaman untuk para pengunjung distro yang kebanyakan berasal dari para anak muda.
Di bagian belakang ada sebuah ruangan yang berukuran 3 x 5 meter yang difungsikan sebagai tempat istirahat bagi Rean dan juga Yudhi, pegawai kepercayaannya. Ya, distro tersebut memang dikelola oleh Yudhi, tetangga Rean yang harus menghidupi ibu dan kedua orang adiknya. Rean dan papa Bian mempekerjakan Yudhi karena mereka sudah mengenalnya sejak kecil.
"Mas, aku tidur sebentar, ya. Nanti agak sorean tolong bangunin. Mau ambil pesanan mama," kata Rean saat melihat Yudhi keluar dari kamar mandi.
"Jadinya kapan berangkat ke Jakarta, Re?"
"Kemungkinan akhir minggu ini."
"Sudah dipastikan ambil kuliah di sana?"
"Iya, Mas. Mama melarangku kuliah di sini," jawab Rean sambil menghembuskan napas beratnya.
"Yah, mungkin karena tinggal kamu anaknya, Re. Kakak kamu kan sudah menikah. Apalagi, suaminya juga anak tunggal kan. Jadi, bisa dipastikan kamu nanti yang akan menemani orang tua kamu."
"Sepertinya begitu, Mas."
Rean memejamkan mata setelahnya. Yudhi yang melihat hal itu segera beranjak menuju depan untuk membiarkan Rean beristirahat. Hingga menjelang sore, Rean sudah bersiap untuk pulang. Dia harus mampir ke tempat jahit baju langganan mama Revina. Rean sudah berjanji untuk mengambilkan pesanan sang mama tersebut.
Malam itu setelah makan malam, Rean langsung melanjutkan aktivitasnya untuk membereskan barang-barang yang akan dibawanya ke Jakarta. Saat hendak memasukkan beberapa buku, Rean melihat sebuah foto yang terselip pada tumpukan buku tersebut.
Sebuah foto yang terdapat gambar dirinya dan seorang gadis berlesung pipi dengan rambut menjuntai sepunggung, membuat Rean sempat merasakan rasa suka terhadapnya.
Sebenarnya, Rean sendiri masih bingung dengan apa yang dirasakannya terhadap gadis tersebut. Dia belum pernah merasakan jatuh cinta. Hanya saja, Rean merasa tidak suka jika melihat gadis tersebut dekat dengan laki-laki lain.
Rean sempat memikirkan apa yang dikatakan oleh Yudhi saat di distro siang tadi.
"Kalau menurutku sih, itu bukan cinta Re. Mungkin itu hanya rasa yang timbul karena kedekatan kalian dan intensitas bertemu kalian yang lumayan sering. Kalian sama-sama anggota osis dan berada di divisi yang sama. Jadi, waktu kalian bersama jauh lebih banyak. Apalagi, kalian juga satu kelas lagi. Coba rasakan nanti jika sudah berada di Jakarta. Apakah rasa itu tetap sama?" kata Yudhi tadi siang.
Rean merasa jika apa yang dikatakan oleh Yudhi ada benarnya. Setelah ini, dia akan mencoba untuk melupakan Sabina. Jika beruntung, dia bisa mendapatkan pacar orang Jakarta. Begitu kira-kira yang ada di dalam pikiran Rean.
Beberapa hari kemudian, hari yang ditunggu-tunggu oleh Rean dan keluarganya tiba. Hari itu, mereka berangkat ke Jakarta satu hari lebih cepat dari jadwal yang sudah direncanakan. Acara kantor papa Bian benar-benar membuat mereka harus segera berangkat hari itu juga ke Jakarta.
Mau tidak mau, Rean mengikuti keinginan orang tuanya. Toh semua barang-barang mereka sudah dikirimkan ke Jakarta sejak beberapa hari yang lalu.
"Re, nanti kamu pulang duluan ya. Papa dan mama langsung ke perusahaan," kata papa Bian sesaat sebelum pesawat yang mereka tumpangi landing.
"Ehm, aku langsung ke tempat kak Shanum saja deh, Pa."
"Baiklah. Nanti malam setelah acara kantor Papa selesai, kami akan langsung mampir ke sana."
"Oke, Pa."
\=\=\=\=
Masih bab-bab awal ya, sabar 🤗