The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 76



"Cckkk. Memang jika Om tau sejak tadi, Om mau apa? Mau menciumiku seperti tadi pagi di depannya?" Kinan berbisik tepat disamping telinga Adrian. Dan, sontak saja hal itu membuat jantung Adrian berdebar-debar. Bukan karena ucapan Kinan, tapi karena lengannya langsung terjepit diantara dua lembah yang tidak sengaja menempel.


Bulu kuduk Adrian mendadak meremang. Matanya refleks langsung melirik ke 'pelaku' yang membuat hatinya ketar ketir.


Siialan! Kenapa jadi begini rasanya, batin Adrian sambil mengumpat. 


Kinan yang tidak sadar dengan efek yang dilakukannya terhadap Adrian, kini langsung melenggang menuju meja tamu untuk mengisi daftar hadir. Mau tidak mau, Adrian mengekori Kinan dan berdiri di belakangnya.


Setelah selesai mengisi daftar hadir tamu dan menitipkan kado, Kinan langsung menarik lengan Adrian untuk memasuki gedung pernikahan tersebut.


"Ayo, Mas."


"Hhmm." 


Kinan langsung menggandeng lengan Adrian dan mereka berdua berjalan memasuki gedung resepsi pernikahan tersebut. Kinan sungguh takjub melihat keindahan dekorasi pernikahan rekannya tersebut. 


"Waahh, nggak menyangka Miss Adhia akan menggelar pesta resepsi pernikahannya semewah ini," gumam Kinan yang masih bisa didengar oleh Adrian.


Adrian menoleh untuk menatap wajah Kinan yang terlihat berbinar kagum.


"Kamu suka?" tanya Adrian.


"Suka. Tapi, aku pribadi lebih suka pesta outdoor, sih. Dengan bunga-bunga asli dan semuanya serba putih. Hhhmmm, sepertinya akan sangat sakral." Kinan langsung mulai membayangkan pesta pernikahan impiannya.


Adrian yang saat itu sedang menoleh ke arah Kinan, langsung mengerutkan kening. Dia bisa melihat wajah berbinar bahagia Kinan.


Kinan dan Adrian langsung berjalan menuju pelaminan. Ya, mereka ingin mengucapkan selamat kepada mempelai berdua. Dengan penuh semangat, Kinan mencengkram erat lengan Adrian seolah tidak ingin lengan tersebut terlepas.


Lagi-lagi, saat mereka sedang menunggu giliran, ada yang kembali memanggil Kinan. Kali ini, adalah orang yang cukup dekat dengan Kinan di kampus.


"Miss Kinan?"


Kinan langsung menoleh ke arah seorang wanita yang berada di sebelah Adrian. Ya, dia adalah salah satu dosen di kampus Kinan, Bu Fitri, atau lebih sering dipanggil Bu Pipit. Bu Pipit tidak mengikuti seminar seperti Kinan. Beliau dan suami langsung datang dari Jakarta.


Adrian sedikit bergeser untuk memberikan ruang kepada Kinan dan temannya mengobrol. Setelah acara cipika cipiki, Bu Pipit tampak melirik ke arah Adrian yang kebetulan saat itu memakai outfit yang sama dengan Kinan.


"Ehm, siapa ini, Miss?" tanya Bu Pipit sambil mengulas senyuman menggoda.


Belum sempat Kinan menjawab, tiba-tiba Adrian mengulurkan tangan ke arah Bu Pipit untuk memperkenalkan diri. Dan, jangan lupakan tangan kiri Adrian yang langsung melingkar pada pinggang ramping Kinan.


"Saya Adrian. Calon suami Kinan."


Duaaarrrr.


Kinan langsung terkejut. Dari kemarin pacar, sekarang sudah naik lagi statusnya jadi calon suami. Apakah nanti jika ada kesempatan lagi, Adrian akan memperkenalkan diri menjadi calon ayah dari anak-anak Kinan? Entahlah.


Kinan langsung menoleh ke arah Adrian dan Bu Pipit bergantian. Setelah bersalaman, Bu Pipit langsung kembali menoleh ke arah Kinan dnegan senyum mengembang.


"Saya berharap pernikahan Miss Kinan dan Pak Adrian akan segera menyusul." Bu Pipit menepuk-nepuk punggung tangan Kinan dengan antusias.


"Eh, i-iya, Bu. Doakan." Kinan berusaha tersenyum sambil membalas tepukan tangan Bu Pipit.


Setelahnya, Bu Pipit berpamitan karena dia sudah selesai. Sementara itu, Kinan langsung menoleh ke arah Adrian dan berbisik. Posisi tubuh mereka yang menempel erat, membuat keduanya terlihat seperti sedang berpelukan. Apalagi, tangan Adrian yang tidak lepas dari pinggang Kinan.


"Apa maksudnya itu tadi? Calon suami?" bisik Kinan.


"Kalau mau akting, harus totalitas, dong."


"Jadi itu hanya pura-pura?" Kinan menatap kedua mata Adrian dengan tatapan tajam.


"Kamu mau beneran?"


\=\=\=


Hayo, dijawab apa nih sama Kinan?