
"Aku tidak mau mati. Aku ingin jadi istri keduamu."
Bian benar-benar terkejut mendengar perkataan Nova. Ya, orang baru saja melakukan aksi nekatnya tadi adalah Nova. Bian langsung menggertakkan giginya dengan tangan terkepal. Dia benar-benar sudah tidak bisa bersabar lagi.
"Apa kamu sudah g*la, hah?!" Bentak Bian. Dia benar-benar berusaha untuk mengendalikan emosinya. Jika orang yang berada di depannya tersebut adalah laki-laki, bisa dipastikan Bian akan langsung menghajarnya.
"Iya, memang benar aku sudah g*la. Aku seperti ini karena kamu!" Kata Nova tak kalah kerasnya. Bahkan, perdebatan keduanya sempat mendapat tatapan tajam dari beberapa orang yang melewati mereka.
"Aku nggak ada urusan dengan kamu. Jauhi aku dan istriku. Aku tidak akan tinggal diam lagi jika kamu membuat ulah. Minggir!" Bentak Bian. Dia sudah tidak peduli lagi dengan siapa dia berbicara. Yang ada dipikiran Bian saat itu, dia harus segera pergi dari sana agar emosinya bisa segera reda.
Namun, saat Bian berbalik dan hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba Nova berlari ke arah Bian dan memeluknya dari belakang.
Grep.
Bian sempat terkejut dengan tindakan Nova yang tiba-tiba tersebut.
"Apa-apaan ini. Lepas!" Bentak Bian sambil melepaskan pelukan Nova dengan kasar. "Jangan pernah berani menyentuhku!" Kata Bian dengan wajah menahan amarah.
"Kenapa kamu tidak pernah melihatku? Apa yang kurang dariku?" Tanya Nova sambil memegang lengan Bian tiba-tiba.
Belum sempat Bian menjawab pertanyaan Nova, terdengar sebuah suara dari belakang mereka.
"Kamu kurang waras! Seharusnya nyadar diri jika sudah ditolak. Itu berarti ada yang nggak beres dengan dirimu."
Seketika Bian dan Nova berbalik untuk melihat siapa yang baru datang. Meskipun Bian tahu suara siapa itu, namun dia tetap terkejut saat melihat sang istri berada di sana. Ya, orang yang baru saja datang adalah Revina.
"Dek?" Sapa Bian sambil menghempaskan tangan Nova yang masih bertengger di lengannya. Bian berjalan menghampiri sang istri yang tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan. "Kenapa kamu ada disini?" Tanya Bian.
"Aku nggak sengaja lewat mau ke minimarket, Mas. Tapi malah ketemu kamu lagi digodain sama ngket-ngket ini. Coba mana tadi yang di sentuhnya? Awas nanti biduran jika tidak dibersihkan segera." Kata Revina sambil mengamati tubuh sang suami.
Nova yang mendengar perkataan Revina hanya bisa menggertakkan giginya. Pasalnya, dia sudah merasa gagal menggoda Bian hari itu.
"Kamu kira aku ulat bulu?!"
"Emang iya." Jawab Revina sambil mencebikkan bibirnya.
Belum sempat Nova menjawab perkataan Revina, Bian sudah menarik sang istri untuk masuk ke dalam mobilnya. Dia merasa malas untuk berlama-lama di sana.
"Eh, mau kemana, Mas? Bukannya kamu mau kerja?" Tanya Revina.
"Iya. Aku antar ke minimarket dulu." Kata Bian sambil masih menarik lengan sang istri.
Revina yang merasa jika Nova masih mengamati mereka pun menghentikan tubuhnya sebelum masuk ke dalam mobil sang suami. Dia menoleh menatap ke arah Nova.
"Mbak nya nggak usah kesal seperti itu. Mau kesal seperti apapun hanya buang-buang waktu dan tenaga. Mau berusaha sekuat tenaga untuk merebut mas Bian pun percuma. Mbak nya nggak akan bisa melakukannya." Kata Revina sambil tak kalah tajam menatap Nova. Tanpa menunggu jawaban dari Nova, Revina segera masuk ke dalam mobil menyusul Bian.
Bian langsung menoleh menatap Revina begitu mobil yang dikemudikannya sudah berjalan. Revina yang menyadari jika sang suami tengah memperhatikannya pun menoleh.
"Ada apa, Mas?"
"Eh, nggak ada apa-apa."
"Yakin nggak ada apa-apa?" Tanya Revina sambil membalik tubuhnya hingga kini menghadap Bian.
"Hhmm." Gumam Bian sebagai jawaban. Namun, kedua bola matanya masih melirik Revina diam-diam.
"Mau balik lagi ke rumah?"
"Eh, kenapa harus balik lagi? Ada yang ketinggalan?"
"Nggak ada. Ya, siapa tau kamu mau nambah nitip benih, Mas."
"Eh,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf kemarin tidak sempat up. 🙏
Jika berkenan jangan lupa kasih vote, like dan komen buat othor. Terima kasih.