
Brukkk.
Suara benturan punggung Adrian dengan mini bar langsung terdengar. Hingga beberapa saat kemudian, suara hening terjadi. Namun, setelah Kinan menyadari ada sesuatu yang mengerat di dadanya, sontak saja jantungnya berhenti berdetak. Beberapa saat kemudian, terdengar teriakan.
"Aarrgghhh! Eemppphhh."
Kinan yang saat itu refleks berteriak, langsung dibungkam mulutnya oleh Adrian. Secepat kilat Adrian menarik tubuh Kinan dan membuatnya berdiri. Setelah itu, dia sendiri ikut berdiri sambil berpegangan pada mini bar di belakangnya.
Kinan langsung berbalik dan menatap tajam ke arah Adrian. Ekspresi wajahnya benar-benar menunjukkan amarah, kesal, dan tidak suka. Dia juga langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa yang Om lakukan?! Om mau macam-macam dengan saya? Perlu saya teriak biar satu komplek dengar semua, iya?" Kinan masih menatap nyalang ke arah Adrian.
Mendapati pertanyaan Kinan, Adrian hanya bisa menepuk-nepuk bajunya yang kotor dan balik menatap datar. Dia menaikkan alis sambil menatap balik ke arah Kinan.
"Apa? Memangnya kamu mau teriak karena apa?" Adrian menantang Kinan.
"Tentu saja karena kamu sudah memegang dan mereemass iniku." Kinan masih gusah sambil merapatkan kedua tangannya.
Tatapan mata Adrian langsung turun ke arah yang dimaksud oleh Kinan. Melihat arah tatapan Adrian, sontak saja Kinan semakin kesal.
Astaga, itu tadi kenapa bisa kenyal begitu. Tanganku sampai tidak cukup tadi, batin Adrian sambil mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya dan menggelengkan kepala dengan cepat.
Belum sempat dia menjawab ucapan Kinan, tercium bau gosong dari atas kompor. Rupanya, bakwan yang tengah digoreng Kinan tersebut gosong. Alhasil Kinan langsung berbalik dan segera mematikan kompor yang masih menyala tersebut.
Kinan hanya bisa mendesahkan napas berat sambil mengangkat bakwan yang gosong tersebut dari penggorengan. Adrian yang melihat hal itu, langsung berjalan mendekat.
"Gosong?" tanya Adrian tanpa rasa bersalah.
"Memang salah siapa? Aku bahkan tidak melakukan apapun terhadap masakanmu."
Kinan memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Jika Om tidak mengagetkanku, masakanku tidak akan gosong seperti ini."
"Cckkk. Itu bukan salahku. Salah kamu sendiri yang membiarkan masakan tanpa dibalik." Adrian melenggang tanpa dosa keluar dari dapur.
Kinan yang melihat hal itu lagi-lagi merasa gondok.
"Sebenarnya, apa maksud orang itu? Seenaknya saja dia datang kemari lebih awal dan mengganggu acara memasakku." Kinan langsung menggerutu kesal.
Selanjutnya, Kinan kembali melanjutkan aktivitas memasaknya yang sempat terhenti. Dia membiarkan Adrian di depan tanpa ditemani. Hingga tak kurang dari dua puluh menit kemudian, bakwan dan masakan Kinan yang lain sudah selesai. Dia segera membawa makanan tersebut di atas meja makan.
Setelah semua siap, Kinan tidak menemukan keberadaan Adrian di ruang makan. Kinan berpikir, jika Adrian ada di ruang tamu. Tanpa memperdulikan Adrian lagi, Kinan segera beranjak menuju kamar untuk membersihkan diri. Dia berniat segera mandi dan bersiap-siap berangkat ke kampus setelah makan siang.
Ya, meskipun jadwal kuliahnya adalah jam terakhir, tapi Kinan lebih memilih untuk berangkat lebih awal karena dia harus memesan taksi. Mobilnya masih berada di bengkel karena peristiwa kemarin.
Ceklek.
Kinan menggeser pintu kamarnya yang memang terbuka sedikit. Dan, saat langkah kaki Kinan memasuki kamar, betapa terkejutnya dia saat melihat Adrian tengah berbaring di atas tempat tidurnya.
"Apa-apaan ini, Om?!'
\=\=\=
Cckkk, ada apalagi ini sih ini?